Analisis kebutuhan buku teks

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Analisis Kebutuhan Buku Teks
Sebelum menulis buku teks yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasi oleh siswa, langkah awal yang dilakukan (calon) penulis buku teks adalah menganalisis kurikulum, menganalisis sumber belajar, dan menganalisis karakteristik siswa. Analisis ketiga sasaran tersebut yang biasa disebut analisis kebutuhan buku teks, dijelaskan sebagai berikut.
1. Analisis Kurikulum
Analisis kurikulum diarahkan pada kompetensi-kompetensi mana yang bahan ajarnya perlu dikembangkan dalam buku teks. Terkait dengan itu, penulis buku teks akan mempelajari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang menandai bahwa suatu KD telah dicapai, materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, dan sistem evaluasinya yang akan dilakukan oleh peserta didik. Untuk aspek standar kompetensi dan kemampuan dasar, sudah ada dalam kurikulum (KTSP). Dengan demikian, tugas baru penulis buku teks adalah mengembangkan aspek materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, hingga sistem pengujiannya. Dengan cara demikian, akan dapat diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan dan dikembangkan dalam buku teks dalam satu semester tertentu atau dalam satu tahun.
a. Standar Kompetensi
Standar kompetensi adalah kebulatan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Cakupannya adalah berupa standar isi berkenaan keilmuan serta standar keilmuan berkenaan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Jumlah standar kompetensi sangat tergantung pada cakupan keilmuan setiap jenis mata pelajaran dan jenjang pendidikannya. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 mengenai standar isi, mata pelajaran bahasa Indonesia SMP terdiri atas 48 standar kompetensi, mata pelajaran bahasa Inggris SMP terdiri 36 standar kompetensi, mata pelajaran matematika SMP terdiri atas 17 standar kompetensi, mata pelajaran IPA SMP terdiri atas 18 standar kompetensi dan mata pelajaran IPS SMP terdiri atas 20 standar kompetensi. Jumlah standar kompetensi mata pelajaran yang sama untuk jenjang yang lebih tinggi ada kemungkinan lebih banyak. Kalaupun jumlahnya sama, akan berbeda dari kadar kedalamannya.
b. Kompetesi Dasar
Kompetensi dasar yang dijabarkan dari standar kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, serta sikap minimal yang harus dikuasai siswa. Masing-masing standar kompetensi diturunkan ke dalam beberapa kompetensi dasar atau kompetensi minimal. Karena bersifat minimal, penulis buku teks harus dapat menyiasati secara benar ketika akan menjabarkan dalam bentuk materi pokok (bahan ajar) dan pengalaman belajarnya.
1) Materi Pokok (Materi Pemelajaran)
Materi pokok atau materi pembelajaran merupakan pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar. Oleh karena itu, materi yang dikembangkan penulis buku teks harus memerhatikan segi cakupan, jenis, serta kedalamannya. Jika dilihat dari cakupannya, materi pokok harus dapat membangkitkan keseluruhan dan keutuhan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Jika dilihat dari jenisnya, materi pokok dapat diarahkan pada ranah dan isinya.
Materi pokok yang diarahkan pada ranah harus mengarah pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sedangkan materi pokok yang diarahkan pada isi dapat berupa fakta, konsep, prinsip, rumus, aturan, dan prosedur. Jika dilihat dari kedalamannya, sajian materi pokok harus memerhatikan tahapan, susunan, variasi, dan kepaduan. Dalam hal tahapan, materi pokok harus tersaji dari yang mudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari yang konkret ke yang abstrak. Dalam hal susunan, materi pokok didasarkan atas struktur keilmuan tertentu. Dalam hal variasi, materi pokok harus memerhatikan keragaman penyajian agar lebih menarik dan tidak terkesan monoton. Dalam hal perpaduan, sajian materi pokok harus dapat mengintegrasikan berbagai aspek yang dapat mengefektifkan ketercapaian kompetensi, mulai dari aspek ilustrasi, media, sampai dengan aspek kebermaknaan dalam kehidupan.
2) Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar disebut kegiatan pembelajaran berhubungan dengan serangkaian kegiatan siswa dalam rangka pencapaian kompetensi yang telah dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator yang dipastikan sebagai cerminan kompetensi dasar. Terkait dengan itu, penulis buku teks harus dapat mendeskripsikan pengalaman belajar apa yang cocok dan diyakini dapat memunculkan indikator ketercapaian kompetensi dasar pada diri siswa.
Bagi penulis buku teks, pengalaman belajar tidak hanya diartikan sekedar kegiatan membaca uraian suatu konsep atau teori yang dikemas dalam bentuk bacaan, tetapi (lebih dari itu) pengalaman belajar haruslah menjadi kegiatan yang dapat mendorong siswa agar mampu menghayati dan mengalami sendiri, sehingga bermakna bagi mereka. Motto “siswa jangan diberi ikan, tetapi berilah kail agar mereka memperoleh ikan sendiri” patut diterapkan. Dengan demikian, kegiatan yang berupa mendemonstrasikan, memparabukutekskan, menstimulasikan, mengadakan eksperimen, menganalisis, mengaplikasikan, menemukan, mengamati, meneliti, menelaah, dan kegiatan sejenis sangat disarankan karena akan memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Bahkan, membiasakan siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata dan dialaminya sehari-hari akan dapat meningkatkan kecakapannya hidupnya. Oleh karena itu, kecakapan hidup (lifeskill) harus diperhatikan dalam pengembangan kegiatan pembelajaran.
3) Alokasi Waktu
Alokasi waktu adalah rentangan waktu yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran dalam rangka pencapaian kompetensi dasar tertentu. Alokasi waktu pembelajaran ini diperhitungkan dari hasil analisis dan atau pengalaman penggunaan jam pembelajaran efektif untuk mencapai suatu kompetensi dasar. Penulis buku teks harus dapat memperkirakan dengan tepat rentangan waktu yang diperlukan dalam setiap kegiatan pembelajaran dalam rangka pencapaian kompetensi tertentu setelah mempertimbangkan cakupan dan kedalaman materi. Makin rumit, banyak, serta luas suatu materi berarti makin banyak waktu yang diperlukan. Begitupun sebaliknya.
Berikut ini contoh analisis kurikulum yang bertumpu pada aspek-aspek yang sudah dibicarakan di atas.
Contoh: Analisis Kurikulum
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas : VII (tujuh)
Semester : 1 (satu)
Standar Kompetensi : 1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan


Kompetensi Dasar Materi Pokok/Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar
Teknik Bentuk Instrumen Contoh Instrumen
1.1 Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya Besaran dan Satuan 1. Mencari informasi tentang besaran dan satuannya
2. Merumuskan pengertian besaran dan satuan
3. Melakukan percobaan dengan menggunakan satuan besaran fisika dalam satuan internasional
4. Melakukan percobaan untuk menemukan konversi satuan panjang, masa, dan waktu dengan tangga konversi
5. Memecahkan masalah tentang besaran pokok dan besaran turunan 1. Mengidentifikasikan besaran-besaran fisika dalam kehidupan sehari-hari kemudian mengelompokkan dalam besaran pokok dan turunan
2. Menggunakan satuan Internasional dalam pengukuran
3. Mengonversi satuan panjang, masa, dan waktu secara sederhana Tes tertukis





Tes tulis


Tes tertulis PG










Isian








Isian Pasangan besaran fisika yang benar......
a. Berat dan kilogram
b. Kecepatan dan kg/jam
c. Usaha dan joule sekon
d. Massa dan newton

Satuan panjang dalam SI adalah......

