Analisis linguistik tradisional
Analisis Linguistik Tradisional
Linguistik tradisional yang sudah berkembang sejak zaman Yunani dengan tegas memisahkan kajian morfologi dan kajian sintaksis. Kajian morfologi bertumpu pada kajian mengenai kata, sementara kajian sintaksis bertumpu pada satuan kalimat. Kajian morfologi berkisar pada analisis kata, sedangkan kajian sintaksis hanya berkisar pada satuan kalimat. Satuan frase dan klausa belum dikenal.
Setiap kalimat menurut lingustik tradisional memiliki unsur yang disebut pokok kalimat, yaitu unsur yang merupakan tumpuan pembicaraan. Pokok kalimat ini akan dikuti oleh unsur yang disebut sebutan kalimat, yaitu unsur yang menyatakan apa dan bagaimana pokok kalimat itu. Lalu sebutan kalimat itu akan diikuti oleh sebuah pelengkap kalimat, yakni unsur yang melengkapi pokok dan sebutan kalimat itu. Pelengkap ini bisa menyatakan “pelengkap penderita”, “pelengkap pelaku”, atau “pelengkap penyerta”. Akhirnya sebuah kalimat, menurut linguistik tradisional, masih pula disertai dengan unsur keterangan, yang bisa menerangkan “waktu”, menerangkan “tempat”, menerangkan “keadaan”, dan sebagainya. Misalnya, kalimat (4) berikut akan dianalisis sebagai berikut:
4) Ali makan nasi mentah
pk sk pp kk
Keterangan:
pk : Pokok kalimat
sk : Sebutan kalimat
pp : Pelengkap penderita
kk : Keterangan keadaan
Karena belum dikenalnya konsep frase, mka unsur anak Amat pada kalimat (5) berikut disebutnya “keterangan pokok kalimat”
5) Ali anak Amat makan nasi mentah
pk kpk sk pp kk
Analisis kalimat seperti di atas disebut dengan istilah “uraian kalimat menurut jabatan”. Sedangkan analisis menurut kategori kata disebut dengan istilah “uraian menurut jenis kata”. Jadi, kalau kalimat (4) di atas dianalisis kategorinya akan menjadi:
Keterangan:
kb : Kata benda (nomina)
kk : Kata kerja (verba)
ks : Kata sifat (adjektiva)
Pembagian jenis kata (part of speech) dilakukan berdasarkan kriteria makna untuk ketiga kelas terbuka, dan menurut kriteria fungsi untuk kelas-kelas tertutup. Jadi, kata benda adalah kata yang menyatakan benda, dan kata kerja adalah kata yang menyatakan kerja. Sedangkan kata depan adalah kata yang terletak di depan kata benda, dan kata ganti adalah kata yang menggantikan kata benda.
Mengenai kalimat majemuk linguistik tradisional menyatakan bahwa kalimat majemuk adalah dua buah kalimat atau lebih yang digabung menjadi sebuah kalimat. Konsep ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan: apa benar satu tambah satu sama dengan satu?, atau apa benar, satu tambah dua sama dengan satu? Pendirian ini muncul tentu karena dalam linguistik tradisional belum dikenal konsep klausa. Jadi, satu kalimat ditambah satu kalimat tetap menjadi sebuah kalimat yang disebutnya kalimat majemuk. Linguistik kemudian yang telah mengenalkan konsep klausa, tentu akan menyatakan: dalam kalimat majemuk, yang majemuk bukan kalimatnya, melainkan klausanya.
