Kajian pendekatan feminisme prosa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sastra merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta, yang berarti “teks yang mengandung intruksi” atau “pedoman”, dari kata sas yang berarti “intruksi” atau “ajaran”, dan kata tra yang berarti alat atau sarana. Kata sastra dikombinasikan dengan kata su yang berarti baik, Jadi secara leksikal susastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik (Teeuw dalam Ratna, 2005 : 4).
Filsuf Horatius mengungkapkan bahwa sebuah karya sastra haruslah dulce, utile, prodesse et delectare (indah, berguna, manfaat, dan nikmat). Oleh karena itu sastra dikaitkan dengan estetika atau keindahan. Selain pada isinya, lokus keindahan sastra terletak pada bahasa. Dalam sebuah karya sastra, bahasa yang dipakai terasa berbeda dengan bahasa sehari-hari. Untuk memahami karya sastra diperlukan pemahaman tentang ilmu sastra. Ilmu sastra menjelaskan tentang sastra sebagai salah satu disiplin ilmu humaniora yang akan mengantarkan kearah pemahaman dan penikmatan fenomena yang terkandung didalamnya.
Sastra dapat dibahas berdasarkan dua hal, yaitu isi dan bentuk. Dari segi isi, sastra membahas tentang hal yang terkandung didalamnya, sedangkan bentuk sastra membahas cara penyampaiannya. Ditinjau dari segi isinya, sastra merupakan karangan fiksi dan non fiksi. Apabila dikaji dari cara penyampaiannya, sastra dapat dianalisis melalui genre sastra itu sendiri, yaitu puisi, novel dan drama. Karya sastra juga dapat digunakan seorang pengarang untuk menyampaikan pikirannya tentang sesuatu yang ada dalam realitas yang dihadapinya. Realitas ini merupakan salah satu faktor penyebab pengarang menciptakan suatu karya sastra, disamping unsur imajinasi.
Karya sastra terkadang dibuat berdasarkan realita kehidupan yang ada dalam kehidupan sehari-hari seperti masalah sosial, kebudayaan dan bahkan masalah gender. Banyak sastrawan yang mengambil tema perempuan dalam karya sastra mereka dan karya sastra tersebut disebut karya sastra feminis. Karya sastra yang bersifat feminis ini terkadang tidak dapat menempakan posisi perempuan, sehingga melewatkan pemikiran tentang perempuan dalam kehidupan sosial. Hal inilah yang menimbulkan adanya kritik sastra feminisme serta penelitian yang mengaplikasikan teori kritik sastra feminisme. Kritik sastra feminisme muncul untuk mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas,maka rumusan masalah yang akan diangkat adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan kajian feminisme?
2. Apa saja aliran dalam feminisme?
3. Apa saja ragam ragam kritik dalam feminisme?
4. Bagaimana penerapan kritik sastra feminisme?
5. Bagaimana kajian feminisme pada cerpen “Cinta di Atas perahu Bercadik” karya Seno Gumira Aji Darma?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan pengertian kajian feminisme.
2. Mendeskripsikan aliran dalam feminisme.
3. Mendeskripsikan ragam kritik sastra feminisme.
4. Mendeskripsikan penerapan kritik sastra feminisme.
5. Mendeskripsikan kajian feminisme pada cerpen “Cinta di Atas perahu Bercadik” karya Seno Gumira Aji Darma.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian  Kajian Feminisme
Feminisme berasal dari kata Latin femina yang berarti memiliki sifat keperempuan. Feminisme diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki di masyarakat. Akibat persepsi ini, timbul berbagai upaya untuk mengkaji penyebab ketimpangan tersebut untuk mengeliminasi dan menemukan formula penyetaraan hak perempuan dan laki-aki dalam segala bidang sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia (human being).  Feminisme bukanlah hanya perjuangan emansipasi dari kaum perempuan terhadap kaum laki-laki saja, karena mereka juga menyadari bahwa laki-laki khususnya kaum proletar mengalami penderitaan yang diakibatkan oleh dominasi, eksploitasi, dan represi dari sistem yang tidak adil. Gerakan feminis merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur yang adil, menuju ke sistem yang adil bagi perempuan maupun laki-laki. Dengan kata lain, hakikat feminisme adalah gerakan transformasi sosial, dalam arti tidak selalu hanya memperjuangkan masalah perempuan belaka (Nugroho, 2008:30-31).
Feminisme muncul sebagai akibat dari adanya prasangka gender yang cenderung menomorduakan kaum perempuan. Perempuan dinomorduakan karena adanya anggapan bahwa laki-laki sebagai makhluk yang kuat, sedangkan kaum perempuan adalah makhluk yang lemah. Hal tersebut membuat kaum perempuan selalu diremehkan dan dianggap tidak pantas untuk disejajarkan dengan kaum laki-laki. Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut kesamaan dan keadilan hak untuk disejajarkan dengan kaum laki-laki.
 Gerakan feminisme  mulanya berangkat dari asumsi bahwa kaum  perempuan pada dasarnya ditindas dan diekploitasi, serta usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut. Kemunculan feminisme diawali dengan gerakan emansipasi perempuan, yaitu proses pelepasan diri kaum perempuan dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah serta pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang dan maju (Moeliono, dkk 1993: 225). Gerakan feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur sosial yang tidak adil menuju keadilan bagi kaum laki-laki dan perempuan (Fakih 2008: 99-100).
 Moeliono, dkk. (1993: 241) menyatakan bahwa feminisme adalah gerakan kaum perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Persamaan hak itu meliputi semua aspek kehidupan, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya (Djajanegara 2006:16). Feminisme merupakan kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak dan kepentingan perempuan. Jika perempuan sederajat dengan laki-laki, berarti mereka mempunyai hak untuk menentukan dirinya sendiri sebagaimana yang dimiliki oleh kaum laki-laki selama ini. Dengan kata lain feminisme merupakan gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan menentukan dirinya sendiri (Sugihastuti 2010:6).
 Gerakan feminisme muncul sebagai akibat dari adanya prasangka gender yang cenderung menomorduakan kaum perempuan. Perempuan dinomorduakan karena adanya anggapan bahwa secara universal laki-laki berbeda dengan perempuan. Perbedaan itu tidak hanya terbatas pada kriteria biologis, melainkan juga sampai pada kriteria sosial dan budaya (Sugihastuti 2010: 29-30). Perbedaan itu diwakili oleh dua konsep, yaitu jenis kelamin dan gender (Fakih 2008: 3). Perbedaan jenis kelamin mengacu pada perbedaan fisik, terutama fungsi reproduksi, sedangkan gender merupakan interpretasi sosial dan kultural terhadap perbedaan jenis kelamin (Sugihastuti 2010: 63).
 Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan tersebut mencakup berbagai cara (Djajanegara 2006: 16). Berbagai upaya dilakukan oleh kaum wanita demi memperoleh kesetaraan gender, karena perempuan merasa bahwa sudah saatnya mereka terlepas dari kungkungan budaya patriarki, salah satunya adalah perjuangan mereka untuk disejajarkan dalam bidang sosial. Kaum wanita ingin dirinya tidak lagi diremehkan dan berhak untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang dianggap kaum laki-lakilah yang boleh mendapatkanya.
Feminisme selain merupakan gerakan kebudayaan, politik, sosial, dan ekonomi, juga merupakan salah satu teori sastra, yaitu sastra feminis. Teori sastra feminis melihat bagaimana nilai-nilai budaya yang dianut suatu masyarakat, suatu kebudayaan, yang menempatkan perempuan pada kedudukan tertentu serta melihat bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi hubungan antara perempuan dan laki-laki dalam tingkatan psikologis dan budaya. Dalam hubungannya dengan studi kultural, studi ini merupakan gerakan keilmuan dan praksis kebudayaan yang mencoba cerdas dan kritis dalam menangkap teori kebudayaan. Studi ini bertujuan menimbulkan kesadaran yang akan membebaskan manusia dari masyarakat irasional.
Arti sederhana kajian sastra feminis adalah pengkaji memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang (Sugihastuti, 2010: 5).
Secara garis besar dijelaskannya bahwa Culler (Sugihastuti, 2010: 5).  menyebutnya sebagai reading as a woman, membaca sebagai perempuan. Yang dimaksud "membaca sebagai perempuan" adalah kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Kesadaran pembaca dalam kerangka kajian sastra feminis merupakan kajian dengan berbagai metode. Kajian ini meletakkan dasar bahwa ada gender dalam kategori analisis sastra, suatu kategori yang fundamental.
”Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan keduduk­an dan derajat perempuan agar sama atau sejajar de­ngan kedudukan serta derajat laki-laki. Perjuangan ser­ta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini menca­kup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memper­oleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki” (Djajanegara, 2006:4).
Dalam dunia sastra, feminisme dapat digunakan sebagai pendekatan dalam kritik sastra. Seperti yang diungkapkan oleh Kolodny dalam Djajanegara (2006: 19) menyatakan bahwa kritik sastra feminis membeberkan perempuan menurut stereotip seksul, baik dalam kesusastraan maupun dalam kritik sastra, dan juga menunjukkan bahwa aliran-aliran serta cara-cara yang tidak memadai telah (digunakan untuk) mengkaji tulisan perempuan secara tidak adil, tidak peka.
Kritik sastra feminis, adalah studi sastra yang mengarahkan fokus analisanya pada perempuan. Dasar pemikiran feminis dalam penelitian sastra, adalah upaya pemahaman kedudukan peran perempuan seperti yang tercermin dalam karya sastra (Sugihastuti dan Suharto, 2015: 15). Kritik sastra feminis merupakan salah satu ilmu disiplin sebagai respon atas berkembang luasnya feminisme diberbagai penjuru dunia. Secara garis besar Culler menyebutkan kritik sastra feminis sebagai reading as a woman, membaca sebagai perempuan. Yoder juga menyebutkan bahwa kritik sastra feminis itu bukan pengkritik perempuan atau kritik tentang perempuan, atau kritik tentang pengarang perempuan. Arti sederhana kritik sastra feminis adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra dan kehidupan. Dalam buku “Pengertian Kritik Sastra Feminis” Suharto mengutip pernyataan Yoder, (2002 : 5) “Membaca sebagai perempuan berarti membaca dengan kesadaran untuk membongkar praduga dan idiologi kekuasaan laki-laki yang androsentrisme atau patriarkhat.”
Sugihastuti (2010: 140) mengungkapkan bahwa kritik sastra feminis adalah sebuah kritik sastra yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia.
Dengan mengacu pada pendapat Sugihastuti di atas, Kolodny dalam Djajanegara (2006: 20-30) menjelaskan beberapa tujuan dari kritik sastra feminis yaitu:
a. Dengan kritik sastra feminis seseorang mampu menafsirkan kembali serta menilai kembali seluruh karya sastra yang dihasilkan di abad silam;
b. Membantu untuk memahami, menafsirkan, serta menilai cerita-cerita rekaan penulis perempuan.
2.2 Aliran-aliran dalam Feminisme
Gender merupakan fenomena sosial yang memiliki kategori analisis yang berbeda-beda. Pada dasarnya komitmen dasar kaum feminis adalah terwujudnya kesetaraan dan menolak ketidakadilan terhadap perempuan.  Sehingga muncul perbedaan pandangan antarfeminis terhadap persoalan  gender yang akan dibangun. Dari perbedaan pandangan tersebut melahirkan aliran-aliran feminisme. Aliran feminisme merupakan gambaran dinamika wacana feminisme.  Berikut ini sketsa tentang ide dasar aliran feminisme yang telah mempengaruhi perkembangan feminisme sebagai pemikiran akademis maupun gerakan sosial menurut Kadarusman (2005: 27), yaitu Feminisme Liberal, Feminisme Radikal, Feminisme Marxis, dan Feminisme Sosialis.
Feminisme Liberal berarti, bahwa akar penindasan perempuan terletak pada tidak adanya hak yang sama, untuk memajukan dirinya dan peluang pembudayaan yang sama. Perempuan mendapat diskriminasi hak, kesempatan, kebebasannya karena ia perempuan. Untuk melawannya ia mengajukan kesetaraan antara pria dan perempuan. Para feminis liberal menolak otoritas patriarkal yang dijustifikasi dogma agama, menolak perlakuan khusus yang diberikan pada perempuan. Tetapi masih mengakui perbedaan fungsi reproduksi, bagaimanapun fungsi reproduksi bagi perempuan akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.
Feminisme Radikal perintisnya adalah Charlotte Perkins Gilman, Emma Goldman dan Margarret Sanger. Mereka mengatakan bahwa perempuan harus melakukan kontrol radikal terhadap tubuh dan kehidupan mereka. Feminisme radikal kontemporer berkembang pesat pada tahun 1960-1970 an di New York AS. Aliran ini melihat penindasan perempuan bukan sebagai produk kapitalisme melainkan bersumber dari semua sistem penindasan. Aliran ini radikal karena memfokuskan pada akar dominasi pria dan klaim bahwa semua bentuk penindasan adalah perpanjangan dari supremasi pria.
Feminisme Marxis dapat dikatakan sebagai kritik terhadap feminisme liberal. Karya Frederick Engels, The Origins of The Family, Private Property and The State, yang ditulis pada tahun 1884 merupakan awal mula pemikiran Marxis tentang penyebab penindasan perempuan. Penindasan terhadap perempuan akibat tindakan individual yang disengaja melainkan hasil dari struktur poltik, sosial, dan ekonomi yang dibangun dalam sistem kapitalisme. Argumentasi kaum Marxis didasarkan kepada persoalan ketidakadilan dalam pembagian kerja dan status kepemilikan.
Feminisme Sosialis memahami penindasan terhadap perempuan melalui sudut pandang teori epistimologi yang mendalilkan bahwa semua pengetahuan mempresentasikan kepentingan dan nilai-nilai kelompok sosial tertentu. Komitmen dasar feminisme sosialis adalah mengatasi penindasan kelas. Menurut aliran sosialis, konsep ”the personal is political” dalam aliran feminisme radikal dapat memperluas konsep Marxis tentang dasar-dasar material suatu masyarakat, untuk memasukkan reproduksi sama dengan produksi.
Pendapat Kadarusman sejalan dengan pendapat Arimbi H. dan R. Valentina (2004: 30-50), juga menyatakan terdapat 4 aliran dalam feminisme, dan menegaskan bahwa prinsip, nilai dan prespektif feminisme adalah pijakan bagi semuanya. Perbedaannya terdapat pada sumber masalah, penekanan, dan alternatif solusi perlawanan. Asmaeny Azis (2007: 93) menambahkan satu lagi macam aliran feminisme, yaitu aliran feminisme  postmodernis. Feminis postmodernis adalah mereka yang kecewa atas bangunan modernisme, karena perempuan tidak mendapat kedudukan yang sama dalam rangka publik dan konstruksi sosial.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aliran feminisme ada lima. Aliran tersebut adalah aliran feminisme Radikal, feminisme Liberal, feminisme Marxis, Sosialis, dan feminisme Postmodernis. Aliran feminisme merupakan gambaran dinamika wacana feminisme.