Panjang meja 100 cm setara dengan ......m dan massa 100 gram setara dengan ..... kg 4x40’ Buku siswa, LKS, lingkungan sekitar, dan alat ukur

Tabel 2. Contoh Analisis Kurikulum
Kebutuhan bahan ajar dapat dilihat dari analisis di atas dan jenis bahan ajarnya dapat diturunkan dari pengalaman belajarnya. Semakin jelas uraian pengalaman belajarnya akan semakin mudah penulis buku teks mengembangkan bahan ajarnya. Jika analisis dilakukan terhadap seluruh standar kompetensi, makan akan diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan oleh penulis buku teks.
2. Analisis Sumber Ajar
Sumber belajar disebut sumber bahan, yaitu asal perolehan informasi, pengetahuan, dan pengalaman terkait dengan materi pokok atau bahan ajar yang menjadi sasaran pembelajaran. Dengan demikian, sumber bahan ajar atau sumber belajar bukan hanya buku pelajaran, melainkan juga apa saja yang dapat memunculkan informasi, pengetahuan, dan pengalaman siswa. Misalnya, sarana dan prasarana yang dipakai siswa dalam eksperimen, dan tempat (seperti pasar, museum, atau bank) yang diamati siswa dalam rangka memperoleh informasi, berbagai bentuk benda yang diamati siswa dalam rangka memeproleh ciri-cirinya, tokoh yang diwawancarai siswa, dan model yang ditiru siswa.
Secara teknis, sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan bahan ajar perlu dianalisis. Analisis dilakukan terhadap ketersediaan, kesesuaian, dan kemudahan dalam memanfaatkannya. Caranya adalah menginventarisasi ketersediaan sumber belajar yang dikaitkan  dengan kebutuhan.
Berdasarkan contoh analisis kurikulum di atas, dapat diketahui bahwa sumber belajar yang harus disiapkan penulis buku teks adalah bacaan siswa, yaitu uraian tentang besaran dan satuan, lembar kerja siswa, yaitu lembar kerja terkait dengan identifikasi besaran-besaran fisika dalam kehidupan sehari-hari kemudian mengelompokkan dalam besaran pokok dan satuan, lingkingan sekitar, yaitu deskripsi atau contoh konkret fenomena kehidupan yang terdapat di lingkungan sekitar siswa yang terkait dengan persoalan besaran dan satuan, dan alat ukut, yaitu alat yang dapat menentukan besaran dan satuan. Sumber-sumber inilah yang nantinya dapat dimanfaatkan penulis ketika mengembangkan bahan ajar pada buku teks.
3. Analisis Karakteristik Siswa
Analisis karakteristik siswa ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi dan perkembangan siswa, yaitu siswa yang akan menjadi sasaran atau yang akan membaca buku teks. Oleh karena itu, secara teknis analisis karakteristik siswa ini diarahkan pada landasan kebutuhan atau motivasi siswa sasaran (lihat kembali butir 4.3 Landasan Kebutuhan Siswa pada Bab 4).
Kebutuhan atau motivasi siswa merupakan kekuatan (energi) yang dapat menimbulkan tingkat antusiasme dan semangat dalam diri individu itu (motivasi intrinsik) mauoun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dlaam konteks belajar, bekerja, maupun dalam kehidupan lainnya. Penulis buku teks harus mengetahui kebutuhan atau motivasi siswa sasaran agar sajian bahan ajar yang terdapat dalam buku teks dapat diterima oleh siswa dengan semangat yang tinggi. Akibatnya, siswa aka lebih giat dan senang ketika mengerjakan pelatihan, pengalaman, percobaan, maupun kegiatan lainnya.

2.2 Penyusunan Peta Bahan Ajar
Setelah analisis kebutuhan buku teks (yang berupa analisis kurikulum, analisis sumber belajar, dan analisis karakteristik siswa) dilakukan, langkah berikutnya yang dilakukan penulis adalah penyusunan peta bahan ajar. Penyusunan peta bahan ajar ini dapat dilakukan setelah diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan melalui analisis kebutuhan bahan ajar yang terdapat dalam kurikulum.
Dengan penyusunan peta bahan ajar, akan diketahui:
1) Jumlah bahan ajar yang harus ditulis atau dikembangkan; dan
2) Sekuensi atau urutan bahan ajar yang akan dikembangkan dalam satuan pembelajaran tertentu.
Pengetahuan terhadap jumlah bahan ajar yang harus ditulis dalam satuan pembelajaran tertentu (satuan semester atau satuan tahun) akan sangat membantu dalam menentukan sebaran jam pembelajaran setiap bahan ajar. Cara menentukan jam pembelajaran setiap bahan ajar ini tidak jauh berbeda dengan ketika guru menentukan sebaran pokok bahasan dalam Program Semester (Promes) atau Program Tahunan (Prota).
Jumlah dan sekuensi bahan ajar ini sangat diperlukan dalam menentukan pengelompokkan dan prioritas penulisan. Bahan ajar mana yang harus disajikan terlebih dahulu dan dan bahan ajar mana yang harus disajikan kemudian. Penentuan sekuensi ini didasarkan pada jenjang kekompleksan bahan ajar yang akan disajikan. Bahan ajar yang dipandang lebih mudah tentu disajikan terlebih dahulu sebelum bahan yang dipandang sulit. Bahan ajar yang berupa pemahaman tentu disajikan terlebih dahulu sebelum bahan ajar yang berupa keterampilan.
Di samping itu, penyusunan peta bahan ajar juga dapat digunakan untuk menentukan sifat bahan ajar, apakah dependen (tergantung) atau independen (berdiri sendiri). Bahan ajar dependen adalah bahan ajar yang ada kaitannya antara bahan ajar yang satu dan bahan ajar yang lain, sehingga dalam penulisannya harus saling memerhatikan satu sama lain , apalagi kalau saling bersyarat. Sebaliknya, bahan ajar independen adalah bahan ajar yang berdiri sendiri sehingga dalam penyusunannya tidak harus memerhatikan atau terkait dengan bahan ajar yang lain.
Sebagai contoh, berikut ini Peta Bahan Ajar “pecahan” untuk Mata Pelajaran Matematika SD Kelas V Semester 2. Peta diambil dari Standar Kompetensi nomor 5, kompetensi dasar nomor 5.1.






















