Gaya bahasa pada karya sastra
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam sebuah karya sastra. Berdasarkan yang diungkapkan Nurgiyantoro (2002: 272) bahasa dalam seni sastra ini dapat disamakan dengan cat warna. Keduanya merupakan unsur bahan, alat, dan sarana yang mengandung nilai lebih untuk dijadikan sebuah karya. Sebagai salah satu unsur terpenting tersebut, maka bahasa berperan sebagai sarana pengungkapan dan penyampaian pesan dalam sastra.
Bahasa dalam karya sastra mengandung unsur keindahan. Keindahan adalah aspek dari estetika. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Zulfahnur, Gaya bahasa dan penulisan merupakan salah satu unsur yang menarik dalam sebuah bacaan. Setiap penulis mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam menuangkan setiap ide tulisannya. Setiap tulisan yang dihasilkan nantinya mempunyai gaya penulisan yang dipengaruhi oleh penulisnya, sehingga dapat dikatakan bahwa, watak seorang penulis sangat mempengaruhi sebuah karya yang ditulisnya. Hal ini selaras dengan pendapat Pratikno (1984: 50) bahwa sifat, tabiat atau watak seseorang itu berbeda-beda.
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. Majas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan gaya bahasa?
1.2.2 Bagaimana gaya bahasa dalam karya sastra?
1.2.3 Apa saja jenis-jenis gaya bahasa?
1.2.4 Apa yang dimaksud dengan nada?
1.3 Tujuan Makalah
1.3.1 Untuk mengetahui apa dimaksud dengan gaya bahasa!
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana gaya bahasa dalam karya sastra!
1.3.3 Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis gaya bahasa!
1.3.4 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan nada!
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau style adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseoarang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu: keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra: cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan ( Hasan dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa juga bermakna cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa (Keraf dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa ini bersifat individu dan dapat juga bersifat kelompok. Gaya bahasa yang bersifat individu disebut idiolek, sedangkan yang bersifat kelompok (masyarakat) disebut dialek. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan watak, dan kemampuan seseorang ataupun masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
2.2 Gaya Bahasa dalam Karya Sastra
Sudjiman (1998: 13) menyatakan bahwa sesungguhnya gaya bahasa dapat digunakan dalam segala ragam bahasa baik ragam lisan, tulis, nonsastra, dan ragam sastra, karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi, secara tradisional gaya bahasa selalu ditautkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra.
Jorgense dan Phillips (dalam Ratna, 2009: 84) mengatakan bahwa gaya bahasa bukan sekedar saluran, tetapi alat yang menggerakkan sekaligus menyusun kembali dunia sosial itu sendiri. Lebih jauh menurut Simpson (dalam Ratna, 2009: 84) gaya bahasa baik bagi penulis maupun pembaca berfungsi untuk mengeksplorasi kemampuan bahasa khususnya bahasa yang digunakan. Stilistika dengan demikian memperkaya cara berpikir, cara pemahaman, dan cara perolehan terhadap substansi kultural pada umumnya.
Retorika merupakan penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa, yaitu bagaimana seorang pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya. Pengungkapan bahasa dalam sastra mencerminkan sikap dan perasaan pengarang yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap dan perasaan pembaca. Untuk itu, bentuk pengungkapan bahasa harus efektif dan mampu mendukung gagasan secara tepat yang memiliki segi estetis sebagai sebuah karya. Kekhasan, ketepatan, dan kebaruan pemilihan bentuk-bentuk pengungkapan yang berasal dari imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam pengungkapan bahasa dan gagasan sangat menentukan keefektifan wacana atau karya yang dihasilkan. Hal ini bisa dikatakan bahwa bahasa akan menentukan nilai kesastraan yang akan diciptakan.
Karya sastra adalah sebuah wacana yang memiliki kekhasan tersendiri. Seorang pengarang dengan kreativitasnya mengekspresikan gagasannya dengan menggunakan bahasa dengan memanfaatkan semua media yang ada dalam bahasa. Gaya berbahasa dan cara pandang seorang pegarang dalam memanfaatkan dan menggunakan bahasa tidak akan sama satu sama lain dan tidak dapat ditiru oleh pengarang lain karena hal ini sudah menjadi bagian dari pribadi seorang pengarang. Kalaupun ada yang meniru pasti akan dapat ditelusuri sejauh mana persamaan atau perbedaan antara karya yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat diketahui mana karya yang hanya sebuah jiplakan atau imitasi.
Pemilihan bentuk bahasa yang digunakan pengarang akan berkaitan fungsi dan konteks pemakaiannya. Pemakaian gaya dalam sastra selalu dikaitkan dengan konteks yang melatar belakangi pemilihan dan pemakaian bahasa. Semua gaya bahasa itu berkaitan langsung dengan latar sosial dan kehidupan di mana bahasa itu digunakan.
Melalui gaya bahasa pembaca dapat menilai kepribadian dan kemampuan pengarang, semakin baik gaya bahasa yang digunakan, semakin baik pula penilaian terhadapnya. Sering dikatakan bahwa bahasa adalah pengarang yang terekam dalam karya yang dihaslkannya. Oleh sebab itu setiap pengarang mempunyai gayanya masing-masing.
2.3 Jenis-Jenis Gaya Bahasa dalam Karya Sastra
Beberapa ragam majas dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
Gaya bahasa perbandingan, terdiri dari: Metafora, personifikasi, asosiasi, alegori, parable, metonomia, litotes, sinekdopke (dibagi menjadi 2, pares pro toto dan totem pro tate), eupisme, hiperbola, alusio, antonomasia, perifrase, simile, sinestesia, aptronim, hipokorisme, dipersonifikasi, disfemisme, fabel, eponym, dan simbolik.
Gaya bahasa sindiran, terdiri dari: Ironi, sinisme, sarkasme, innuendo, dan satire.
Gaya bahasa penegasan, terdiri dari: Pleonasme, repetisi, paralelisme, klimaks, anti-klimaks, inversi, elepsi, retoris, koreksio, asimdeton, polisindeton, interupsi, eksklamasio, enumerasio, preterito, apofagis, pararima, aliterasi, tautologi, sigmatisme, antanaklasis, alonim, kolokasi, silepsis, dan zeugma.
Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari: Paradoks, oksimoron, antithesis, kontradiksio interminis, anakronisme.
1. Gaya bahasa perbandingan
a. Metafora
Penggunaan perbandingan langsung dalam mengungkapkan perasaan penulis. Benda yang dibandingkan biasanya memiliki persamaan sifat.
Contoh :
Dewi malam telah keluar dari peraduannya. (dewi malam menggantikan bulan).
Demi menghidupi keluarganya, ia rela memeras otak dan membanting tulang. (memeras otak berarti berpikir keras, membanting tulang berarti bekerja keras).
b. Personifikasi
Gaya pengorangan,menganggap benda mati atau tak bergerak dilukiskan seperti manusia.
Contoh :
Karena terdesak, pisau pun ikut bicara.
Bulan mengintip dibalik awan, sementara angin semilir membelai rambutku.
c. Asosiasi
Gaya bahasa ini memberikan perbandingan terhadap benda yang sudah disebutkan. Perbandingan ini memberikan gambaran sehingga hal yang disebutkan menjadi lebih jelas.
Contoh :
Mukanya pucat bagai bulan kesiangan.
Suaranya merdu bagai bulu perindu.
d. Alegori
Penggunaan perbandingan secara utuh, biasanya berupa kiasan.
Contoh :
“…Aduhai bunga melati. Putih berseri. Ingin kusentuh kelopakmu. Semerbak wangimu kurindu. Mahkotamu menjulai lunglai permai. Tidurku selimutkan mimpi atasmu…”
e. Simbolik
Gaya yang menggunakan bahasa tertentu sebagai symbol atau lambang.
Contoh :
Melati lambing kesucian.
Bunglon lambing bagi orang yang tidak tetap pendiriannya.
f. Metonimia
Penggunaan ungkapan sebagai pengganti nama atau keadaan yang sebenarnya.
Contoh ;
Ia tengah menyasikan film Si Pincang.
Si Belang datang
g. Litotes
Penggunaan ungkapan yang berlawanan dengan keadaan sebenarnya dengan maksud untuk merendahkan diri.
Contoh :
Bila ada waktu mampirlah ke gubuk kami.