2.3 Ragam Kritik Sastra Feminis
Kritik sastra feminis berasal dari hasrat para feminis untuk mengkaji  karya penulis wanita di masa silam untuk mewujudkan citra wanita dalam karya penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkat yang dominan.
Sugihastuti dan Suharto (2015: 7) mengemukakan kritik sastra feminis adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang menjadi perbedaan diantara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada situasi luar yang mempengaruhi situasi karang mengarang. Berkaitan dengan cara penilaian, Djajanegara (2006: 28-36) membagi ragam kritik sastra feminis menjadi enam bagian, yaitu:
a. Kritik Sastra Feminis Ideologis
Kritik sastra yang memusatkan perhatian pada citra serta stereotip perempuan dalam karya sastra, meneliti kesalahpahaman tentang perempuan dan sebab-sebab perempuan sering tidak diperhitungkan, bahkan nyaris diabaikan dalam kritik sastra.
b. Kritik Sastra Feminis Ginokritik
Mengkaji tulisan-tulisan wanita (Penulis wanita).  Ginokritik mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti apakah penulis-penulis wanita merupakan kelompok khusus, dan apa perbedaan antara tulisan wanita dan laki-laki.
c. Kritik Sastra Feminis Sosialis (Marxis)
Meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosialis yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwa wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas.
d. Kritik Sastra Feminis Psikoanalitik
Kritik ini diterapkan pada tulisan-tulisan wanita karena para feminis percaya bahwa pembaca wanita biasanya mengidentifikasikan dirinya atau menempatkan dirinya pada tokoh wanita, sedangkan tokoh wanita tersebut pada umumnya merupakan cerminan atas penciptanya.
e. Kritik Sastra Feminis Lesbian
Meneliti penulis dan tokoh perempuan saja. Kajian ini masih terbatas karena beberapa faktor. Pertama, para feminis pada umumnya tidak menyukai kelompok perempuan homoseksual dan memandang mereka sebagai feminis radikal. Kedua, waktu tulisan-tulisan tentang perempuan bermunculan pada tahun 1979-an. Jurnal-jurnal perempuan tidak ada yang menulis tentang lesbianisme. Ketiga, kaum lesbian sendiri belum mampu mencapai kesepakatan tentang definisi lesbianisme. Keempat, disebabkan sikap antipati para feminis dan masyarakat, penulis lesbian terpaksa dalam bahasa yang terselubung serta menggunakan lambang-lambang, disamping menyensor sendiri.
f. Kritik Sastra Feminis Etnik
Mempermasalahkan diskriminasi seksual dan diskriminasi rasial dari kaum kulit putih maupun hitam, baik laki-laki maupun perempuan.