Diagram 13. Peta Bahan Ajar “Pecahan” untuk Mata Pelajaran Matematika  SD Kelas V Semester 2

2.3 Penyusunan Buku Teks
Secara teknis, penulisan buku teks dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) tahap perencanaan; (2) tahap pelaksanaan; dan (3) tahap pemantapan. Masing-masing tahap berisi serangkaian kegiatan yang hierarkis dan saling mengait. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud diuraikan di bawah ini.
a. Penentuan Tujuan
Berbeda dengan penulisan karya ilmiah pada umumnya , penulisan buku teks dimaksudkan untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan kurikulum pendidikan pada tingkat tertentu. Oleh karena itu, hal-hal yang tertuang dalam kurikulum pendidikan, yang memungkinkan untuk diperhatikan dalam penulisan buku teks, perlu disiasati terlebih dahulu, terutama kaitannya dengan penentuan tujuan penulisan.
Lebih jauh lagi,tujuan penulisan buku teks dapat dispesifikasikan sebagai berikut.
(1) Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa, dengan (a) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati; (b) menunjukkan stimulus yang dapat membangkitkan perilaku peserta didik; dan (c) memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan peserta didik dan orang-orang yang dapat diajak bekerja sama.
(2) Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh siswa, dalam bentuk (a) ketepatan atau ketelitian respons dan (b) kecepatan, panjangnya dan frekuensi respons.
(3) Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang perilaku siswa berupa (a) kondisi atau lingkungan fisik dan (b) kondisi atau lingkungan psikologis.

Upaya pencapaian tujuan ini memiliki arti yang sangat penting sebab keberhasilan pencapaian tujuan pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pada tingkat berikutnya.
Dalam KTSP (bidang studi apa saja) tercantum Standar Komptensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Serangkaian kompetensi inilah yang akan menjadi tujuan penulisan buku teks, yang secara substansi sudah terjabar pada “Peta Bahan Ajar” yang sudah dilakukan pada langkas kedua di atas.
Apabila diperhatikan dengan cermat, rumusan peta bahan ajar tersebut selalu mencerminkan perubahan tingkah laku atau hasil perbuatan sebagai akibat pembelajaran. Dengan demikian, paling tidak ada dua aspek yang bisa disiasati penulis buku teks terkait dengan rumusan yang berebntuk tingkah laku tersebut, yaitu:
(1) Tingkah laku bagaimana yang dapat dilaksanakan siswa; dan
(2) Tingkah laku yang bagaimana yang diharapkan dari diri siswa setelah pembelajaran berlangsung.

Apabila dilihat dari segi ranahnya, rumusan tingkah laku pada peta bahan ajar dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) rumusan yang diarahkan ke ranah kognitif; (2) rumusan yang diarahkan ke ranah psikomotor; dan (3) rumusan tujuan yang diarahkan ke ranah efektif. Sebagai pengingat, deskripsi dan indikator ketiga ranah tersebut diuraikan sebagai berikut.
1. Tujuan Ranah Kognitif
Tujuan dikatakan beranah kognitif apabila tujuan itu di arahkan kepada pengetahuan dan keterampilan intelektual. Dengan demikian, hasil pembelajarannya diarahkan ke tingkah laku intelektual. Para pakar pendidikan sepakat membagi rahan kognitif ini menjadi enam kategori (sesuai dengan pendapat Bloom), yaitu (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) aplikasi, (4) analisis, (5) sintesis, dan (6) evaluasi.
Ranah kognitif yang berkategori pengetahuan merupakan ingatan terhadap materi atau bahan yang dipelajari sebelumnya. Rumusan yang biasa dipakai untuk menunjukkan ranah kognitif yang berkategori pengetahuan ini adalah mendefinisikan, menunjukkan, menyebutkan, memilih, mengukur, menirukan, memberikan nama, menuliskan kembali.
Ranah kognitif yang berkategori pemahaman merupakan kemampuan menyerap arti atau makna dari bahan yang telah dipelajarinya. Rumusan tingkah laku yang biasa dipakai untuk menunjukkan ranah kognitif yang berkategori pemahaman ini adalah membedakan, memperkirakan, menjelaskan, menguraikan lebih lanjut, merumuskan, meringkas, dan mengubah.
Ranah kognitif yang berkategori aplikasi merupakan kemampuan menerapkan apa yang telah dipejari dalam situasi konkret. Rumusan tingkah laku yang biasa dipakai untuk menunjukkan aplikasi ini adalah menghitung, mendemontrasikan, menjalankan, mempersiapkan, menghasilkan, menunjukkan (berdasarkan konsep), memecahkan persoalan, dan menggunakan.
Ranah kognitif yang berkategori analisis adalah kemampuan untuk menguraikan suatu bahan yang dipelajari ke dalam bagian-bagian sehingga struktur atau sistemnya bisa dipahami. Rumusan tingkah laku yang biasa dipakai untuk menunjukkan analisis adalah memerinci, membuat diagram, membedakan, menyisihkan, mengidentifikasi, menghubungkan, memisahkan, memilih (bagian-bagian), menguraikan, dan mempertimbangkan.
Ranah kognitif yang berkategori sintesis adalah kemampuan menghubungkan bagian-bagian untuk membentuk suatu yang baru. Rumusan tingkah laku yang biasa dipakai untuk menunjukkan sintesis ini adalah membandingkan, menyimpulkan, menyusun, mengorganisasikan, dan mengombinasikan.
Ranah kognitif yang berkategori evaluasi adalah kemampuan untuk mempertimbangkan nilai suatu bahan yang telah dipejari setelah dihubungkan dengan hal-hal atau maksud-maksud tertentu. Rumusan tingkah laku yang biasa dipakai untuk menunjukkan evaluasi ini adalah menilai, mengkritik, menafsirkan, dan memutuskan.
1. Tujuan Ranah Psikomotor
Tujuan dikatakan beranah psikomotor apabila tujuan itu diarahkan kepada keterampilan fisik atas bahan yang telah dipelajari. Dengan demikian, hasil pembelajarannya diarahkan kepada tingkah laku yang menggunakan syaraf dan otot badan. Beberapa jenis mata pengajaran studi memang ada yang tidak memerlukan keterampilan psikomotor ini sebab yang diperhatikan atau yang dijadikan sasaran hanyalah pengetahuan dan sikap saja. Sebaiknya, mata pelajaran tertentu, misalnya bidang studi seni lukis, seni musik kerajinan, dan olah raga, sangat memerlukan keterampilan psikomotor ini. Para ahli tidak memberikan kategorisasi atau penjenjangan ranah psikomotor ini, sebagaimana yang terdapat pada ranah kognitif dan afektif. Namun demikian, rumusan tingkah laku yang menandakan ranah psikomotor bisa berupa hal-hal berikut, yaitu menggunakan (alat), mengucapkan (bunyi), menirukan (gerakan), membuat (lukisan), memperagakan (tindakan), merakit (alat), dan memperbaiki (radio rusak).
2. Tujuan Ranah Afektif
Tujuan dikatakan beranah afektif apabila tujuan ini diarahkan kepada penyikapan atau perasaan atas bahan yang dipelajarinya. Ranah afektif ini dipilahkan menjadi lima kategori, yaitu (1) penerimaan, (2) pemberian respons, (3) penilaian, (4) pengorganisasian nilai, (5) pemeranan atau pelukisan watak.
Ranah afektif yang berkategorikan penerimaan berupa kemauan atau keberterimaan siswa dalam mengikuti fenomena dalam pembelajaran bahan tertentu, baik secara individu maupun kelompok. Kemauan, kesadaran, dan dorongan untuk mempelajari bahan pelajaran ini bisa terlihat pada rumusan berikut, yaitu menanyakan (permasalahan yang dianggap kurang dipahami), menjelaskan (hal-hal yang dianggap perlu), menggunakan (teori yang diperolehnya), mengikuti (saran yang tertuang dalam bahan) dan mencoba (resep yang tertuang dalam bahan).
Ranah afektif yang berkategori pemberian respons berupa reaksi siswa, baik berupa tindakan maupun pemikiran, berkenaan dengan partisipasi buku teks dalam pembelajaran. Rumusan tindakan yang bisa menunjukkan kategori pemberian respon ini adalah menjawab (pertanyaan atau masalah yang sedang muncul), membantu (siswa lain yang belum paham terhadap bahan yang sedang dipelajari), mendiskusikan (permasalahan secara sukarela), melaporkan (hasil kegiatan mandiri), dan meringkas (bahan yang dipelajari untuk mempermudah pemahaman).
Ranah afektif yang berkategori penilaian berupa penghargaan siswa terhadap objek, gejala atau tingkah lakuyang berkaitan dengan pembelajaran. Rumusan yang tampak pada kategori ini adalah mengajukan (saran), mengerjakan (sesuai dengan langkah-langkah tertentu), memilih (alternative tertentu), dan menentukan (kategori yang paling cocok).
Ranah afektif yang berkategori pengategorian nilai berupa pemersatuan dan penghubungan nilai-nilai yang berbeda, termasuk melihat persamaan dan perbedaannya rumusan yang biasa digunakan dalam kategori pengorganisasian nilai-nilai ini, antara lain membedakan, menyamakan, menghubungkan, membandingkan, menyatukan, melengkapi, dan memadukan (nilai-nilai atau system yang dipelajari).
Ranah afektif yang berkategori pemeranan atau pelukisan watak berupa penampilan yang relative tetap dalam rangka pengontrolan diri dan pembentukan kepribadian. Rumusan yang biasa digunakan dalam kategori pemeranan atau pelukisan watak ini adalah melakukan (tindakan yang dianggapnya cocok), berlaku sebagai (person yang dianggap model ideal), dan memperbaiki (tindakan yang salah).
Jenis ranah kategori dan rumusan tujuan pembelajaran yang ditemukan dalam GBPP akan diwujudkan dalam sajian bahan pelajaran, setelah ditentukan terlebih dahulu tujuan yang akan dikembangkan. Setelah itu, barulah memerlukan atau memilih bahan pelajaran yang sesuai.