Usaha kami ini hanya setitik kecil dari samudra yang luas.
h. Sinekdoke
Penggunaan gaya dengan cara menyebutkan bagian atau keseluruhan. Gaya ini dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1) Pars pro toto
Penggunaan bagian suatu benda atau keadaan sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan. Contoh : Hamdan memelihara dua puluh ekor lembu.
2) Totem proparte
Gaya bahasa yang terjadi oleh sebab menyebutkan keseluruhan benda, sedangkan yang diaksud adalah sebagian. Contoh : Rakyat Indonesia bahu-membahu melawan Belanda, Pati merebut piala bergilir Gubernur Jawa Tengah dalam perlombaan itu.
i. Eufemisme
Gaya bahasa pelembut, dengan maksud untuk berlaku sopan.
Contoh :
Amin tidak naik kelas karena kurang pandai (bodoh)
Kami mohon izin ke belakang sebentar
j. Hiperbola
Penggunaan ungkapan dengan cara yang berlebihan.
Contoh :
Suaranya menggelegar membelah angkasa.
Kenaikan harga BBM mencekik leher.
k. Parafrasis
Penggunaan sepatah kata pengganti dengan serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu.
Contoh :
Pagi-pagi berangkatlah kami. Kalimat ini diganti : ketika sang surya keluar dari peraduannya, berangkatlah kami.
Kereta api berlari terus. Kalimat ini diganti : kuda besi itu berlari terus.
2. Gaya Bahasa Sindiran
a. Ironi
Ialah salah satu majas sindiran yang dikatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud menyindir orang dan diungkapkan secara halus. Contoh-contoh:
Hambur-hamburkan terus uangmu itu agar bias menjadi jutawan.
Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya.
b. Sinisme
Gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari gaya ironi.
Contoh :
Otakmu otak udang.
Harum benar bau badanmu, ya?
c. Sarkasme
Gaya bahasa sindiran yang terkasar dimana memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan.
Contoh:
Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau!
3. Gaya Bahasa Penegasan
a. Pleonasme
Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh-contoh:
Dia turun ke bawah => Dia turun
· Dia naik ke atas => Dia naik
b. Paralelisme
Pengulangan kata-kata untuk menegaskan yang terdapat pada puisi. Bila kata yang diulang pada awal kalimat dinamakan anaphora, dan jika terdapat pada akhir kalimat dinamakan evipora.
Contoh-contoh:
Kau berkertas putih
Kau bertinta hitam
Kau beratus halaman
Kau bersampul rapi.
Kalau kau mau aku akan datang
Jika kau menginginkan aku akan datang
Bila kau minta aku akan datang
Andai kau ingin aku akan datang
c. Interupsi
Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan sisipan di tengah-tengah kalimat pokok, denagn maksud untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.
Contoh: Tiba-tiba Ia-kekasih itu- direbut oleh perempuan lain.
d. Retoris
Gaya bahasa penegasan ini mempergunakan kalimat Tanya-tak-bertanya. Sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek.
Contoh-contoh:
Mana mungkin orang mati hidup lagi?!
Inikah yang kau namai bekerja?!
e. Koreksio
Dipakai untuk membetulkan kembali apa yang salah diucapkan baik yang disengaja maupun tidak.
Contoh-contoh:
Dia adikku! Eh, bukan, dia kakakku!
Gedung Sate berada di Kota Jakarta. Eh, bukan, Gedung Sate berada di Kota Bandung.
Asimdeton
Beberapa hal keadaan atau benda disebutkan berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh:
Meja, kursi, lemari ditangkubkan dalam kamar itu.
4. Gaya Bahasa Pertentangan
a. Paradoks
Majas ini terlihat seolah-olah ada pertentangan.
Contoh:
Gajinya besar, tapi hidupnya melarat.
Artinya, uang cukup, tetapi jiwanya menderita.
b. Antitesis
Majas pertentangan yang menggunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Tua muda, besar kecil, semuanya hadir di tempat itu.
c. Kontradiksio Interminis
Yaitu majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudahdikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan, disangkal lagi oleh ucapan kemudian.
Contoh:
Semuanya sudah hadir, kecuali Si Amir.
Kalau masih ada yang belum hadir, mengapa dikatakan “semua” sudah hadir.
2.4 Hakikat Nada
nada ialah suatu bunyi yang memiliki getaran yang teratur. Nada terbagi menjadi dua yakni tinggi rendah, dan panjang pendek. Warna dari sebuah nada dapat dilukiskan dengan notasi.
Nada adalah tinggi rendahnya suara ketika kita mengucapkan kata dalam suatu kalimat. Jika seseorang dalam keadaan bersedih maka orang tersebut akan berbicara dengan nada yang rendah. Lain halnya jika seseorang dalam keadaan senang/ gembira atau marah, maka orang tersebut akan berbicara/ bersuara dengan nada. Sebuah pernyataan atau perintah akan selalu disertai nada yang khas sesuai dengan keaadaan.
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
Nada tutur adalah suatu jenis unsur suprasegmental yang ditandai oleh tinggi-rendahnya arus-ujaran. Tinggi rendahnya arus-ujaran terjadi karena frekuensi getaran yang berbeda antar segmen. Bila seseorang berada dalam kesedihan ia akan berbicara dengan nada yang rendah. Sebaliknya bila berada dalam keadaan gembira atau marah, nada tinggilah yang biasanya dipergunakan orang. Suatu perintah atau pertanyaan selalu disertai nada yang khas.
Jenis-jenis nada tutur
a) Tuturan Langsung : Informasi secara lisan, diperoleh dari narasumber secara langsung, cirinya hanya dapat di dengar sekali saja
b) Tuturan Tidak Langsung : informasi yang disampaikan secara lisan dan diperoleh secara tidak langsung, cirinya dapat di dengar berulang-ulang
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. Majas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan.
Gaya bahasa perbandingan meliputi : metafora, personifikasi, asosiasi, alegori, simbolik, metonimia, litotes, sinekdoke (pars pro toto dan totem proparte), eufemisme, hiperbola, parifrasis. Sedangkan gaya bahasa sindiran meliputi : ironi, sinisme,dan sarkasme. Gaya bahasa penegasan meliputi : pleonasme, paralelisme, interupsi, retoris, koreksio, asimdeton. Gaya bahasa pertentangan meliputi : paradoks, antitesis, dan kontradiksio interminis.
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca
3.2 Saran
Gaya bahasa dipakai pengarang hendak memberi bentuk terhadap apa yang ingin disampaikan. Dengan gaya bahasa tertentu pula seorang pengarang dapat mengekalkan pengalaman rohaninya dan penglihatan batinnya, serta dengan itu pula ia menyentuh hati pembacanya. Karena gaya bahasa itu berasal dari dalam batin seorang pengarang maka gaya bahasa yang digunakan oleh seorang pengarang dalam karyanya secara tidak langsung menggambarkan sikap atau karakteristik pengarang tersebut.
EMAK
Karya Widiyati
(Dalam Kumpulan Cerpen Kupu-Kupu Bantimurung)
Emakku adalah sosok wanita yang kukagumi di dunia ini. Dia sangat sabar. Apalagi menghadapi kelakuan Mbak Ika, yang satu tahun ini mulai memburuk padanya semenjak ditinggal Bapak. Kerjanya setiap hari hanya marah dan marah melulu.
“Ratih....Ratih....Bangun!” teriak Mbak Ika.
Kulihat jam dinding masih menunjukan angka 4, ya, pagi.
“Malas,” jawabku ogah-ogahan sambil merapatkan kembali selimut.
“Ayo bangun! Jangan malas-malasan begitu,” ucapnya seraya merih selimutku kasar.
“Kenapa sih, sirik amat,” ucapku sambil mengucek-ucek mata.
“Kamu tahu nggak kunci yang aku taruh di meja makan kemarin?” tanyanya.
“Enggak,” jawabku singkat dan mengangkat bahu.
“Pasti dia lagi!”
“Dia lagi, dia lagi siapa?”
“Yaah siapa lagi kalau bukan Emak? Biang keladi semua masalah di rumah ini,” jawabnya sinis.
“Hush!! Nggak baik bilang seperti itu pada orang tua, kualat nanti.”
“Biarin saja,’ seenaknya dia manjawab sambil berlalu.
“Maak Emaak!” teriak Mbak Ika lantang.
“Ada apa Nduk?” tanya Emak.