Linguistik tradisional juga telah mengenal adanya kalimat majemuk setara yakni kalimat majemuk yang “kedua bagiannya”, atau lebih berkedudukan sederajat, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Simak contoh berikut:
6) Ali makan nasi dan saya makan bubur.
bagian l bagian ll
7) Ibu memasak di dapur, kakak belajar di kamar,
bagian l bagian ll
dan ayah membaca koran di taman.
bagian lll
Linguistik tradisional juga mengenal adanya kalimat majemuk bertingkat, yang lazim disebut dengan istilah kalimat majemuk beranak, dan malah juga bercucu. Kalimat majemuk jenis ini adalah kalimat majemuk yang kedudukan kedua bagiannya tidak sederajat. Ada bagian kalimat yang kedudukannya lebih tinggi, yang lazim disebut induk kalimat. Bagian kalimat yang kedudukannya lebih rendah disebut dengan istilah anak kalimat. Simak contoh berikut:
8) Dia datang ketika kami sedang makan
induk kalimat anak kalimat
Istilah cucu kalimat digunakan untuk menyebut bagian dari anak kalimat, yang juga berupa kalimat (karena memiliki pokok dan sebutan kalimat). Simak contoh berikut:
9) Pemburu itu menembak
induk kalimat
binatang yang melintas dihadapannya,
anak kalimat
yang sedang berlari cepat.
cucu kalimat
Oleh linguistik tradisional anak kalimat diberi nama sesuai dengan “jabatan” apa yang digantikan oleh anak kalimat itu. Dengan demikian kita dapati nama-nama seperti anak kalimat pengganti pokok kalimat, anak kalimat pengganti pelengkap, anak kalimat pengganti keterangan waktu, anak pengganti keterangan tempat, dan sebagainya. Simak contoh:
10) Pemburu yang tinggal di tepi hutan itu, menembak rusa itu.
anak kalimat pengganti pokok kalimat
11) Bapak datang ketika kami sedang makan.
anak kalimat pengganti keterangan waktu
Analisis kalimat seperti yang dilakukan linguistik tradisional ini memang memudahkan kita dalam memahami struktur kalimat. Hanya sayangnya analisis ini belum dapat menerangkan struktur kalimat, yang karena prosesnya di dalam suatu paragraf menjadi tidak memiliki fungsi-fungsi kalimat secara lengkap seperti yang kini kita kenal dengan nama kalimat minor, kalimat sampingan, dan kalimat lanjutan. Setiap kalimat menurut linguistik tradisional harus lengkap, minimal memiliki pokok kalimat dan sebutan kalimat. (Chaer, 2009:4-6).
Linguistik tradisional yang sudah berkembang sejak zaman Yunani dengan tegas memisahkan kajian morfologi dan kajian sintaksis. Kajian morfologi bertumpu pada kajian mengenai kata, sementara kajian sintaksis bertumpu pada satuan kalimat. Kajian morfologi berkisar pada analisis kata, sedangkan kajian sintaksis hanya berkisar pada satuan kalimat. Satuan frase dan klausa belum dikenal.
Setiap kalimat menurut lingustik tradisional memiliki unsur yang disebut pokok kalimat, yaitu unsur yang merupakan tumpuan pembicaraan. Pokok kalimat ini akan dikuti oleh unsur yang disebut sebutan kalimat, yaitu unsur yang menyatakan apa dan bagaimana pokok kalimat itu. Lalu sebutan kalimat itu akan diikuti oleh sebuah pelengkap kalimat, yakni unsur yang melengkapi pokok dan sebutan kalimat itu. Pelengkap ini bisa menyatakan “pelengkap penderita”, “pelengkap pelaku”, atau “pelengkap penyerta”. Akhirnya sebuah kalimat, menurut linguistik tradisional, masih pula disertai dengan unsur keterangan, yang bisa menerangkan “waktu”, menerangkan “tempat”, menerangkan “keadaan”, dan sebagainya. Misalnya, kalimat (4) berikut akan dianalisis sebagai berikut:
4) Ali makan nasi mentah
pk sk pp kk
Keterangan:
pk : Pokok kalimat
sk : Sebutan kalimat
pp : Pelengkap penderita
kk : Keterangan keadaan
Karena belum dikenalnya konsep frase, mka unsur anak Amat pada kalimat (5) berikut disebutnya “keterangan pokok kalimat”
5) Ali anak Amat makan nasi mentah
pk kpk sk pp kk
Analisis kalimat seperti di atas disebut dengan istilah “uraian kalimat menurut jabatan”. Sedangkan analisis menurut kategori kata disebut dengan istilah “uraian menurut jenis kata”. Jadi, kalau kalimat (4) di atas dianalisis kategorinya akan menjadi:
Keterangan:
kb : Kata benda (nomina)
kk : Kata kerja (verba)
ks : Kata sifat (adjektiva)
Pembagian jenis kata (part of speech) dilakukan berdasarkan kriteria makna untuk ketiga kelas terbuka, dan menurut kriteria fungsi untuk kelas-kelas tertutup. Jadi, kata benda adalah kata yang menyatakan benda, dan kata kerja adalah kata yang menyatakan kerja. Sedangkan kata depan adalah kata yang terletak di depan kata benda, dan kata ganti adalah kata yang menggantikan kata benda.