b. Pemilihan Bahan
Bahan ajar yang akan dikembangkan dalam buku teks secara eksplisit sudah tercantum dalam peta bahan ajar. Namun demikian, yang menjadi masalah bagi penulis buku teks adalah bagaimana wujud bahan ajar yang dimaksud? Sebab, yang tercantum dalam peta bahan ajar hanyalah pokok-pokoknya saja. Oleh karena itu, penulis buku teks perlu memahami pengertian dan sosok bahan ajar.
Menurut Kemp (1977), yang dimaksud dengan bahan ajar adalah gabungan antara pengetahuan (fakta dan informasi rinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan, syarat-syarat), dan sikap. Sementara itu, Merill (1977) membedakan isi bahan ajar menjadi empat, yaitu fakta, konsep, prosedur dan prinsip.
(1) Bahan ajar disebut fakta apabila berisi sesuatu yang biasanya diminta untuk diingat.
(2) Bahan ajar disebut konsep apabila berisi suatu definisi, cirri khas suatu hal, dan klasifikasi suatu hal.
(3) Bahan ajar disebut prosedur apabila berisi penjelasan tentang langkah-langkah kegiatan, prosedur pembuatan sesuatu, cara-cara memecahkan masalah, dan urut-urutan suatu peristiwa.
(4) Bahan ajar disebut prinsip apabila berisi penjelasan tentang hubungan antara beberapa konsep, hasil hubungan antar berbagai konsep, dan tentang keadaan suatu hal.

Bahan ajar yang lengkap tentu mengandung keempat jenis isi tersebut. Namun demikian, jenis isi bahan pelajaran sangat bergantung pada tujuan penulisan buku teks.
Dalam pemilihan dan penentuan bahan ajar, tidak lepas dari filsafat dan teori pembelajaran yang dikembangkan. Pengembangan pembelajaran yang berdasarkan pada filsafat klasik, penguasaan bahan ajar menjadi hal yang utama, dengan kemungkinan bentuk berikut.
(1) Teori, yaitu seperangkat konstruksi atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan-hubungan antara variable-variabel dan maksud menjelaskan dan meramaikan gejala tersebut.
(2) Konsep, yaitu suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
(3) Generalisasi, yaitu kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembukuteksan dalam penelitian.
(4) Prinsip, yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
(5) Prosedur, yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
(6) Fakta, yaitu sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat, serta kejadian.
(7) Istilah, yaitu kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
(8) Contoh/ilustrasi, yaitu hal, tindakan, atau proses yang bertujuan memperjelas suatu uraian atau pendapat.
(9) Definisi, yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
(10) Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.

Sementara itu, pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memerhatikan tentang kebutuhan, minat dan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, bahan ajar harus diambil dari dunia siswa dan oleh siswa. Pembelajaran yang didasarkan pada filsafat kontruks bukuteksvisme, bahan ajarnya dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topic-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam.
Berdasarkan pemaparan di atas, tampaklah bahwa filsafat yang melandasi pengembangan pembelajaran akan berdampak pada penentuan warna bahan ajar. Namun, dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan bahan ajar yang beranjak hanya dari satu filsafat tertentu. Dalam praktiknya, cenderung digunakan secara eklebuku teksk dan fleksibel.
Berkenaan dengan penentuan bahan ajar dalam KTSP, penulis buku teks mempunyai wewenang penuh untuk menentukan bentuk bahan ajarnya. Yang terpenting adalah bahan ajar sesuai dengan standar kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Dalam prabuku teksknya, untuk menentukan bahan ajar penulis buku teks perlu memperhatikan hal-hal berikut.
(a) Sahih (valid), yaitu materi yang dituangkan dalam buku teks benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Di samping itu, materi yang diberikan merupakan materi yang aktual, tidak ketinggalan zaman, dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan.
(b) Tingkat kepentingan, yaitu materi yang dipilih benar-benar diperlukan siswa. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari.
(c) Kebermaknaan, yaitu materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non-akademis. Manfaat akademis, yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. Sementara itu, manfaat non-akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
(d) Layak dipelajari, yaitu materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat.
(e) Menarik minat, yaitu materi yang dipilih dapat menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajari lebih lanjut, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.

Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan bahan ajar. Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang rangkaian susunan bahan ajar sebagai berikut:
1. Rangkaian kronologis, yaitu susunan bahan ajar yang mengandung urutan waktu.
2. Rangkaian kausal, yaitu susunan bahan ajar yang mengandung hubungan sebab-akibat.
3. Rangkaian struktural, yaitu susunan bahan ajat yang mengandung struktur materi.
4. Rangkaian logis, yaitu susunan bahan ajar yang dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. Menurut rangkaian logis, bahan ajar disusun dari yang nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari fungsi ke struktur, dan dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.
5. Rangkaian psikologis, yaitu susunan bahan ajar yang dimulai dari keseluruhan menuju bagian-bagian, dan dari kompleks menuju sederhana.
6. Rangkaian spiral, yaitu susunan bahan ajar yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam, dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks.
7. Rangkaian ke belakang, yaitu susunan bahan ajar yang dimulai dari langkah akhir dan mundur ke belakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliputi lima langkah sebagai berikut (a) pembatasan masalah; (b) penyusunan hipotesis; (c) pengumpulan data; (d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes. Dalam prabuku teksnya, sajian bahan ajar dimulai dari langkah (a) sampai (d), dan siswa diminta untuk membuat interpretasi hasilnya pada langkah (e). Pada kesempatan lain, penulis menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan siswa diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d), dan seterusnya.
8. Rangkaian berdasarkan hierarki belajar, yaitu susunan sajian bahan ajar yang dimulai dari menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki atau urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai siswa, berturut-turut, sampai dengan perilaku terakhir.

c. Penyusunan Kerangka
Kerangka adalah garis besar atau rancangan isi buku teks yang dikembangkan dari peta bahan ajar yang telah ditentukan. Ide-ide atau gagasan-gagasan yang terdapat dalam kerangka pada dasarnya adalah penjelas atau ide bawahan dari butir-butir yang terdapat dalam peta bahan ajar. Hal-hal yang bersangkut-paut dengan ide bawahan ini bisa berupa; pengertian, klasifikasi, ciri atau indikator, syarat, tujuan, cara atau teknik/strategi, hubungan dan dampak atau akibat. Hal-hal mana yang akan dimasukkan dalam kerangka bergantung pada tipe bahan ajar yang akan dikembangkan.
Pada sisi lain, karena pengertian, sifat dan fungsi kerangka yang demikian, maka suatu kerangka buku teks harus memenuhi syarat; utuh, rinci, dan sistematis. Suatu kerangka dikatakan utuh apabila bagian-bagian yang di dalamnya menjelaskan semua permasalahan yang terdapat dalam peta bahan ajar. Kerincian suatu kerangka ditandai oleh adanya gagasan-gagasan penjelas yang diperlukan oleh gagasan utamanya. Suatu kerangka dikatakan sistematis apabila penataan bagian-bagian yang terdapat dalam kerangka tersusun berdasarkan pola penalaran tertentu.
Agar dapat menyusun kerangka buku teks berdasarkan peta bahan ajar yang telah Anda tentukan, Anda harus memahami dan mempunyai wawasan yang mendalam setiap topik-topik atau gagasan yang sudah ada. Pemahaman dan wawasan atas topik ini bisa Anda peroleh dengan jalan membaca secara cermat buku-buku referensi dan sumber-sumber lain yang sesuai. Dengan cara demikian, Anda tidak akan mengalami kesulitan dalam penyusunan kerangka buku teks.
Secara teknis, setidaknya ada lima tahapan yang bisa Anda lakukan dalam penyusunan kerangka.
1) Amatilah semua rumusan topik atau gagasan yang terdapat pada peta bahan ajar yang telah Anda kembangkan dari seluruh kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum (KTSP) bidang studi pada kelas tertentu.
2) Kelompokkan gagasan-gagasan yang terdapat dalam peta bahan ajar berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, gagasan yang menyangkut pengertian, klasifikasi, ciri, syarat, tujuan, cara, hubungan. Dampak dan sebagainya.
3) Urutkan kelompok-kelompok gagasan tersebut secara sistematis. Misalnya, berdasarkan pola urutan apa, bagaimana, mengapa, dan sebagainya. Pola urutan waktu pola urutan sebab-akibat, atau pola urutan lain.
4) Sekiranya hasil pada langkah ketiga masih Anda anggap rumpang, lengkapilah dengan menambahkan gagasan atau kelompok gagasan baru. Atau, sebaliknya, sekiranya berlebih, hilangkan gagasan atau kelompok gagasan yang Anda anggap tidak perlu.
5) Sesuaikan kerangka Anda berdasarkan pola atau konvensi kerangka buku teks yang Anda anut.

Apabila kelima tahapan tersebut Anda lakukan dengan cermat, kerangka buku teks yang Anda susun diharapkan telah memenuhi persyaratan kerangka yang baik. Namun demikian, sebagai pemantapan, berdasarkan kerangka yang telah Anda susun tersebut, selayaknya Anda menjawab serangkaian pertanyaan penting berikut.
1. Apakah hal-hal yang bersangkut-paut dengan topik atau gagasan utama yang terdapat dalam peta bahan ajar sudah tertampung atau terbahas? Jika ada gagasan penjelas yang menyangkut topik belum tertampung, Anda segera menambahkannya!
2. Apakah ada gagasan penjelas yang tidak bersangkut-paut dengan topik? Jika ada, segera singkirkan atau keluarkan dari bagian kerangka!
3. Apakah tujuan penulisan yang ingin Anda capai sudah terjawab? Jika belum, lengkapi kerangka Anda sampai tujuan penulisan terjawab!
4. Apakah penataan kerangka sudah sistrematis dan sudah mengikuti pola pengembangan tertentu? Jika belum, tatalah kembali sampai menjadi sistematis dan mengikuti pola pengembangan tertentu!
5. Apakah pembagian bab dan subbabnya sudah seimbang? Jika belum, seimbangkan dengan jalan penambahan bab atau subbab yang sesuai!

Serangkaian pertanyaan tersebut pada dasarnya merupakan pengecekan terhadap kualitas kerangka buku teks yang telah Anda susun. Juga, menguji pemahaman dan kesadaran Anda terhadap kerangka buku teks terkait dengan pengembangan topik yang terdapat dalam peta bahan ajar. Sebab, penguasaan Anda atas kerangka yang terkait dengan topik-topik tersebut merupakan modal bagi Anda untuk bisa melakukan proses berikutnya.