“ tahu nggak kunci yang aku taruh di meja ini kemarin? Itu lho kunci warna putih yang ada gantunganya berbentuk mawar,” tanyanya sedikit membentak.
“ O ituu. Kemari Emak simpan di laci meja itu mungkin. Emak juga agak lupa,” jawab Emak pelan.
“ Makanya! Kalau sudah merasa pikun, jangan membenahi barang-barang yang bukan milik Emak. Yang punya barang jadi gila karena bingung mencarinya,” sungut Mbak Ika.
“Sudah-sudah.Gitu saja ribut. Yang penting kuncinya sudah ketemu. Nggak pantas didengar tetangga, setiap hari ribuuut.... Melulu,” leraiku.
“ Bukannya ’gitu. Aku kan nggak akan marah kalau Emak nggak salah. Dasar orang tua! Sudah mulai pikun,” umpatnya.
Aku hanya geleng-geleng kepala sedangkan Emak segera beranjak ke dapur dengan wajah sedih.
Pulang sekolah dengan wajah jengkel aku memasuki halaman rumah.
...
“Mak!! Emak!!!” teriak Mbak Ika.
“Pasti ada yang tidak beres,” gumamku.
“Lihat baju ini!” teriaknya sambil menyodorkan sebuah baju ke hadapan Emak.
“Ada apa dengan baju ini?” tanya Emak.
“Ada apa, ada apa, masa nggak lihat ada apa di baju ini. Lihat! Apa ini?” tanyanya dengan membentak.
“Nggak tahu, Nduk.”
“Nggak tahu, nggak tahu gimana? Tadi, saat aku cuci nggak ada noda kayak gini. Tapi kok sekarang ada? Siapa tadi yang mengambil dari jemuran?”
“Emak”
“Nah! Sekarang ngaku saja kalau memang Emak yang membuat noda di baju ini.” Bentaknya kasar.
“Benar, Nduk. Emak memang nggak tahu. Untuk apa Emak bohong sama kamu?”
` “Halaahh!! Sudah, pokoknya sekarang harus dicuci sampai bersih. Awas, kalau nanti nodanya nggak hilang, nggak aku beri uang belanja buat besok,” ancam Mbak Ika.
“Sudahlah. Biar aku saja yang mencuci baju itu,” tawarku.
“Nggak perlu! Orang tua seperti ini perlu diberi pelajaran supaya jera,” bentaknya.
Akupun langsung diam.
...
Sore hari saat aku sedang menonton TV, Mbak Ika tiba-tiba memanggilku.
“Rat, tahu nggak siapa yang membuka lemariku?” tanyanya.
“Enggak tuh. Memangnya aku masuk ke kamar Mbak,” jawabku enteng.
“Emak ke mana?” tanyanya lagi.
“Sedang tidur. Jangan diganggu dulu karena Emak agak tidak enak badan,” jawabku.
Lalu aku menguntitnya berjalan menuju kamar Emak.
“Mak bangun! Ada hal penting yang akan aku tanyakan,” ucap Mbak Ika kasar sambil menggoyang-goyangkan tubuh Emak.
Emak terbangun dengan geragapan.
“Emak tadi, buka-buka lemari pakaianku nggak?” tanyanya.
“Iya. Memangnya ada apa, Nduk?” tanya Emak agak gugup karena belum hilang rasa kagetnya.
“Nggak ada apa-apa sih. Tapi, uangku lima puluh ribu rupiah hilang. Emak yang mengambil?” tanya Mbak Ika dengan nada menuduh.
“Kalau masalah uang, Emak tidak tahu menahu, Nduk. Dan Emak tidak mengambilnya, betul Nduk,” jawab Emak melas.
“Halaahh!! Jangan pasang muka nggak berdosa kayak gitu. Aku yakin, pasti Emak yang mengambil, siapa lagi?? Namanya pencuri di mana-mana pun tidak akan ngaku kalau nggak disiksa dulu,” cerocos Mbak Ika sengit.
“Aduh Nduk, kamu nggak percaya,” ucap Emak yang mulai menangis.
“Iya Mbak. Masa nggak kasihan sama Emak. Jangan menuduh dulu sebelum ada bukti,” ucapku membela Emak.
“Ngaku nggak?! Ayo ngaku, ngaku, ngaku, ngakuuu!!,” teriak Mbak Ika sambil memukuli Emak dengan gagang sapu.
“Aduh Nduk, sakiiit,” ucap Emak kesakitan.
“Mbak!! Kamu ini punya otak nggak ha?! Dibilang sudah besar tapi nggak punya pikiran, dibilang masih kecil tapi badannya sudah bongsor. Kamu ini kejam. Sakiit tahu, sakiit. Apa kamu mau dipukuli seperti itu,” teriakku penuah amarah.
...
“Rat, Emak nggak apa-apa kan?! Tanyanya sedikit gugup.
Baru kali ini dapat kulihat sinar kekhawatiran di matanya karena selama ini, yang ada di sana hanyalah sinar kemarahan dan kebencian.
“Rat, kamu kok diam saja sich,” ucapnya gemetar.
“Ik.... Ika...,” panggil Emak lirih.
“Ya, Mak,” jawabnya pelan.
“Syukurlah kalau kamu sudah datang. Emak hanya ingin minta maaf atas segala perbuatan Emak yang kau anggap salah. Nduk, selama ini Emak merasa tidak pantas menjadi ibumu. Sebenarnya Emak haus akan kasih sayangmu, Nduk. Tapi bila kamu memang tidak menghendaki kehadiran Emak, ya tidak apa-apa,” sunyi sekejap.
“Emak sudah memaafkan segala perbuatanmu pada Emak. Dan Emak tidak menyalahkan kamu, Nduk. Karena itu Nduk, karena itu hanyalah luapan amarah semata. Emak hanya minta agar kamu tidak mengulanginya lagi. Rukun-rukunlah kamu dengan adikmu,” jelas Emak.
...
Kulihat wajah Emak yang penuh derita. Namun, di sana kutemui gurat-gurat kasih sayang dan kelegaan.
“Iya, Mak, aku pun juga mau minta .....”
“Maaaaak!!” teriakku memotong ucapan Mbak Ika.
Saat dia sadar apa yang telah terjadi, dia lunglai dan jatuh bersimpuh. Seketika dia langsung menciumi kedua kaki Emak sambil tidak berhenti memanggilnya.”
Produk berupa Teks drama dari cerpen “Emak” karya Widiyati
EMAK
(Di sebuah kamar, ada seorang gadis yang sedang tidur memakai selimutnya. Ia terbangun karena kakanya berteriak membangunkannya.)
Mbak Ika : “Ratih... Ratih... Bangun!” (berteriak sambil melepaskan selimut yang sedang dipakai Ratih)
Ratih : “Malas..” (menjawab dengan cuek. Melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4 pagi sambil merapatkan selimut)
Mbak Ika : “Ayo bangun! Jangan malas-malasan begitu..” (mengucapkannya dengan kasar dan sambil melepaskan lagi selimut dari Ratih)
Ratih : “kenapa sih? Sirik amat” (duduk dan sambil mengucek-ngucek mata)
Mbak Ika : “Kamu tahu nggak kunci yang aku taruh di meja makan kemarin?”
Ratih : “Enggak” (menjawab dengan cuek dan sambil mengangkat bahu)
Mbak Ika : “hmm..... Pasti dia lagi!” (mengucapkannya dengan nada menuduh dan sebal)
Ratih : “Dia lagi? Dia lagi siapa?”
Mbak Ika : “Yaah, siapa lagi kalau bukan Emak? Biang keladi semua masalah di rumah ini,” (menjawab dengan sinis)
Ratih : “Hush!! (jari telunjukknya diarahkan ke depan bibir). Nggak baik bilang seperti itu pada orang tua, kualat nanti.”
Mbak Ika : “Biarin saja” (langsung membalikkan badan dan berjalan keluar)
Mbak Ika : “Maak…. Emak!!!” (teriak dan sambil berjalan seperti sedang mencari Emak)
Emak : “Ada apa Nduk?”