2.4 Penerapan Kritik Sastra Feminisme
Menurut Djajanegara bahwa, pada umumnya karya sastra yang menampilkan  tokoh perempuan bisa dikaji dari segi feministik. Baik secara rekaan, lakon, maupun sajak sangatlah mungkin untuk diteliti dengan pendekatan feministik, asal saja ada tokoh perempuan. Jika tokoh perempuan itu dikaitkan dengan tokoh laki-laki tidaklah menjadi soal, apakah mereka berperan sebagai tokoh utama atau tokoh protagonis atau tokoh bawahan. Adapun cara penerapan kritik sastra feminis dalam meneliti sebuah karya sastra menurut Soenardjati Djajanegara adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh perempuan yang terdapat pada sebuah karya sastra.
2. Mencari status atau kedudukan tokoh perempuan tersebut didalam masyarakat.
3. Mencari tahu tujuan hidup dari tokoh perempuan tersebut didalam masyarakat.
4. Memperhatikan apa yang dipikirkan, dilakukan, dan dikatakan oleh tokoh-tokoh perempuan tersebut, sehingga seseorang dapat mengetahui perilaku dan watak mereka berdasarkan gambaran yang langsung diberikan oleh pengarangnya.
5. Meneliti tokoh laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang diamati. Seseorang tidak akan memperoleh gambaran secara lengkap mengenai tokoh perempuan tersebut tanpa memunculkan tokoh laki-laki yang ada disekitarnya.