d. Pengumpulan Bahan
Yang dimaksud dengan bahan adalah segala informasi yang terkait dengan topik, baik berupa konsep, data, atau hal-hal lain yang mempunyai relevansi dengan topik. Bahan-bahan yang berupa konsep dapat Anda peroleh di literatur-literatur baku, yaitu literatur yang ditulis oleh para ahli di bidangnya dan yang menjadi rujukan utama bagi bidang studi yang bersangkutan. Apabila konsep ini menyangkut pengertian istilah, Anda bisa mengutipnya di kamus istilah atau ensiklopedi yang baku. Bahan-bahan yang berupa data dapat Anda peroleh di intansi terkait. Misalnya, jika Anda memerlukan data penduduk, Anda bisa memperolehnya di Dinas Kependudukan. Atau, jika Anda memerlukan data industri kecil, Anda bisa memperolehnya di Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini, tidak ada alasan lagi bagi Anda mengatakan sulit mencari bahan. Semuanya bisa Anda akses via internet. Ratusan situs di internet menyajikan berbagai informasi untuk keperluan apa saja, termasuk keperluan Anda. Tinggal bagaimana kemauan dan kelincahan Anda melacaknya/
Yang perlu Anda pertimbangkan terkait dengan pemerolehan bahan ini adalah bahan yang Anda peroleh harus bisa dipertanggungjawabkan dari segi kualitas dan keakuratannya. Oleh karena itu, dari mana Anda memperoleh bahan tersebut haruslah jelas sumbernya. Tentu saja, sumber dari tangan pertama lebih diutamakan daripada sumber dari tangan kedua, ketiga, dan seterusnya/
Dari berbagai yang telah Anda peroleh atau yang ada di hadapan Anda, tidak semuanya layak Anda manfaatkan untuk penulisan buku teks Anda. Ada serangkaian syarat bahan yang layak Anda manfaatkan, yaitu sebagai berikut.
1. Bahan harus relevan. Bahan yang Anda manfaatkan adalah bahan yang mempunyai relevansi tinggi dengan topik Anda. Relevansi ini bisa diukur dengan menjawab pertanyaan, “Bahan ini mendukung atau menjelaskan bagian apa dari topik?” jika Anda bisa menjawabnya, berarti bahan itu ada relevansinya.
2. Bahan harus aktual. Keaktualan ini terkait dengan kemutakhiran sumber bahan. Bahan-bahan dari sumber yang mutakhir tentu lebih aktual bila dibandingkan dengan bahan-bahan yang diperoleh dari sumber lama. Literatur edisi terakhir atau tahun terakhir tentu lebih aktual daripada edisi sebelumnya. Begitu juga tentang data. Data hasil sensus kesehatan tahun 2006 tentu lebih aktual daripada data hasil sesnsus kesehatan tahun 2000. Begitu juga seterusnya.
3. Bahan harus objektif. Bahan-bahan dikatakan objektif apabila menyajikan apa adanya tanpa ada kesan atau penilaian tertentu dari peneliti atau pengamat. Misalnya, bahan yang berupa data dikatakan objektif apabila disajikan dalam bentuk angka atau persentase, bukan dalam bentuk penilaian baik, buruk, banyak, sedikit, tinggi, rendah dan sejenisnya.
Data semacam ini tidak bisa dipakal sebagai sumber bahan. Misalnya, data yang disampaikan oleh organisasi tertentu dengan maksud untuk mendiskreditkan atau memojokkan pihak tertentu. Dari serangkaian persyaratan tersebut, Anda harus bisa memilih dan memilahnya. bahan mana yang layak Anda pakai dan bahan mana yang tidak layak Anda pakai untuk keperluan buku teks anda.
Ada berbagai tipe bahan yang dapat Anda manfaatkan untuk keperluan buku teks Anda. Secara garis besar, bahan penulisan ini bisa bertipe konsep, dokumen, arsip, data statistik. dan data pangan. Tipe-tipe tersebut dijelaskan sebagai berikut.
a. Tipe Bahan Berupa konsep
Tipe bahan yang berupa konsep ini bisa Anda telusuri di buku-buku referensi. ensikiopedi, artikel, makalah, atau tulisan-tulisan ilmiah Iainnya yang terkait dengan bidang yang Anda tulis. Yang termasuk tipe konsep ini adalah pengertian istilah, klasiflkasi konsep, dan pendapat para ahli mengenai suatu hal.
Ketika Anda membaca buku referensi, pada dasarnya Anda melacak bahan yang bertipe konsep ini. Oleh karena itu, Anda harus bisa menemukan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan dari segi isi dan keilmiahannya. Sumber-sumber kadar keilmiahannya tinggi biasanya ditulis oleh para ahli di bidang nya. walau pun tulisan tersebut berbentuk artikel. Jadi. yang Anda pakai sebagai patokan bukan tebal atau mahalnya buku, tetapi kualitas dan keakuratannya.
Kegunaan tipe bahan berupa konsep bagi penulisan buku teks antara lain sebagai berikut.
1. Memantapkan konsepkonsep yang terdapat pada topik.
2. Menentukan indikator dan klasifikasi setiap konsep yang terdapat dalam topik.
3. Mengetahui teori-teori yang terkait dengan topik.
b. Tipe Bahan Berupa Dokumen
Tipe bahan berupa dokumen ini bisa Anda lacak dl lembaga-lembaga terkait. Bahan bertipe dokumen Ini Anda perlukan apabila topik buku teks Anda memang terkait dengan dokumen tertentu Yang termasuk bahan dokumen ialah undang-undang, peraturan, keputusan, anggaran dasar, dan sebagainya. Karena dokumen Ini tidak dirahasiakan, tentu Anda bisa memperolehnya secara legal, asalkan dilakukan sesuai dengan prosedur.
Kegunaan tipe bahan berupa dokumen bagi penulisan buku teks antara lain:
1. Dasar rasionalisasi penentuan topik.
2. Dasar penentuan kriteria ketercapaian suatu kebijakan.
3. Dasar rujukan Iegal-formal daIam penentuan kebijakan.
4. Dasar perbandingan antara harapan dan kenyataan.
c. Tipe Bahan Berupa Arsip
Yang dimaksud dengan arsip adalah buku-buku teks tertulis yang disimpan oleh Iembaga tertentu sebagai bagian dari proses administrasi. Dalam pembahasan ini, arsip sengaja dibedakan dengan dokumen karena arsip diartikan secara khusus. Dengan demikian yang termasuk arsip ini adalah surat surat yang permah dikeluarkan dan diterima lembaga, rencana dan Iaporan kerja lembaga, rekaman kegiatan lembaga, dan buku teks-buku teks-buku administrasi lainnya.
Kegunaan tipe bahan berupa arsip bagi penulisan buku teks antara lain:
1. Mengetahui profil kerja atau portofolio sebuah lembaga, instansi, atau organisasi
2. Mengetahui administrasi suatu lembaga, instansi, atau organisasi.
3. Mengetahui fokus kegiatan lembaga, instansi, atau organisasi.
4. Mengetahui penerapan visi, misi. dan tujuan suatu lembaga, instansi, atau organisasi. '
Mengetahui ketercapaian visi, misi, dan tujuan suatu lembaga, instansi, atau organisasi.
d. Tipe Bahan Berupa Data Statistik
Tipe bahan berupa data statistik ini adalah hasil rekaman suatu lembaga, instansi, atau organisasi atas suatu objek atau sasaran yang menjadi bidang garapan atau perhatiannya. Oleh karena itu, data ini bisa Anda manfaatkan sekiranya Anda memerlukannya karena terkait dengan permasalahan yang Anda kaji dalam buku teks. Setiap lembaga, instansi, atau organisasi yang professional biasanya mempunyai data statistik ini. Minimal, data statistik tentang keadaan lembaganya.
Kegunaan tipe bahan berupa data statistik bagi penulisan buku teks antara Iain:
1. Dasar rasionalisasi penjabaran topik.
2. Mengetahui kondusi yang terkait dengan topic
3. Pijakan awal dalam pemfokusan dan pengembangan data.
4. Bahan perbandigan temuan data Iapangan.
e. Tipe Bahan Berupa Data Lapangan
Ada berbagai cara yang bisa Anda lakukan untuk memperoleh data Iapangan ini. Anda bisa melakukannya dengan mengobservasi atau mengamati langsung ke sasaran, berpartisipasi atau terlibat langsung ke dalam kedalam komunitas sasaran, melakukan wawancara kepada informan atau narasumber, memberikan angket kepada subjek penelitian, memberikan tes, dan sebagainya. dari sekian banyak cara terebut, cara mana yang Anda pilIh sangat bergantung pada jenis data yang ingin Anda dapatkan.
Kegunaan tipe bahan berupa data lapangan bagi penulis buku teks antara Iain:
1. Pemantapan topik dijelaskan dalam buku teks.
2. Bahan diskusi siswa terkait dengan topik yang dibicarakan.
3. Bahan perbandingan antara harapan dan kenyataan.
Serangkaian kegunaan ini pun tidak akan Anda terapkan semuanya. Anda hanya memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan buku teks Anda.
Selain sumber-sumber di atas. lingkungan juga merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki niIai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar sosial. Jika Anda (sebagai penulis buku teks) jeli mengamati lingkungan sekitar. maka sesungguhnya banyak sumber bahan yang dapat Anda manfaatkan untuk kepentingan penulisan buku teks.
Lingkungan yang dapat Anda manfaatkan untuk penulIsan buku teks dapat berupa (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memelihara dan melestarikan alam.
Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara mengarahkan siswa sasaran untuk mengamati lingkungan tertentu sesuai dengan topik bahasan. misalnya dengan melakukan kegiatan dengan membawa peserta disik ke lingkungan, seperti survei, karya wisata, berkernah, praktIk lapangan dan sebagainya.
Pemanfaatan lingkungan juga dapat dilakukan dengan membawa lingkungan ke dalam kelas. seperti menghadirkan narasumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan Iingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif. Penulis buku perlu menyusun perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak Ianjut yang ielas.
Jika dikaitkan dengan pembelajaran dalam konteks KTSP, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar kiranya penting mkirkan oleh penulis buku teks sehingga siswa tidak hanya belajar secara tekstuaI-verbalistik. tetapi dapat pula belajar secara Kontekstual dengan kebidupan nyata yang jauh lebih berharga dan menyenangkan.

e. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan ini. yang perlu Anda Iakukan sebagai penulis buku teks adalah menguraikan setiap bahan ajar dalam bentuk wacana atau rangkaian kalimat yang utuh. Sehubungan dengan itu, haI-hal yang perlu diperhatikan pada saat menguraikan bahan ajar adalah (1) sistematika penulisan; (2) teknik perujukan; (3) penampilan tabel, gambar. dan ilustrasi visual; dan (4) pengetikan.
1) Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan adalah tata cara menuliskan bagian-bagian yang terdapat dalam buku teks dan tata cara menandai perangkat-perangkatnya. Bagian-bagian ini berupa subjudul dan Subsubjudul. Kesistematisan penuoisan setiap subjudul dan dan penandaan setiap peringkatnya ini selain akan mempermudah pemahaman pembaca. juga menggambarkan penguasaan Anda terhadap masalah yang Anda telaah. Oleh karena itu, sistematika penulisan yang tidak konsisten alih-alih disebut amburadul menandakan penulisnya kurang. bahkan tidak memahami topik yang ditulisnya. Sedikitnya ada tiga cara atau model penulisan subjudul yang blasa terdapat pada buku teks. Anda bisa memilih, satu diantaranya.
1) Model Pertama
Setiap peringkat pada model pertama ini ditulis dengan model angka digit. Jumlah digit menandakan posisi peringkatnya.
Peringkat 1: ditulis dengan huruf kapital semua dan diletakkan di tengah. Peringkat ini ditandai dengan penggunaan kata 8A3 dan angka romawi yang menandakan urutan bab.
Peringkat 2: ditandai dengan angka dua digit. yang dipisahkan oleh titik di antaranya. Subjudul pada peringkat ini ditulis dengan huruf kapital awal kata. digarisbawahi. dan di tepi kiri.
Peringkat 3: ditandai dengan angka tiga digit. yang dipisahkan oleh titik di antaranya. Subjudul pada peringkat ini ditullis dengan huruf kapital awal kata. digarisbawahi. dan di tepi kiri.
Peringkat 4: ditandai dengan angka empat digit, yang dipisahkan oIeh titik di antaranya. Subjudul pada peringkat ini ditullis dengan huruf kapital awal kata. digarisbawahi. dan di tepi kiri.
Peringkat 5: ditandai dengan angka lima digit. yang dipisahkan Oleh titik di antaranya. Subjudul pada peringkat ini ditullis dengan huruf kapital awal kata. digarisbawahi. dan di tepi kiri.
Jadi. walaupun antara peringkat 2 sampai dengan 5 dutulus secara sama. yang membedakan adalah jumlah angka digitnya.



2) Model Kedua
Pada model kedua ini. setiap peringkat ditulis secara selang-seling antara angka dan huruf yang membedakan adalah angka dan hurufnya.

f. Tahap Penyajian Visual dalam Bentuk Gambar
Selain dalam bentuk Tabel, penyajian visual juga bisa dalam bentuk gambar. Penyajian gambar ini pun, selain bisa membantu penyajian verbal, juga dapat mempercepat pemahaman pembaca secara utuh. Oleh karena itu, gambar tida hanya dimaksudkan membangun deskripsi, tetapi bisa dimaksudkan untuk menekankan hubungan hal tertentu yang signifikan.
Terkait dengan tu, yang dimaksud dengan gambar dalam pembahasan ini bukan gambar ilustrasi sebagaimana yang terdapat dalam karya fiksi ataupun komik, tetapi beruka grafik, peta, diagram, sketsa/bagan, dan sajian gambar lain yang biasa terdapat dalam karya ilmiah. Konsekuensinya, penyajian visual berbentuk gambar karya ilmiah, termasuk buku teks, haruslah jelas, sederhana, dan sistematis.
Secara teknis penyajian visual dalam bentuk gambar mengikuti tata cara sebagai berikut:
a. Nama gambar ditaruh di bawah gambar, bukan di atasnya. Tata cara penulisan nama gambar sama dengan tata cara penulisan nama pada tabel
b. Kata Gambar ditulis disebelah kiri, sejajar dengan batas kiri gambar, diikuti nomot dan nama gambar
c. Kalau gambar lebih dari satu pada setiap bab, nomor gambar ditulis dengan angka Arab dua digit. Digit pertama menunjukkan nomor bab, digit kedua menunjukkan nomor urut gambar pada bab yang bersangkutan.
d. Nama gambar ditulis dengan huruf kapital setiap awalnya (kecuali, kata depan dan kata hubung). Apabila lebih dari satu baris, baris kedua dan seterusnya ditulis sejajar dengan huruf pertama nama gambar.
e. Gambar harus bisa menyampaikan ide dengan jelas dan dapat dipahami tanpa harus menggunakan penjelasan.
f. Gambar harus efisien sebab terlalu banyak gambar akan mengurangi nilai penyajian gambar.
g. Jika ukuran gambar melebihi setengah halaman, gambar ditempatkan pada halaman tersendiri, terpisah dengan teks. Jika ukuran gambar sama atau kurang dari setengah halaman, gambar diintegrasikan dengan teks.
h. Jika gambar diintegrasikan dalam teks, jarak teks antara sebelum dan sesudah gambar adalah tiga spasi.
Gambar-gambar yang sifatnya mendukung isi materi sangat dibutuhkan, karena di sampin memperjelas penjelasan juga dapat menambah daya tarik siswa untuk mempelajarinya.
1) Pengetikan
Naskah buku teks yang Anda susun harus Anda ketik dengan rapi. Terkait dengan pengetikan ini, perhatikan rambu-rambu berikut:
1. Gunakan kertas HVS putih berukuran kuarto (ukuran 20x28), 70 gram (minimal)
2. Bidang pengetikan berjarak 4cm dari tepi kiri kertas, dan 3cm dari tepi kanan, tepi atas, dan tepi bawah.
3. Gunakan pengetikkan dengan komputer agar lebih efektif dan efisien, terutama memudahkan Anda ketika perbaikan atau penyuntingan.
4. Gunakan jenis huruf yang baku, misalnya Times New Roman, Verdana, atau Arial.
5. Jarak pengetikan teks adalah dua spasi (spasi ganda). Dengan ukuran 11 atau 12 point, kecuali keterangan tabel dan gambar diketik dengan ukuran satu spasi (spasi tunggal).
6. Pengetikan judul bab dimulai dari spasi keempat dari tepi atas bidang pengetikan. Jarak antara judul bab dan teks juga empat spasi
7. Jarak antara akhir subjudul bab dan teks adalah tiga spasi, begitu juga antara teks dan awal subjudul bab.
8. Awal paragraf dimulai setelah ketikan kelima dari batas kiri bidang pengetikan. Jarak antar-paragraf sama dengan jarak dalam teks
9. Hindari penggunaan bidang pengetikan dengan cara rata kanan (allignright) karena bisa berakibat tidak beraturannya penggunaan spasi antarkata dalam teks. Gunakanlah cara rata kiri saja (allignleft)
10. Gunakan cara-cara pemenggalan kata sesuai dengan aturan penggunaan ejaan.
11. Judul tabel dan gambar harus diketik pada halaman yang sama dengan halaman isi tabel dan gambar.
12. Penomoran halaman:
1. Bagian inti dan bagian akhir buku teks diberi nomor dengan angka arab secara urut mulai angka 1 di pojok kanan atau pada setiap halaman; kecuali halaman pertama setiap bab, nomor ditulis dibagian bawah halaman secara simetris.
2. Bagian awal buku teks diberi nomor dengan angka romawi kecil (i, ii, iii, dst) ditengah bawah setiap halaman.