Mbak Ika : “Tahu nggak kunci yang aku taruh di meja ini kemarin? Itu loh kunci warna putih ang ada gantungannya berbentuk mawar” (sedikit membentak dan mendesak)
Emak : “OO… itu…kemarin Emak simpen di laci meja itu mungkin (jari telunjuknya menunjuk ke sebuah meja Emak juga lupa ( menjawab dengan pelan)
Mbak Ika : “Makanya! Kalau sudah merasa pikun (jari telunjuknya menunjuk ke keningnya) jangan membenahi barang yang bukan milik Emak. Yang punya barang jadi gila karena bingung mencarinya. (tanganyamenggaruk dan mengacak rambutnya)
Ratih : “Sudah-sudah, gitu aja ribut (sambil menepuk pundak Mbak Ika) Yang penting kuncinya sudah ketemu. Nggak pantas didengar tetangga, setiap hari ribuut melulu”
Mbak Ika : “Bukanya gitu. Aku kan nggak akan marah kalau Emak nggak salah (melepaskan tangan Ratih dari pundak). Dasar orang tua! Sudah mulai pikun” (membentak dan marah-marah)
Ratih : (menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi kecewa)
Emak : (beranjak ke dapur sambil membungkukan badan dengan wajah sedih)
Ratih : (sepulang sekolah, memasuki halaman rumah dengan wajah jengkel)
Mbak Ika : “Mak!!! Emak!!” (berteriak dan berjalan mencari Emak)
Ratih : “Hmmm…. Pasti ada yang tidak beres…” (berlari mencari Emak dan Mbak Ika)
Mbak Ika : “Lihat baju ini! “ (sambil menyodorkan baju ke hadapan Emak dengan wajah jengkel)
Emak : “Ada apa dengan baju ini? “
Mbak Ika : “Ada apa, ada apa, masa nggak liat ada apa di baju ini. Lihat! (menunjukkan sebuah baju itu ke hadapan Emak) apa ini?? ”
Emak : “Nggak tahu Nduk“ (sambil menggeleng-gelengkan kepala)
Mbak Ika : “Nggak tahu? Nggak tahu gimana?? (dengan muka sangat jengkel) tadi saat aku cuci nggak ada noda kaya gini. Tapi kok sekarang ada? (marah-marah) siapa tadi yang mengambil dari jemuran? “
Emak : “Emak-emak”
Mbak Ika : “Nah! Sekarang ngaku aja kalau Emak yang membuat noda di baju ini! “ (menunjuk dan menatap sinis Emak)
Emak : “Benar Nduk, Emak memang nggak tahu (menggelengkan kepala). Untuk apa Emak bohong sama kamu?
Mbak Ika : “Halaahh!!! (mendorong Emak dengan kasar). Sudah sekarang pokoknya harus dicuci samapai bersih. Awas! Kalau nanti nodanya nggak hilang, nggak aku beri uang belanja buat besok! “ (menunjuk ke wajah Emak dan mentap Emak dengan tajam)
Ratih : “Sudahlah biar aku saja yag mencuci baju itu” (tanganya diarahkan untuk mengambil baju itu)
Mbak Ika : “Nggak perlu! (tangan Ratih disingkirkan dari baju itu dengan kasar). Orang tua seperti ini perlu diberi pelajaran supaya jera!” (membentak Ratih dan Emak)
Ratih : (langsung terdiam)
...
(Di sebuah ruangan, Ratih sedang menonton TV dan tiba-tiba Mbak Ika berteriak memanggilnya)
Mbak Ika : “Rat, tahu nggak siapa yang membuka lemariku?”
Ratih : “Enggak tuh.. (mengangkat bahu). Memangnya aku masuk ke kamar Mbak..” (menjawab dengan cuek)
Mbak Ika : “Emak ke mana?”
Ratih : “Sedang tidur. Jangan diganggu dulu karena Emak agak tidak enak badan”
Mbak Ika : (berjalan ke kamar Emak)
Ratih : (mengikuti Mbak Ika ke kamar Emak)
Mbak Ika : “Mak bangun!! (menggoyang-goyangkan tubuh Emak). Ada hal penting yang akan aku tanyakan..”
Emak : (terbangun dengan geragapan dan langsung duduk)
Mbak Ika : “Emak tadi, buka-buka lemari pakaianku nggak?”
Emak : “Iya. Memangnya kenapa, Nduk?” (agak gugup karena belum hilang rasa kagetnya)
Mbak Ika : “Nggak ada apa-apa sih. (menggeleng-gelengkan kepala). Tapi, uangku lima puluh ribu rupiah hilang. (sambil mengangkat 5 jari tangannya). Emak yang mengambil?” (dengan nada menuduh)
Emak : “Kalau masalah uang, Emak tidak tahu menahu, Nduk. (menggelengkan kepala). Dan Emak tidak mengambilnya, betul Nduk. (menganggukkan kepala dan menjawab dengan melas)
Mbak Ika : “Halaahh!! Jangan pasang muka nggak berdosa kayak gitu. Aku yakin, pasti Emak yang mengambil, siapa lagi?? (menunjuk Emak dengan telunjuknya dan menatap dengan sengit). Namanya pencuri di mana-mana pun tidak akan ngaku kalau nggak disiksa dulu”
Emak : “Aduh, Nduk, kamu nggak percaya” (Emak mulai menangis)
Ratih : “Iya Mbak. Masa nggak kasihan sama Emak. Jangan menuduh dulu sebelum ada bukti”
Mbak Ika : “(mengambil sapu). Ngaku nggak?! Ayo ngaku, ngaku, ngaku, ngakuuu!!” (berteriak dan sambil memukuli Emak dengan gagang sapu)
Emak : “Aduh Nduk, sakiiit...” (kesakitan dan tangannya diangkat menghindari pukulan)
Ratih : “Mbak!! (menyingkirkan gagang sapu yang dipegang Mbak Ika). Kamu ini punya otak nggak ha?! (jari telunjuknya menunjuk ke kepala). Dibilang sudah besar tapi nggak punya pikiran, dibilang masih kecil tapi badannya sudah bongsor. Kamu ini kejam. (jari telunjuknya menunjuk Mbak Ika). Sakiit tahu, sakiit. (mengelus-ngelus tubuh Emak yang dipukuli tadi). Apa kamu mau dipukuli seperti itu” (berteriak dengan penuh amarah)
...
Mbak Ika : “” Rat, Emak nggak apa-apa kan?! (sedikit gugup dan khawatir)
Ratih : (hanya diam tetapi matanya melihat ke arah Mbak Ika)
Emak : “Ik.... Ika...” (mengucapkan dengan lirih, pelan, dan lembut)
Mbak Ika : “Ya, Mak” (menjawab dengan pelan dan berjalan menuju kamar Emak dan Ratih menguntitnya dari belakang)
Emak : “Syukurlah kalau kamu sudah datang. Emak hanya ingin minta maaf atas segala perbuatan Emak yang kau anggap salah. (tangannya diarahkan ke dada), Nduk, selama ini Emak merasa tidak pantas menjadi ibumu. (mengelus-ngelus rambut Mbak Ika), sebenarnya Emak haus akan kasih sayangmu, Nduk. Tapi bila kamu memang tidak menghendaki kehadiran Emak, ya tidak apa-apa.. (menggelengkan kepala)”
Mbak Ika : (menatap Emak dengan penuh penyesalan akan kesalahannya)
Emak : “Emak sudah memaafkan segala perbuatanmu pada Emak (memegang pundang Mbak Ika). Dan Emak tidak menyalahkan kamu, Nduk. Karena itu Nduk, karena itu hanyalah luapan amarah semata. Emak hanya minta agar kamu tidak mengulanginya lagi (menggelengkan kepala dan mengelus rambut Mbak Ika). Rukun-rukunlah kamu dengan adikmu” (menatap Mbak Ika dengan penuh kasih sayang)
...
Mbak Ika : “Iya, Mak. Aku pun juga mau minta ....”
Ratih : “Maaaaak!!” (memotong ucapan Mbak Ika dan berlari ke arah Emak dan langsung terduduk melihat ke arah Emak yang terkaku serta memeluk erat Emak)
Mbak Ika : “(lunglai dan jatuh bersimpuh. Menciumi kedua kaki Emak) Maakk..... Emaakkk..........”
DAFTAR PUSTAKA
Agepe. 2008. Majas. Tersedia di http://goesprih.blogspot.com//. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2018.
Murtono. 2010. Menuju Kemahiran Berbahasa Indonesia. Surakarta : UNS Press.
.
Saefu Zaman. 2011. Macam-Macam Gaya Bahasa Indonesia. Tersedia di http://situsbahasa.com//. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2018.