2.5 Kajian Feminisme pada Cerpen “Cinta di Atas perahu Bercadik” Karya Seno Gumira Aji Darma

2.5.1 Teks Cerpen

“Cinta di Atas perahu Bercadik”
Karya: Seno Gumira Aji Darma
Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.
Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu, gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu, seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki, bahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Tentu, bagaimana mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu?
Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat, melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali, sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi.
“Sukab! Tunggu aku!”
Di pantai, tiba-tiba terdengar derum suara mesin.
“Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu.
Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut, melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Hayati berlari begitu cepat, seolah-olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. Ia meletakkannya begitu saja di samping gubuknya, lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.
“Hayati! Mau ke mana?”
Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut, yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang, lantas melangkah ringan sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan Hayati.
Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk.
“Ke mana Hayati, Mak?”
Nenek tua itu menoleh dengan kesal.
“Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!”
Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.
“Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya.”
Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.
“Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!”
Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali, masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.
“Cabut badik? Heheheh. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!”
Angin bertiup kencang, sangat kencang, dan memang selalu kencang di pantai itu. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya.
Pada akhir hari setelah senja menggelap, burung-burung camar menghilang, dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu, perahu Sukab belum juga kelihatan.
Menjelang tengah malam, nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain, menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam, tetapi membentuk suatu rangkaian.
“Ya, kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. Kulihat mereka tertawa-tawa.”
“Perahu Sukab menyalipku, kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia.”
“Oh, ya, jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin, mesinnya sudah mati, tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya.”
Nenek itu memaki.
“Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!”
Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.
“Aku lihat perahunya, tetapi tidak seorang pun di atasnya. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?”
“Ya, tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab, bukannya tambah penumpang, tetapi orangnya malah berkurang?”
Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang, nenek tua itu menggerundal sendirian.
“Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!”
Ia menuju gubuk Sukab. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria.
“Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?”
Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh, mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. Wajahnya pucat, berkeringat, dan di dahinya tertempel sebuah koyo. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Dipan yang buruk, lemari kayu yang buruk, pakaian yang buruk tergantung di sana-sini, meja buruk, kursi buruk, dan jala di dinding kayu, berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat televisi, tetapi tampaknya sudah mati. Alas kaki yang serba buruk, tentu saja tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah foto pasangan bintang film India, lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit, dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat.
Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh, tapi mungkin ada juga yang lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini, di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka.
Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya.
“Mana Bapakmu?”
Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas.
Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.
“Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!”
Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria.
Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa, ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.
“Aku sudah tahu…”
“Apa yang kamu sudah tahu, Waleh?”
“Tentang mereka…”
Nenek itu mendengus.
“Ya, kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji, begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai, dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka, tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?”
Waleh yang menggigil hanya memandangnya, seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.
“Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!”
Mendengar ucapan itu, Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara.
“Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat—dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.”
Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu, langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali, matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi.
Nenek tua itu terdiam.
Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali, orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan, bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala, maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali, mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hal itu selalu mungkin dan sangat mungkin, karena memang sering terjadi. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang, atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.
“Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan, perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita,” kata seseorang.
“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini, sejak dulu ia selalu berlayar sendiri, mana mau ia mencari ikan bersama kita,” sahut yang lain, “apalagi jika di perahunya ada Hayati.”
“Apakah mereka bercinta di atas perahu?”
“Saat kulihat tentu tidak, banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka.”
Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami.
Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Namun setelah hari keempat, tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.
“Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…”
Namun pada suatu malam, pada hari ketujuh, di tengah angin yang selalu ribut terlihat perahu Sukab mendarat juga, Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sukab tampak lemas di atas perahu. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar yang lebih besar dari perahu mereka, yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya menyengat sekali. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini, setelah bahan bakar untuk mesinnya habis.
Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Kulit terbakar, pakaian basah kuyup, dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.
Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka   telah bercinta di atas perahu cadik ini.