a. Tahap pemantapan
Pada tahap pemantapan ini yang perlu dilakukan adalah (1) pengecekan validitas bahan sajian, (2) pengecekan sistematika, (3) pengecekan bahasa, dan (4) pengecekan penampilan tabel, gambar, dan ilustrasi secara visual.
1) Pengecekan Validitas Isi Bahan Sajian
Dalam pengecekan validitas bahan sajian, yang diperhatikan oleh penulis buku teks adalah sebagai berikut:
1. Apakah teori, konsep, dan generalisasi yang disajikan sudah sesuai dengan standar keilmuan yang diikuti?
2. Apakah definisi, prinsip, dan proposisi yang dirumuskan sesuai dengan teori yang dianut?
3. Apakah fakta, contoh, dan ilustrasi yang ditampilkan sesuai dan mendukung teori dan prinsip yang digunakan?
4. Apakah prosedur yang digunakan untuk memperoleh generalisasi sudah mengikuti prinsip-prinsip ilmiah?
2) Pengecekan Sistematika
Dalam pengecekan sistematika sajian, yang diperhatikan oleh penulis buku teks adalah sebagai berikut:
1. Apakah penomoran antarbab atau antarbagian sudah konsisten dan hierarkis?
2. Apakah penulisan huruf pada bab dan subbab sudah konsisten dan hierarkis?
3. Apakah urutan penyajian setiap bab sudah mengikuti pola tertentu yang konsisten?
4. Apakah bagian-bagian pelengkap yang menandai ciri atau sosok buku teks sudah terpenuhi?
3) Pengecekan bahasa
Dalam pengecekan bahasa sajian, yang diperhatikan oleh penulis buku teks adalah sebagai berikut:
1. Apakah pemakaian bahasa, mulai dari pilihan kata dan istilah, struktur kalimat, atau susunan paragraf sesuai dengan perkembangan mental pembaca atau siswa sasaran?
2. Apakah pilihan kata dan pemakaian istilah sesuai dengan gagasan yang ingin di sampaikan?
3. Apakah struktur atau susunan kalimat dapat menyampaikan maksud dan informasi dengan jelas?
4. Apakah struktur kalimatnya tidak terlalu panjag sehingga menyulitkan pemahaman siswa sasaran?
5. Apakah kalimat-kalimat ddalam paragraf dapat mendukung gagasan utama yang ingin disampaikan?
6. Apakah hubungan antarkalimat dalam paragraf seudah menunjukkan koherensi yang jelas?
7. Apakah pemakaian ejaan (baik penggunaan huruf maupun tanda baca sudah benar?
8. Apakah tidak ada yang salah ketik?
4) Pengecekan Penampilan Tabel, Gambar, dan Ilustrasi Visual
Dalam pengecekan penampilan tabel, gambar, dan ilustrasi visual, yang harus diperhatikan oleh penulis buku teks adalah sebagai berikut:
1. Apakah tabel, gambar, atau ilustrasi visual yang digunakan benar-benar dapat menjelaskan gagasan yang disampaikan secara verbal?
2. Apakah tabel, gambar, atau ilustrasi visual yang digunakan sesuai dengan gagasan yang dimaksudkan dalam uraian verbal?
3. Apakah tabel, gambar, atau ilustrasi visual yang digunakan mudah dipahami siswa sasaran?
4. Apakah tabel, gambar, atau ilustrasi visual yang digunakan menarik siswa?
Berikut ini Anda harus dapat menulis buku teks sesuai dengan bidang yang Anda tekuni. Sehubungan dengan hal tersebut, lakukan serangkaian kegiatan sebagai berikut:
1. Cermati standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam KTSP bidang studi yang Anda tekuni atau yang terdapat dalam silabusnya.
2. Ambilah satu KD yang paling Anda minati dan paling Anda kuasai.
3. Apabila Anda tidak menemukan silabusnya, kembangkan KD yang telah Anda pilih tersebut dalam bentuk materi yang memuat materi pokok atau materi pembelajaran, pengalaman belajar, alokasi waktu, dan evaluasinya.
4. Berdasarkan hasil kegiatan 3, susunlah peta bahan ajar dan kerangkanya.
5. Carilah sumber bahan yang dapat mendukung materi pembelajaran pada setiap kerangka.
6. Setelah itu, kembangkan menjadi buku teks yang siap diterapkan dalam pembelajaran.ketika melakukan oenulisan, perhatikan hal-hal berikut:
a. Gunakan bahasa sesuai dengan perkembangan siswa sasaran
b. Upayakan sajian yang dapat menciptakan motivasi dan kreativitas belajar siswa.
c. Berikan ilustrasi visual yang dapat mendukung pemahaman siswa.
d. Susunlah cara penilaian, baik proses maupun hasil yang dapat dipakai sebagai tolok ukur pencapaian kompetensi siswa.
e. Yakinkan bahwa sajian bahan pembelajaran yang Anda tulis dapat menjadi saeana pencapaian kompetensi yang dirumuskan dalam KD.
7. Ketiklah naskah yang telah Anda susun dengan format yang baik. Hindari terjadi kesalahan pemakaian!
8. Tunjukkan hasil karya Anda ke teman kelompok untuk mendapatkan komentar, penilaian, atau saran.
9. Diskusikan hasil komentar, penilaian, atau saran dari teman kelompok tersebut secara rasional akademis demi perbaikan hasil karya Anda.
10. Sekiranya komentar, penilaian, dan saran tersebut memang benar, perbaikilah naskah anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis linguistik tradisional

Cara mengungkapkan pikiran melalui tulisan