Karsono. 2011. Ragam Gaya Bahasa. Tersedia di http://karsonojawul.blog.uns.ac.id//. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2018.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam sebuah karya sastra. Berdasarkan yang diungkapkan Nurgiyantoro (2002: 272) bahasa dalam seni sastra ini dapat disamakan dengan cat warna. Keduanya merupakan unsur bahan, alat, dan sarana yang mengandung nilai lebih untuk dijadikan sebuah karya. Sebagai salah satu unsur terpenting tersebut, maka bahasa berperan sebagai sarana pengungkapan dan penyampaian pesan dalam sastra.
Bahasa dalam karya sastra mengandung unsur keindahan. Keindahan adalah aspek dari estetika. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Zulfahnur, Gaya bahasa dan penulisan merupakan salah satu unsur yang menarik dalam sebuah bacaan. Setiap penulis mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam menuangkan setiap ide tulisannya. Setiap tulisan yang dihasilkan nantinya mempunyai gaya penulisan yang dipengaruhi oleh penulisnya, sehingga dapat dikatakan bahwa, watak seorang penulis sangat mempengaruhi sebuah karya yang ditulisnya. Hal ini selaras dengan pendapat Pratikno (1984: 50) bahwa sifat, tabiat atau watak seseorang itu berbeda-beda.
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. Majas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan gaya bahasa?
1.2.2 Bagaimana gaya bahasa dalam karya sastra?
1.2.3 Apa saja jenis-jenis gaya bahasa?
1.2.4 Apa yang dimaksud dengan nada?
1.3 Tujuan Makalah
1.3.1 Untuk mengetahui apa dimaksud dengan gaya bahasa!
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana gaya bahasa dalam karya sastra!
1.3.3 Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis gaya bahasa!
1.3.4 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan nada!
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau style adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseoarang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu: keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra: cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan ( Hasan dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa juga bermakna cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa (Keraf dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa ini bersifat individu dan dapat juga bersifat kelompok. Gaya bahasa yang bersifat individu disebut idiolek, sedangkan yang bersifat kelompok (masyarakat) disebut dialek. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan watak, dan kemampuan seseorang ataupun masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
2.2 Gaya Bahasa dalam Karya Sastra
Sudjiman (1998: 13) menyatakan bahwa sesungguhnya gaya bahasa dapat digunakan dalam segala ragam bahasa baik ragam lisan, tulis, nonsastra, dan ragam sastra, karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi, secara tradisional gaya bahasa selalu ditautkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra.
Jorgense dan Phillips (dalam Ratna, 2009: 84) mengatakan bahwa gaya bahasa bukan sekedar saluran, tetapi alat yang menggerakkan sekaligus menyusun kembali dunia sosial itu sendiri. Lebih jauh menurut Simpson (dalam Ratna, 2009: 84) gaya bahasa baik bagi penulis maupun pembaca berfungsi untuk mengeksplorasi kemampuan bahasa khususnya bahasa yang digunakan. Stilistika dengan demikian memperkaya cara berpikir, cara pemahaman, dan cara perolehan terhadap substansi kultural pada umumnya.
Retorika merupakan penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa, yaitu bagaimana seorang pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya. Pengungkapan bahasa dalam sastra mencerminkan sikap dan perasaan pengarang yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap dan perasaan pembaca. Untuk itu, bentuk pengungkapan bahasa harus efektif dan mampu mendukung gagasan secara tepat yang memiliki segi estetis sebagai sebuah karya. Kekhasan, ketepatan, dan kebaruan pemilihan bentuk-bentuk pengungkapan yang berasal dari imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam pengungkapan bahasa dan gagasan sangat menentukan keefektifan wacana atau karya yang dihasilkan. Hal ini bisa dikatakan bahwa bahasa akan menentukan nilai kesastraan yang akan diciptakan.
Karya sastra adalah sebuah wacana yang memiliki kekhasan tersendiri. Seorang pengarang dengan kreativitasnya mengekspresikan gagasannya dengan menggunakan bahasa dengan memanfaatkan semua media yang ada dalam bahasa. Gaya berbahasa dan cara pandang seorang pegarang dalam memanfaatkan dan menggunakan bahasa tidak akan sama satu sama lain dan tidak dapat ditiru oleh pengarang lain karena hal ini sudah menjadi bagian dari pribadi seorang pengarang. Kalaupun ada yang meniru pasti akan dapat ditelusuri sejauh mana persamaan atau perbedaan antara karya yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat diketahui mana karya yang hanya sebuah jiplakan atau imitasi.
Pemilihan bentuk bahasa yang digunakan pengarang akan berkaitan fungsi dan konteks pemakaiannya. Pemakaian gaya dalam sastra selalu dikaitkan dengan konteks yang melatar belakangi pemilihan dan pemakaian bahasa. Semua gaya bahasa itu berkaitan langsung dengan latar sosial dan kehidupan di mana bahasa itu digunakan.
Melalui gaya bahasa pembaca dapat menilai kepribadian dan kemampuan pengarang, semakin baik gaya bahasa yang digunakan, semakin baik pula penilaian terhadapnya. Sering dikatakan bahwa bahasa adalah pengarang yang terekam dalam karya yang dihaslkannya. Oleh sebab itu setiap pengarang mempunyai gayanya masing-masing.
2.3 Jenis-Jenis Gaya Bahasa dalam Karya Sastra
Beberapa ragam majas dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
Gaya bahasa perbandingan, terdiri dari: Metafora, personifikasi, asosiasi, alegori, parable, metonomia, litotes, sinekdopke (dibagi menjadi 2, pares pro toto dan totem pro tate), eupisme, hiperbola, alusio, antonomasia, perifrase, simile, sinestesia, aptronim, hipokorisme, dipersonifikasi, disfemisme, fabel, eponym, dan simbolik.
Gaya bahasa sindiran, terdiri dari: Ironi, sinisme, sarkasme, innuendo, dan satire.
Gaya bahasa penegasan, terdiri dari: Pleonasme, repetisi, paralelisme, klimaks, anti-klimaks, inversi, elepsi, retoris, koreksio, asimdeton, polisindeton, interupsi, eksklamasio, enumerasio, preterito, apofagis, pararima, aliterasi, tautologi, sigmatisme, antanaklasis, alonim, kolokasi, silepsis, dan zeugma.
Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari: Paradoks, oksimoron, antithesis, kontradiksio interminis, anakronisme.
1. Gaya bahasa perbandingan
a. Metafora
Penggunaan perbandingan langsung dalam mengungkapkan perasaan penulis. Benda yang dibandingkan biasanya memiliki persamaan sifat.
Contoh :
Dewi malam telah keluar dari peraduannya. (dewi malam menggantikan bulan).
Demi menghidupi keluarganya, ia rela memeras otak dan membanting tulang. (memeras otak berarti berpikir keras, membanting tulang berarti bekerja keras).
b. Personifikasi
Gaya pengorangan,menganggap benda mati atau tak bergerak dilukiskan seperti manusia.
Contoh :
Karena terdesak, pisau pun ikut bicara.
Bulan mengintip dibalik awan, sementara angin semilir membelai rambutku.
c. Asosiasi
Gaya bahasa ini memberikan perbandingan terhadap benda yang sudah disebutkan. Perbandingan ini memberikan gambaran sehingga hal yang disebutkan menjadi lebih jelas.
Contoh :
Mukanya pucat bagai bulan kesiangan.
Suaranya merdu bagai bulu perindu.
d. Alegori
Penggunaan perbandingan secara utuh, biasanya berupa kiasan.
Contoh :
“…Aduhai bunga melati. Putih berseri. Ingin kusentuh kelopakmu. Semerbak wangimu kurindu. Mahkotamu menjulai lunglai permai. Tidurku selimutkan mimpi atasmu…”
e. Simbolik
Gaya yang menggunakan bahasa tertentu sebagai symbol atau lambang.
Contoh :
Melati lambing kesucian.
Bunglon lambing bagi orang yang tidak tetap pendiriannya.
f. Metonimia
Penggunaan ungkapan sebagai pengganti nama atau keadaan yang sebenarnya.
Contoh ;
Ia tengah menyasikan film Si Pincang.
Si Belang datang
g. Litotes
Penggunaan ungkapan yang berlawanan dengan keadaan sebenarnya dengan maksud untuk merendahkan diri.
Contoh :
Bila ada waktu mampirlah ke gubuk kami.