Sabang, Desember 2006/Merauke, April 2007.
2.5.2 Hasil Kajian
 Berikut ini adalah hasil kajian feminisme terhadap teks cerpen " Cinta Di Atas Perahu Bercadik":

1. Mengidentifikasi tokoh perempuan yang terdapat pada cerpen " Cinta Di Atas Perahu Bercadik".
Tokoh perempuan dalam cerpen ini ialah Hayati (istri dullah), Waleh (istri Sukab), Nenek tua (mertua Hayati) dan anak perempuan (anak Waleh dan Sukab). Tokoh  Hayati dikenalkan di paragraf pertama pada kalimat "Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu". Adanya tokoh Nenek tua, dibuktikan pada kalimat "Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk". Selanjutnya, tokoh waleh dibuktikan dengan adanya kalimat "Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh, mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin". Kemudian, tokoh anak perempuan dibuktikan dengan adanya kalimat Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria.

2. Mencari status atau kedudukan tokoh perempuan tersebut didalam masyarakat.
Tokoh perempuan dalam cerpen "Di Atas Perahu Bercadik" ada empat yaitu Hayati, Waleh, Nenek tua dan anak perempuan.
a. Hayati
Dalam cerpen tersebut Hayati memiliki kedudukan sebagai seorang istri dari laki-laki bernama Dullah. Sebagai seorang istri, dalam masyarakat tradisional perempuan biasanya menempati kedudukan yang infirior atau lebih rendah dari kedudukan laki-laki, laki-laki menjadikan perempuan sebagai objek dan mengklaim bahwa perempuan tidak pernah berbuat seperti laki-laki. Selain itu, laki-laki dianggap suka berpoligami dan hanya mengejar sesuatu yang tampak. Sementara itu, perempuan dipandang monogami dan mementingkan emosi. Dengan demikian, laki-laki egois dan tidak pernah setia, sedangkan perempuan tidak pernah tergoda dan setia. Namun pandangan tersebut berbanding terbalik dengan kehidupan cinta dan rumah tangga Hayati sebagai seorang perempuan. Hayati adalah seorang wanita yang sudah menyandang status sebagai istri dari seorang laki-laki bernama Dullah, namun dengan terang-terangan ia menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang sudah beristri juga.  Hampir semua masyarakat di pinggir pantai sudah tahu bahwa Hayati sering pergi berlayar bersama dengan Sukab. Berbagai macam dugaan ada dipikiran masyarakat mengenai apa yang dilakukan oleh Hayati dan Sukab di atas perahu. Hayati pun menyadari dampak yang akan ia dapatkan akibat hubungannya bersama Sukab. apa yang ada di pikiran dan perbuatan Hayati melanggar pandangan masyarakat tradisional bahwa biasanya perempuan adalah kaum minoritas dan lemah yang tentunya tidak mungkin melakukan perselingkuhan.
b. Waleh
Dalam cerpen tersebut Waleh memiliki kedudukan sebagai istri dari Sukab.
Sebagai seorang perempuan kedudukannya berbanding lurus dengan anggapan masyarakat mengenai perempuan. Waleh adalah seorang istri sebagaimana mestinya, dalam cerpen tersebut ia digambarkan sebagai perempuan yang berada di bawah laki-laki secara kekuasaan karena statusnya sebagai seorang istri.
c. Nenek tua (mertua Hayati)
Nenek tua dalam cerpen tersebut berkedudukan sebagai ibu dari Dullah sekaligus mertua Hayati. Hal ini dibuktikan dengan adanya pernyataan dari si nenek tua bahwa Hayati adalah menantunya.
d. Anak perempuan
Anak perempuan di dalam cerpen tersebut berkedudukan sebagai anak dari pasangan Sukab dan Waleh. Meskipun perannya dalam cerpen tersebut tidak cukup penting namun eksistensinya sebgai anak dari Sukap dan Waleh tetap ada sebagi bumbu penambah kesedihan dari hidup Waleh.

3. Memperhatikan apa yang dipikirkan, dilakukan, dan dikatakan oleh tokoh-tokoh perempuan tersebut, sehingga seseorang dapat mengetahui perilaku dan watak mereka berdasarkan gambaran yang langsung diberikan oleh pengarangnya.
a. Hayati
Berdasarkan dialog tokoh di dalam cerita, Hayati memiliki sifat egois dan tidak tau malu. Hayati digambarkan sebagai seorang perempuan yang dengan beraninya berselingkuh dengan laki-laki lain tanpa mempedulikan anggapan masyarakat dan keluarga terhadap perilakunya. Hal ini dibuktikan dalam dialog antara Dullah dan Nenek tua.
(Dullah : “Ke mana Hayati, Mak?”
Nenek tua itu menoleh dengan kesal.
Nenek tua : “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!”
Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.)

Hayati juga memiliki sifat tidak peduli dengan perasaan orang lain terutama perasaaan suaminya dan Waleh (istri Sukab) sebagai sesama wanita. Hayati tetap bertekad untuk berhubungan dengan Sukab walaupun keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing. Hayati juga digambarkan sebagai seorang yang tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadapnya atas apa yang telah ia perbuat, hal tersebut dibuktikan oleh narasi berikut.

(tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.
Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka   telah bercinta di atas perahu cadik ini)
b. Waleh
Berdasarkan dialog tokoh dalam cerita, Waleh memiliki sifat penyabar dan tegar. Meskipun Waleh adalah seorang istri yang menerima ketidakadilan secara batin dari suaminya yang selalu sabar menghadapi tingkah suaminya, namun ia tak pernah marah karena Waleh yakin apabila Sukab dan Hayati memang benar-benar saling mencintai, agamanya telah menghadirkan sebuah solusi yaitu perceraian antara Sukab dan Waleh.  Hal tersebut dapat dilihat dari dialog tokoh berikut.

(“Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.” -Waleh)

Waleh juga digambarkan sebagai seorang wanita yang sabar dan tetap setia kepada suaminya. Hal tersebut dapat dilihat dari narasi berikut.
(Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali.)
c. Nenek tua
Berdasarkan dialog narasi yang ada di dalam cerpen tokoh nenek tua memiliki sifat cerewet, menunjukkan emosinya dengan menggebu-gebu, dan bersifat kolot layaknya orang tua pada umumnya. Hal ini dapat dilihat saat nenek tua sibuk mencari dan menggedor-gedor pintu rumah warga untuk mencari menantunya Hayati yang tak pulang-pulang.

d. Anak perempuan
Berdasarkan dialaog tokoh dalam cerpen anak perempuan ini masih polos, terlihat dari jawaban yang ia berikan saat nenek tua bertanya padanya.
(“Mana Bapakmu?”
Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas.
Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.
“Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!”)

4. Meneliti tokoh laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang diamati.
Dalam cerpen "Di Atas Perahu Bercadik" terdapat dua tokoh laki-laki yaitu Sukab dan Dullah.
a. Sukab
Sukab adalah suami dari Waleh sekaligus pemilik perahu bercadik itu. Ia adalah seorang nelayan yang sering berlayar ke tengah laut bersama Hayati dan menjalin hubungan yang tidak seharusnya ia lakukan dengan Hayati. Dalam cerpen tersebut Sukab memiliki kedudukan di atas perempuan karena perannya sebagai suami. Sukab bisa melakukan perselingkuhan dan tidak setia terhadap istrinya.

b. Dullah
Tokoh laki-laki yang kedua adalah Dullah, Dullah adalah suami dari Hayati. Dullah sudah mengetahui bahwa istrinya dan Sukab saling mencintai, tapi Dullah tetap diam, ia menganggap bahwa jalan keluar dari permasalahan ini adalah perceraian. Sebagai seorang laki-laki Dullah tidak terlalu menunjukkan peranya sebagai suami yang baik, Dullah tidak menasehati dan mencegah hubungan Hayati dengan laki-laki lain.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa feminisme yang ada di dalam cerpen “Cinta Di Atas Perahu Bercadik" terletak pada tokoh Hayati yang berbeda dengan perempuan berdasarkan pandangan masyarkat tradisional yang memiliki kedudukan di bawah suaminya dan bersifat setia. Sosok Hayati justru adalah gambaran dari kebalikannya. Hayati tidak setia dan berselingkuh dengan laki-laki lain padahal ia sudah memiliki suami. Tokoh wanita lainnya adalah Waleh yang digambarkan sebagai seorang wanita sabar dan tetap diam meskipun sudah tau perselingkuhan antara suaminya denga Hayati. Waleh adalah wanita dengan sabar dan kedewasaannya mengahadapi masalah.





















BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Feminisme selain merupakan gerakan kebudayaan, politik, sosial, dan ekonomi, juga merupakan salah satu teori sastra, yaitu sastra feminis. Arti sederhana kajian sastra feminis adalah pengkaji memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang (Sugihastuti, 2010: 5).
Menurut Kadarusman (2005: 27) aliran-aliran dalam feminisme , yaitu  feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis, dan feminisme sosialis. Kemudian, Djajanegara (2006: 28-36) membagi ragam kritik sastra feminis menjadi enam bagian, yaitu kritik sastra feminis ideologis, kritik sastra feminis ginokritik, kritik sastra feminis sosialis (marxis), kritik sastra feminis psikoanalitik, kritik sastra feminis lesbian, dan kritik sastra feminis etnik
3.2 Saran
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihakyang telah mempelajari makalah ini, agar kelak dikemudian hari penulis dapat lebih baik lagi dan kesalahan-kesalahan dalam penulisan makalah Insya Allah akan lebih baik.






DAFTAR PUSTAKA
Arimbi. H dan R Valentina. 2004.Feminisme Vs Neoliberalisme. Jakarta: Debt Watch Indonesia.
Asmaeny Azis. 2007. Feminisme Profetik. Yogyakarta: Kreasi Atar
Dagun, Save M. 1992. Maskulin dan Feminim: Perbedaan Pria Wanita dalam Fisiologi, Psikologi, Seksual, Karier, dan Masa Depan. Rineka Cipta: Jakarta.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:
  Gramedia.
Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kadarusman. 2005. Agama, Relasi  dan Feminisme. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Nugroho, Riant. 2008. Gender dan Strategi Pengarus Utamaannya di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tong, Rosemarie Putnam. 2010. Feminist Thought: Pengantar Paling Komperhensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Bandung: Jalasutra.
Sugihastuti. 2010. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya.
Yogyakarta:                 Pustaka Pelajar
Sugihastuti dan Suharto. 2015. Kritik Sastra Feminisme; Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sehandi, Yohanes. 2014. Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




Lampiran 1
Produk cerpen intertekstual dari cerpen  “Cinta di atas Perahu Bercadik”