Usaha kami ini hanya setitik kecil dari samudra yang luas.
h. Sinekdoke
Penggunaan gaya dengan cara menyebutkan bagian atau keseluruhan. Gaya ini dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1) Pars pro toto
Penggunaan bagian suatu benda atau keadaan sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan. Contoh : Hamdan memelihara dua puluh ekor lembu.
2) Totem proparte
Gaya bahasa yang terjadi oleh sebab menyebutkan keseluruhan benda, sedangkan yang diaksud adalah sebagian. Contoh : Rakyat Indonesia bahu-membahu melawan Belanda, Pati merebut piala bergilir Gubernur Jawa Tengah dalam perlombaan itu.
i. Eufemisme
Gaya bahasa pelembut, dengan maksud untuk berlaku sopan.
Contoh :
Amin tidak naik kelas karena kurang pandai (bodoh)
Kami mohon izin ke belakang sebentar
j. Hiperbola
Penggunaan ungkapan dengan cara yang berlebihan.
Contoh :
Suaranya menggelegar membelah angkasa.
Kenaikan harga BBM mencekik leher.
k. Parafrasis
Penggunaan sepatah kata pengganti dengan serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu.
Contoh :
Pagi-pagi berangkatlah kami. Kalimat ini diganti : ketika sang surya keluar dari peraduannya, berangkatlah kami.
Kereta api berlari terus. Kalimat ini diganti : kuda besi itu berlari terus.
2. Gaya Bahasa Sindiran
a. Ironi
Ialah salah satu majas sindiran yang dikatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud menyindir orang dan diungkapkan secara halus. Contoh-contoh:
Hambur-hamburkan terus uangmu itu agar bias menjadi jutawan.
Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya.
b. Sinisme
Gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari gaya ironi.
Contoh :
Otakmu otak udang.
Harum benar bau badanmu, ya?
c. Sarkasme
Gaya bahasa sindiran yang terkasar dimana memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan.
Contoh:
Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau!
3. Gaya Bahasa Penegasan
a. Pleonasme
Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh-contoh:
Dia turun ke bawah => Dia turun
· Dia naik ke atas => Dia naik
b. Paralelisme
Pengulangan kata-kata untuk menegaskan yang terdapat pada puisi. Bila kata yang diulang pada awal kalimat dinamakan anaphora, dan jika terdapat pada akhir kalimat dinamakan evipora.
Contoh-contoh:
Kau berkertas putih
Kau bertinta hitam
Kau beratus halaman
Kau bersampul rapi.
Kalau kau mau aku akan datang
Jika kau menginginkan aku akan datang
Bila kau minta aku akan datang
Andai kau ingin aku akan datang
c. Interupsi
Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan sisipan di tengah-tengah kalimat pokok, denagn maksud untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.
Contoh: Tiba-tiba Ia-kekasih itu- direbut oleh perempuan lain.
d. Retoris
Gaya bahasa penegasan ini mempergunakan kalimat Tanya-tak-bertanya. Sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek.
Contoh-contoh:
Mana mungkin orang mati hidup lagi?!
Inikah yang kau namai bekerja?!
e. Koreksio
Dipakai untuk membetulkan kembali apa yang salah diucapkan baik yang disengaja maupun tidak.
Contoh-contoh:
Dia adikku! Eh, bukan, dia kakakku!
Gedung Sate berada di Kota Jakarta. Eh, bukan, Gedung Sate berada di Kota Bandung.
Asimdeton
Beberapa hal keadaan atau benda disebutkan berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh:
Meja, kursi, lemari ditangkubkan dalam kamar itu.
4. Gaya Bahasa Pertentangan
a. Paradoks
Majas ini terlihat seolah-olah ada pertentangan.
Contoh:
Gajinya besar, tapi hidupnya melarat.
Artinya, uang cukup, tetapi jiwanya menderita.
b. Antitesis
Majas pertentangan yang menggunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Tua muda, besar kecil, semuanya hadir di tempat itu.
c. Kontradiksio Interminis
Yaitu majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudahdikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan, disangkal lagi oleh ucapan kemudian.
Contoh:
Semuanya sudah hadir, kecuali Si Amir.
Kalau masih ada yang belum hadir, mengapa dikatakan “semua” sudah hadir.
2.4 Hakikat Nada
nada ialah suatu bunyi yang memiliki getaran yang teratur. Nada terbagi menjadi dua yakni tinggi rendah, dan panjang pendek. Warna dari sebuah nada dapat dilukiskan dengan notasi.
Nada adalah tinggi rendahnya suara ketika kita mengucapkan kata dalam suatu kalimat. Jika seseorang dalam keadaan bersedih maka orang tersebut akan berbicara dengan nada yang rendah. Lain halnya jika seseorang dalam keadaan senang/ gembira atau marah, maka orang tersebut akan berbicara/ bersuara dengan nada. Sebuah pernyataan atau perintah akan selalu disertai nada yang khas sesuai dengan keaadaan.
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
Nada tutur adalah suatu jenis unsur suprasegmental yang ditandai oleh tinggi-rendahnya arus-ujaran. Tinggi rendahnya arus-ujaran terjadi karena frekuensi getaran yang berbeda antar segmen. Bila seseorang berada dalam kesedihan ia akan berbicara dengan nada yang rendah. Sebaliknya bila berada dalam keadaan gembira atau marah, nada tinggilah yang biasanya dipergunakan orang. Suatu perintah atau pertanyaan selalu disertai nada yang khas.
Jenis-jenis nada tutur
a) Tuturan Langsung : Informasi secara lisan, diperoleh dari narasumber secara langsung, cirinya hanya dapat di dengar sekali saja
b) Tuturan Tidak Langsung : informasi yang disampaikan secara lisan dan diperoleh secara tidak langsung, cirinya dapat di dengar berulang-ulang
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. Majas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan.
Gaya bahasa perbandingan meliputi : metafora, personifikasi, asosiasi, alegori, simbolik, metonimia, litotes, sinekdoke (pars pro toto dan totem proparte), eufemisme, hiperbola, parifrasis. Sedangkan gaya bahasa sindiran meliputi : ironi, sinisme,dan sarkasme. Gaya bahasa penegasan meliputi : pleonasme, paralelisme, interupsi, retoris, koreksio, asimdeton. Gaya bahasa pertentangan meliputi : paradoks, antitesis, dan kontradiksio interminis.
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca
3.2 Saran
Gaya bahasa dipakai pengarang hendak memberi bentuk terhadap apa yang ingin disampaikan. Dengan gaya bahasa tertentu pula seorang pengarang dapat mengekalkan pengalaman rohaninya dan penglihatan batinnya, serta dengan itu pula ia menyentuh hati pembacanya. Karena gaya bahasa itu berasal dari dalam batin seorang pengarang maka gaya bahasa yang digunakan oleh seorang pengarang dalam karyanya secara tidak langsung menggambarkan sikap atau karakteristik pengarang tersebut.
EMAK
Karya Widiyati
(Dalam Kumpulan Cerpen Kupu-Kupu Bantimurung)
Emakku adalah sosok wanita yang kukagumi di dunia ini. Dia sangat sabar. Apalagi menghadapi kelakuan Mbak Ika, yang satu tahun ini mulai memburuk padanya semenjak ditinggal Bapak. Kerjanya setiap hari hanya marah dan marah melulu.
“Ratih....Ratih....Bangun!” teriak Mbak Ika.
Kulihat jam dinding masih menunjukan angka 4, ya, pagi.
“Malas,” jawabku ogah-ogahan sambil merapatkan kembali selimut.
“Ayo bangun! Jangan malas-malasan begitu,” ucapnya seraya merih selimutku kasar.
“Kenapa sih, sirik amat,” ucapku sambil mengucek-ucek mata.
“Kamu tahu nggak kunci yang aku taruh di meja makan kemarin?” tanyanya.
“Enggak,” jawabku singkat dan mengangkat bahu.
“Pasti dia lagi!”
“Dia lagi, dia lagi siapa?”
“Yaah siapa lagi kalau bukan Emak? Biang keladi semua masalah di rumah ini,” jawabnya sinis.
“Hush!! Nggak baik bilang seperti itu pada orang tua, kualat nanti.”
“Biarin saja,’ seenaknya dia manjawab sambil berlalu.
“Maak Emaak!” teriak Mbak Ika lantang.
“Ada apa Nduk?” tanya Emak.
“ tahu nggak kunci yang aku taruh di meja ini kemarin? Itu lho kunci warna putih yang ada gantunganya berbentuk mawar,” tanyanya sedikit membentak.
“ O ituu. Kemari Emak simpan di laci meja itu mungkin. Emak juga agak lupa,” jawab Emak pelan.
“ Makanya! Kalau sudah merasa pikun, jangan membenahi barang-barang yang bukan milik Emak. Yang punya barang jadi gila karena bingung mencarinya,” sungut Mbak Ika.
“Sudah-sudah.Gitu saja ribut. Yang penting kuncinya sudah ketemu. Nggak pantas didengar tetangga, setiap hari ribuuut.... Melulu,” leraiku.
“ Bukannya ’gitu. Aku kan nggak akan marah kalau Emak nggak salah. Dasar orang tua! Sudah mulai pikun,” umpatnya.
Aku hanya geleng-geleng kepala sedangkan Emak segera beranjak ke dapur dengan wajah sedih.
Pulang sekolah dengan wajah jengkel aku memasuki halaman rumah.
...
“Mak!! Emak!!!” teriak Mbak Ika.
“Pasti ada yang tidak beres,” gumamku.
“Lihat baju ini!” teriaknya sambil menyodorkan sebuah baju ke hadapan Emak.
“Ada apa dengan baju ini?” tanya Emak.
“Ada apa, ada apa, masa nggak lihat ada apa di baju ini. Lihat! Apa ini?” tanyanya dengan membentak.
“Nggak tahu, Nduk.”
“Nggak tahu, nggak tahu gimana? Tadi, saat aku cuci nggak ada noda kayak gini. Tapi kok sekarang ada? Siapa tadi yang mengambil dari jemuran?”
“Emak”
“Nah! Sekarang ngaku saja kalau memang Emak yang membuat noda di baju ini.” Bentaknya kasar.
“Benar, Nduk. Emak memang nggak tahu. Untuk apa Emak bohong sama kamu?”
` “Halaahh!! Sudah, pokoknya sekarang harus dicuci sampai bersih. Awas, kalau nanti nodanya nggak hilang, nggak aku beri uang belanja buat besok,” ancam Mbak Ika.
“Sudahlah. Biar aku saja yang mencuci baju itu,” tawarku.
“Nggak perlu! Orang tua seperti ini perlu diberi pelajaran supaya jera,” bentaknya.
Akupun langsung diam.
...
Sore hari saat aku sedang menonton TV, Mbak Ika tiba-tiba memanggilku.
“Rat, tahu nggak siapa yang membuka lemariku?” tanyanya.
“Enggak tuh. Memangnya aku masuk ke kamar Mbak,” jawabku enteng.
“Emak ke mana?” tanyanya lagi.
“Sedang tidur. Jangan diganggu dulu karena Emak agak tidak enak badan,” jawabku.
Lalu aku menguntitnya berjalan menuju kamar Emak.
“Mak bangun! Ada hal penting yang akan aku tanyakan,” ucap Mbak Ika kasar sambil menggoyang-goyangkan tubuh Emak.
Emak terbangun dengan geragapan.
“Emak tadi, buka-buka lemari pakaianku nggak?” tanyanya.
“Iya. Memangnya ada apa, Nduk?” tanya Emak agak gugup karena belum hilang rasa kagetnya.
“Nggak ada apa-apa sih. Tapi, uangku lima puluh ribu rupiah hilang. Emak yang mengambil?” tanya Mbak Ika dengan nada menuduh.
“Kalau masalah uang, Emak tidak tahu menahu, Nduk. Dan Emak tidak mengambilnya, betul Nduk,” jawab Emak melas.
“Halaahh!! Jangan pasang muka nggak berdosa kayak gitu. Aku yakin, pasti Emak yang mengambil, siapa lagi?? Namanya pencuri di mana-mana pun tidak akan ngaku kalau nggak disiksa dulu,” cerocos Mbak Ika sengit.
“Aduh Nduk, kamu nggak percaya,” ucap Emak yang mulai menangis.
“Iya Mbak. Masa nggak kasihan sama Emak. Jangan menuduh dulu sebelum ada bukti,” ucapku membela Emak.
“Ngaku nggak?! Ayo ngaku, ngaku, ngaku, ngakuuu!!,” teriak Mbak Ika sambil memukuli Emak dengan gagang sapu.
“Aduh Nduk, sakiiit,” ucap Emak kesakitan.
“Mbak!! Kamu ini punya otak nggak ha?! Dibilang sudah besar tapi nggak punya pikiran, dibilang masih kecil tapi badannya sudah bongsor. Kamu ini kejam. Sakiit tahu, sakiit. Apa kamu mau dipukuli seperti itu,” teriakku penuah amarah.
...
“Rat, Emak nggak apa-apa kan?! Tanyanya sedikit gugup.
Baru kali ini dapat kulihat sinar kekhawatiran di matanya karena selama ini, yang ada di sana hanyalah sinar kemarahan dan kebencian.
“Rat, kamu kok diam saja sich,” ucapnya gemetar.
“Ik.... Ika...,” panggil Emak lirih.
“Ya, Mak,” jawabnya pelan.
“Syukurlah kalau kamu sudah datang. Emak hanya ingin minta maaf atas segala perbuatan Emak yang kau anggap salah. Nduk, selama ini Emak merasa tidak pantas menjadi ibumu. Sebenarnya Emak haus akan kasih sayangmu, Nduk. Tapi bila kamu memang tidak menghendaki kehadiran Emak, ya tidak apa-apa,” sunyi sekejap.
“Emak sudah memaafkan segala perbuatanmu pada Emak. Dan Emak tidak menyalahkan kamu, Nduk. Karena itu Nduk, karena itu hanyalah luapan amarah semata. Emak hanya minta agar kamu tidak mengulanginya lagi. Rukun-rukunlah kamu dengan adikmu,” jelas Emak.
...
Kulihat wajah Emak yang penuh derita. Namun, di sana kutemui gurat-gurat kasih sayang dan kelegaan.
“Iya, Mak, aku pun juga mau minta .....”
“Maaaaak!!” teriakku memotong ucapan Mbak Ika.
Saat dia sadar apa yang telah terjadi, dia lunglai dan jatuh bersimpuh. Seketika dia langsung menciumi kedua kaki Emak sambil tidak berhenti memanggilnya.”
Produk berupa Teks drama dari cerpen “Emak” karya Widiyati
EMAK
(Di sebuah kamar, ada seorang gadis yang sedang tidur memakai selimutnya. Ia terbangun karena kakanya berteriak membangunkannya.)
Mbak Ika : “Ratih... Ratih... Bangun!” (berteriak sambil melepaskan selimut yang sedang dipakai Ratih)
Ratih : “Malas..” (menjawab dengan cuek. Melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4 pagi sambil merapatkan selimut)
Mbak Ika : “Ayo bangun! Jangan malas-malasan begitu..” (mengucapkannya dengan kasar dan sambil melepaskan lagi selimut dari Ratih)
Ratih : “kenapa sih? Sirik amat” (duduk dan sambil mengucek-ngucek mata)
Mbak Ika : “Kamu tahu nggak kunci yang aku taruh di meja makan kemarin?”
Ratih : “Enggak” (menjawab dengan cuek dan sambil mengangkat bahu)
Mbak Ika : “hmm..... Pasti dia lagi!” (mengucapkannya dengan nada menuduh dan sebal)
Ratih : “Dia lagi? Dia lagi siapa?”
Mbak Ika : “Yaah, siapa lagi kalau bukan Emak? Biang keladi semua masalah di rumah ini,” (menjawab dengan sinis)
Ratih : “Hush!! (jari telunjukknya diarahkan ke depan bibir). Nggak baik bilang seperti itu pada orang tua, kualat nanti.”
Mbak Ika : “Biarin saja” (langsung membalikkan badan dan berjalan keluar)
Mbak Ika : “Maak…. Emak!!!” (teriak dan sambil berjalan seperti sedang mencari Emak)
Emak : “Ada apa Nduk?”