Tentang Wanita
Oleh Retno Pratiwi

Bersama dikumadangkannya azan subuh seorang wanita bernama Asih bangun,  lalu hal yang pertama ditangkap oleh matanya ialah kasur disampingnya yang kosong, spreinya masih rapi dan terasa dingin tanda bahwa semalam tidak ditiduri oleh pemiliknya. Asih sudah mulai terbiasa mengetahui suaminya yg jarang tidur seranjang dengannya sejak dua bulan yang lalu,  memang tidak setiap hari tapi selama sebulan terakhir intesitas ketidakpulangan suaminya semakin sering. Sementara Asih masih sibuk dengan pikirinnya,  pintu kamar terbuka secara perlahan menampakkan anak perempuan berumur 7 tahun,  anak itu kemudian menuju Kasur,  naik lalu merangkak mendekat ke ibunya. Asih dengan sigap memeluk anak tersebut,  membelai rambutnya.
"Adek kenapa? Yuk bangun terus sholat subuh bareng ibu"
Anggukan kepala dari anak perempuan bernama Rahel tersebut menjadi jawaban persetujuan untuk ibunya.
Selesai sholat, Asih langsung menjalankan rutinitasnya sebagai seorang ibu dan istri,  memasak untuk keluarga kecilnya, lalu memerintah Rahel untuk mandi dan bersiap ke sekolah.  Pukul 6.00 pagi Agus pulang,  masuk kerumah langsung menuju kamar tanpa menghiraukan istrinya di dapur.  Asih sadar akan kepulangan suaminya, namun sama sekali tidak ada niat dalam hatinya untuk memyambut lelaki tersebut dengan saliman atau sekedar menanyakan mengapa ia tidak pulang semalam. Asih terlampau bosan dengan hal tersebut,  dan lagi jawaban yang akan ia dapatkan akan tetap sama "urusan kerja" begitu kata Agus selama ini.
Sembari Asih menata makanan di meja, Rahel menuju dapur rapih dengan balutan seragam merah putih, gadis kecil itu kemudian dengan sigap menarik kursi lalu mendudukinya.
"eh anak ibu udah cantik,  cepet sarapan habis ini ibu antar ke sekolah ya" ujar Asih dengan senyuman yang berusaha ia tampilkan di depan anaknya. Dari kamar datang Agus yang sudah mandi juga lengkap dengan baju kantor menuju ruang makan. Asih langsung mengambilkan nasi untuk suaminya setelah laki-laki itu duduk di kursi makan.  Mereka berdua bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dihadapan anaknya.  Tanpa ada keharmonisan sarapan pagi berjalan di rumah itu,  tanpa ada obrolan yang berarti antara keduanya,  Asih berusaha menunjukkan bahwa tidak ada masalah yang berarti di kehidupan rumah tangga keduanya.
Hari-hari selanjutnya selalu seperti itu. Agus semakin jarang pulang ke rumah dan Asih yang enggan menanyai suaminya perihal ketidakpulangan Agus.  Keadaan demikian terus berlanjut hingga Rahel sudah menginjak usia 13 tahun.  Pernah sekali Asih bertanya mengapa Agus tidak pulang dan memita suaminya itu untuk tetap tinggal di rumah,  namun hal tersebut justru membuat Agus emosi, keduanya cekcok di kamar dan berakhir dengan Agus yang tetap pergi dari rumah dan tidak pulang sama sekali selama seminggu.  Rahel tahu hal itu tapi sama sekali ia tidak berani ikut campur, gadis kecil yang sudah mulai tumbuh remaja itu tentu selama ini tahu bagaimana keadaan keluarganya,  bagaimana ketidakharmonisan hubungan antara  ayah dan ibunya. Bahwa keluarganya tidak baik-baik saja layaknya keluarga lain. Namun lagi-lagi ia hanya diam, merasa teramat sedih dan kasihan kepada ibunya.
Asih sebagai seorang perempuan tentu tahu alasan dibalik kelakuan Agus selama ini. Mengapa Agus jarang pulang kerumah, kemana selama ini Agus pulang kalau tidak pulang ke rumah, dan di tempat siapa Agus tidur. Tapi seperti tidak ada daya apapun Asih hanya diam berusaha menerima ketidakberesan dari perilaku suaminya, Asih teramat menyayangi anaknya hingga ia berusaha rapat-rapat menutupi masalah dengan hanya diam saja.
***

Di lain hari Rahel sedang duduk di bangku sekolah menikmati bekal yang dibuatkan oleh ibunya bersama teman dekatnya bernama Gisel. Mereka diam sama-sama sibuk mengunyah makanan, sampai Gisel selesai makan duluan, gadis itu mencolek tangan Rahel, lalu Rahel menoleh memasang ekspresi wajah seolah bertanya “kenapa?” Gisel menggerakkan tangan, menyampaikan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan Rahel.
“Kemarin saya lihat acara inspiratif di televisi” kata Gisel melalui bahasa isyarat.
“Terus?” jawab Rahel menggunakan bahasa isyarat pula.
“Acara televisinya mengundang orang disabilitas yang berhasil meraih impiannya, dia seorang tunadaksa tapi berhasil dapat mendali emas di kejuaraan renang khusus orang-orang berkebutuhan khusus, saya pengen deh kaya gitu juga”

“kamu pengen jadi atlet juga?” tanya Rahel.
Sontak Gisel langsung geleng-geleng kepala dan mengibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri.
“Ih bukan, saya pengen bisa meraih impian saya kaya orang yang di televisi kemarin” jawab Gisel menggunakan bahasa isyarat secara perlahan.
“Memang impian kamu apa?”
Gisel menjawab dengan penuh semangat dan senyuman di wajahnya “saya pingin jadi guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti kita, dengan begitu saya juga bisa memberi semangat untuk mereka agar terus giat belajar”