Mbak Ika : “Tahu nggak kunci yang aku taruh di meja ini kemarin? Itu loh kunci warna putih ang ada gantungannya berbentuk mawar” (sedikit membentak dan mendesak)
Emak : “OO… itu…kemarin Emak simpen di laci meja itu mungkin (jari telunjuknya menunjuk ke sebuah meja Emak juga lupa ( menjawab dengan pelan)
Mbak Ika : “Makanya! Kalau sudah merasa pikun (jari telunjuknya menunjuk ke keningnya) jangan membenahi barang yang bukan milik Emak. Yang punya barang jadi gila karena bingung mencarinya. (tanganyamenggaruk dan mengacak rambutnya)
Ratih : “Sudah-sudah, gitu aja ribut (sambil menepuk pundak Mbak Ika) Yang penting kuncinya sudah ketemu. Nggak pantas didengar tetangga, setiap hari ribuut melulu”
Mbak Ika : “Bukanya gitu. Aku kan nggak akan marah kalau Emak nggak salah (melepaskan tangan Ratih dari pundak). Dasar orang tua! Sudah mulai pikun” (membentak dan marah-marah)
Ratih : (menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi kecewa)
Emak : (beranjak ke dapur sambil membungkukan badan dengan wajah sedih)
Ratih : (sepulang sekolah, memasuki halaman rumah dengan wajah jengkel)
Mbak Ika : “Mak!!! Emak!!” (berteriak dan berjalan mencari Emak)
Ratih : “Hmmm…. Pasti ada yang tidak beres…” (berlari mencari Emak dan Mbak Ika)
Mbak Ika : “Lihat baju ini! “ (sambil menyodorkan baju ke hadapan Emak dengan wajah jengkel)
Emak : “Ada apa dengan baju ini? “
Mbak Ika : “Ada apa, ada apa, masa nggak liat ada apa di baju ini. Lihat! (menunjukkan sebuah baju itu ke hadapan Emak) apa ini?? ”
Emak : “Nggak tahu Nduk“ (sambil menggeleng-gelengkan kepala)
Mbak Ika : “Nggak tahu? Nggak tahu gimana?? (dengan muka sangat jengkel) tadi saat aku cuci nggak ada noda kaya gini. Tapi kok sekarang ada? (marah-marah) siapa tadi yang mengambil dari jemuran? “
Emak : “Emak-emak”
Mbak Ika : “Nah! Sekarang ngaku aja kalau Emak yang membuat noda di baju ini! “ (menunjuk dan menatap sinis Emak)
Emak : “Benar Nduk, Emak memang nggak tahu (menggelengkan kepala). Untuk apa Emak bohong sama kamu?
Mbak Ika : “Halaahh!!! (mendorong Emak dengan kasar). Sudah sekarang pokoknya harus dicuci samapai bersih. Awas! Kalau nanti nodanya nggak hilang, nggak aku beri uang belanja buat besok! “ (menunjuk ke wajah Emak dan mentap Emak dengan tajam)
Ratih : “Sudahlah biar aku saja yag mencuci baju itu” (tanganya diarahkan untuk mengambil baju itu)
Mbak Ika : “Nggak perlu! (tangan Ratih disingkirkan dari baju itu dengan kasar). Orang tua seperti ini perlu diberi pelajaran supaya jera!” (membentak Ratih dan Emak)
Ratih : (langsung terdiam)
...
(Di sebuah ruangan, Ratih sedang menonton TV dan tiba-tiba Mbak Ika berteriak memanggilnya)
Mbak Ika : “Rat, tahu nggak siapa yang membuka lemariku?”
Ratih : “Enggak tuh.. (mengangkat bahu). Memangnya aku masuk ke kamar Mbak..” (menjawab dengan cuek)
Mbak Ika : “Emak ke mana?”
Ratih : “Sedang tidur. Jangan diganggu dulu karena Emak agak tidak enak badan”
Mbak Ika : (berjalan ke kamar Emak)
Ratih : (mengikuti Mbak Ika ke kamar Emak)
Mbak Ika : “Mak bangun!! (menggoyang-goyangkan tubuh Emak). Ada hal penting yang akan aku tanyakan..”
Emak : (terbangun dengan geragapan dan langsung duduk)
Mbak Ika : “Emak tadi, buka-buka lemari pakaianku nggak?”
Emak : “Iya. Memangnya kenapa, Nduk?” (agak gugup karena belum hilang rasa kagetnya)
Mbak Ika : “Nggak ada apa-apa sih. (menggeleng-gelengkan kepala). Tapi, uangku lima puluh ribu rupiah hilang. (sambil mengangkat 5 jari tangannya). Emak yang mengambil?” (dengan nada menuduh)
Emak : “Kalau masalah uang, Emak tidak tahu menahu, Nduk. (menggelengkan kepala). Dan Emak tidak mengambilnya, betul Nduk. (menganggukkan kepala dan menjawab dengan melas)
Mbak Ika : “Halaahh!! Jangan pasang muka nggak berdosa kayak gitu. Aku yakin, pasti Emak yang mengambil, siapa lagi?? (menunjuk Emak dengan telunjuknya dan menatap dengan sengit). Namanya pencuri di mana-mana pun tidak akan ngaku kalau nggak disiksa dulu”
Emak : “Aduh, Nduk, kamu nggak percaya” (Emak mulai menangis)
Ratih : “Iya Mbak. Masa nggak kasihan sama Emak. Jangan menuduh dulu sebelum ada bukti”
Mbak Ika : “(mengambil sapu). Ngaku nggak?! Ayo ngaku, ngaku, ngaku, ngakuuu!!” (berteriak dan sambil memukuli Emak dengan gagang sapu)
Emak : “Aduh Nduk, sakiiit...” (kesakitan dan tangannya diangkat menghindari pukulan)
Ratih : “Mbak!! (menyingkirkan gagang sapu yang dipegang Mbak Ika). Kamu ini punya otak nggak ha?! (jari telunjuknya menunjuk ke kepala). Dibilang sudah besar tapi nggak punya pikiran, dibilang masih kecil tapi badannya sudah bongsor. Kamu ini kejam. (jari telunjuknya menunjuk Mbak Ika). Sakiit tahu, sakiit. (mengelus-ngelus tubuh Emak yang dipukuli tadi). Apa kamu mau dipukuli seperti itu” (berteriak dengan penuh amarah)
...
Mbak Ika : “” Rat, Emak nggak apa-apa kan?! (sedikit gugup dan khawatir)
Ratih : (hanya diam tetapi matanya melihat ke arah Mbak Ika)
Emak : “Ik.... Ika...” (mengucapkan dengan lirih, pelan, dan lembut)
Mbak Ika : “Ya, Mak” (menjawab dengan pelan dan berjalan menuju kamar Emak dan Ratih menguntitnya dari belakang)
Emak : “Syukurlah kalau kamu sudah datang. Emak hanya ingin minta maaf atas segala perbuatan Emak yang kau anggap salah. (tangannya diarahkan ke dada), Nduk, selama ini Emak merasa tidak pantas menjadi ibumu. (mengelus-ngelus rambut Mbak Ika), sebenarnya Emak haus akan kasih sayangmu, Nduk. Tapi bila kamu memang tidak menghendaki kehadiran Emak, ya tidak apa-apa.. (menggelengkan kepala)”
Mbak Ika : (menatap Emak dengan penuh penyesalan akan kesalahannya)
Emak : “Emak sudah memaafkan segala perbuatanmu pada Emak (memegang pundang Mbak Ika). Dan Emak tidak menyalahkan kamu, Nduk. Karena itu Nduk, karena itu hanyalah luapan amarah semata. Emak hanya minta agar kamu tidak mengulanginya lagi (menggelengkan kepala dan mengelus rambut Mbak Ika). Rukun-rukunlah kamu dengan adikmu” (menatap Mbak Ika dengan penuh kasih sayang)
...
Mbak Ika : “Iya, Mak. Aku pun juga mau minta ....”
Ratih : “Maaaaak!!” (memotong ucapan Mbak Ika dan berlari ke arah Emak dan langsung terduduk melihat ke arah Emak yang terkaku serta memeluk erat Emak)
Mbak Ika : “(lunglai dan jatuh bersimpuh. Menciumi kedua kaki Emak) Maakk..... Emaakkk..........”
DAFTAR PUSTAKA
Agepe. 2008. Majas. Tersedia di http://goesprih.blogspot.com//. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2018.
Murtono. 2010. Menuju Kemahiran Berbahasa Indonesia. Surakarta : UNS Press.
.
Saefu Zaman. 2011. Macam-Macam Gaya Bahasa Indonesia. Tersedia di http://situsbahasa.com//. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2018.
Karsono. 2011. Ragam Gaya Bahasa. Tersedia di http://karsonojawul.blog.uns.ac.id//. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2018.
Komentar
Posting Komentar