“cita-cita kamu bagus” Rahel memberikan respon dengan senyuman pula diwajahnya, namun Gisel menyadari bahwa senyuman Rahel seperti di buat-buat, akhirnya dengan memberanikan diri Gisele bertanya kepada Rahel.
“ kalau kamu impiannya apa?”
Mendengar pertanyaan tersebut Rahel sekilas tersenyum sedih lalu menunduk.
“saya nggak ada impian” Rahel menghela napas lalu melanjutkan kata-katanya,
“Bagi saya bisa bersekolah sampai sekarang sudah sangat cukup, kalau saya punya impian pasti ibu harus terus mengeluarka uang agar impian saya tercapai. Saya nggak mau menambah beban ibu saya”
Gisel bingung mesti merespon Rahel dengan apa, maka dengan kepedulian yang ia punya lalu Gisel menggenggam tangan Rahel seperti seolah-olah menyalurkan kekuatan untuk temannya itu.
“ adanya saya aja udah bikin hidup ibu susah. Saya nggak mau buat ibu tambah susah. Seandainya bisa milih.. kalau bisa... saya mau nggak ada aja di dunia ini”

“Maksud kamu?”

 Rahel mendongak, menatap Gisel. Sedih, muram, kalut, dan ragu bercampur dimatanya, membuat kepolosannya jadi terasa menyesakkan.
“ seharusnya.. seharusnya saya memang nggak pernah ada. Ayah dan ibu nggak pernah merencanakan dan mengarapkan saya ada. Ditambah lagi dengan keadaan saya yang cacat ini. Mereka terpaksa nikah karena saya. Cita-cita mama juga nggak tergapai.. gara-gara saya. Pasti akan lebih baik kalau dari awal... saya nggak pernah lahir.”

“Rahel-“

Rahel mengepalkan tangannya erat-erat berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. Namun usahanya sia-sia, air mata Rahel sudah menggenang di matanya. Lantas, seperti bendungan jebol, air mata Rahel jatuh menuruni pipi gadis itu, mengecupi kulitnya yang putih pucat, mengalir tanpa diiringi isak suara dari pemiliknya.

**

Di rumah Asih nampak mondar-mandir di teras rumah cemas menunggu kepulangan putrinya. Entah keajaiban skenario apa yang telah tuhan ciptakan, Asih tau perihal Rahel yang menangis di sekolah. Perasaan cemas dan rasa bersalah menggarayangi pikirannya. Sama sekali tidak tertebak olehnya bahwa Rahel tahu semua yang ia rahasiakan selama ini. Maka dari itu Asih bertekad akan berbicara dengan Rahel.

Asih baru berhenti mondar-mandir ketika pagar rumah terbuka, Rahel masuk dan sedikit kaget ketika mendapati ibunya sudah ada diteras. Pelan tapi pasti Rahel melangkah menuju teras.
Rahel menyodorkan tangannya hendak salim kepada ibu, namun bukan tangan yang ia dapatkan tiba-tiba ibu memeluknya erat, Rahel sedikit kaget tapi banyak herannya karena tidak biasanya ibu memeluknya. Setelah sejenak membiarkan ibu memeluknya, Rahel berusaha melepas pelukan dari ibu, ketika tangannya hendak menyampaikan bahasa isyarat ibunya menarik Rahel masuk ke ruang tamu lalu mendudukkan Rahel di sofa, Rahel masih belum mengerti situasi ini dan masih menunggu ibu berbicara. Asih menatap wajah Rahel dengan air mata yang mendesak untuk dikeluarkan.

“Rahel,”
Rahel memandang Asih dengan tatapan bingung dan bertanya-tanya.

“ ibu kenapa nangis? Maafin Rahel kalo Rahel ada salah” ucap Rahel lagi-lagi dengan bahasa isyarat.

Ibu menggeleng “jangan minta maaf, Rahel”

“Aku salah udah buat ibu nangis.”  Air mata Asih tambah mengaliri wajahnya. Tangan Rahel terulur, menghapus air mata di wajah  ibunya. “Ibu... kenapa?”
“ibu nggak tahu kamu tahu dari mana soal.. itu.....tapi, nak” ibu memandang rahel, suaranya bergetar.
“ibu nggak pernah menganggap kamu beban. Nggak pernah sama sekali. Ibu nggak tahu kenapa kamu bisa berpikir seperti itu.”
Sesaat Rahel tahu kemana arah pembicaraan ibunya, Rahel sempat terhenyak ketika ibunya tahu perihal apa yang ia pikirkan.
“ Hidup Ibu berubah gara-gara aku.” Tangis Rahel mengeras.
“Harusnya hidup ibu bisa lebih baik, kalau saja aku nggak ada. Seharusnya aku nggak ada.”

“ Rahel, rahel-----ssttt—dengarin Ibu. Kamu itu hadiah terbaik untuk hidup  Ibu. Hidup Ibu jadi punya arti karena kamu. kamu tahu,  seandainya ibu bisa mengulang hidup ibu lagi, Ibu akan tetap memilih jalan yang membawa kamu ke ibu. Jadi jangan pernah berpikir dan ngomong seperti itu lagi. Janji sama ibu, ya?”
Rahel menunduk , kini wajahnya sudah benar-benar basah.

“Rahel kamu denger apa kata ibu?”
Rahel mengangguk.

Detik berikutnya adalah Asih yang memeluk Rahel, lebih erat dari sebelumnya. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sejak saat itu Asih tahu keputusan apa yang harus ia ambil demi hidupnya dan Rahel.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis linguistik tradisional

Analisis kebutuhan buku teks

Cara mengungkapkan pikiran melalui tulisan