Mengenai kalimat majemuk linguistik tradisional menyatakan bahwa kalimat majemuk adalah dua buah kalimat atau lebih yang digabung menjadi sebuah kalimat. Konsep ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan: apa benar satu tambah satu sama dengan satu?, atau apa benar, satu tambah dua sama dengan satu? Pendirian ini muncul tentu karena dalam linguistik tradisional belum dikenal konsep klausa. Jadi, satu kalimat ditambah satu kalimat tetap menjadi sebuah kalimat yang disebutnya kalimat majemuk. Linguistik kemudian yang telah mengenalkan konsep klausa, tentu akan menyatakan: dalam kalimat majemuk, yang majemuk bukan kalimatnya, melainkan klausanya.
Linguistik tradisional juga telah mengenal adanya kalimat majemuk setara yakni kalimat majemuk yang “kedua bagiannya”, atau lebih berkedudukan sederajat, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Simak contoh berikut:
6) Ali makan nasi dan saya makan bubur.
bagian l bagian ll
7) Ibu memasak di dapur, kakak belajar di kamar,
bagian l bagian ll
dan ayah membaca koran di taman.
bagian lll
Linguistik tradisional juga mengenal adanya kalimat majemuk bertingkat, yang lazim disebut dengan istilah kalimat majemuk beranak, dan malah juga bercucu. Kalimat majemuk jenis ini adalah kalimat majemuk yang kedudukan kedua bagiannya tidak sederajat. Ada bagian kalimat yang kedudukannya lebih tinggi, yang lazim disebut induk kalimat. Bagian kalimat yang kedudukannya lebih rendah disebut dengan istilah anak kalimat. Simak contoh berikut:
8) Dia datang ketika kami sedang makan
induk kalimat anak kalimat
Istilah cucu kalimat digunakan untuk menyebut bagian dari anak kalimat, yang juga berupa kalimat (karena memiliki pokok dan sebutan kalimat). Simak contoh berikut:
9) Pemburu itu menembak
induk kalimat
binatang yang melintas dihadapannya,
anak kalimat
yang sedang berlari cepat.
cucu kalimat
Oleh linguistik tradisional anak kalimat diberi nama sesuai dengan “jabatan” apa yang digantikan oleh anak kalimat itu. Dengan demikian kita dapati nama-nama seperti anak kalimat pengganti pokok kalimat, anak kalimat pengganti pelengkap, anak kalimat pengganti keterangan waktu, anak pengganti keterangan tempat, dan sebagainya. Simak contoh:
10) Pemburu yang tinggal di tepi hutan itu, menembak rusa itu.
anak kalimat pengganti pokok kalimat
11) Bapak datang ketika kami sedang makan.
anak kalimat pengganti keterangan waktu
Analisis kalimat seperti yang dilakukan linguistik tradisional ini memang memudahkan kita dalam memahami struktur kalimat. Hanya sayangnya analisis ini belum dapat menerangkan struktur kalimat, yang karena prosesnya di dalam suatu paragraf menjadi tidak memiliki fungsi-fungsi kalimat secara lengkap seperti yang kini kita kenal dengan nama kalimat minor, kalimat sampingan, dan kalimat lanjutan. Setiap kalimat menurut linguistik tradisional harus lengkap, minimal memiliki pokok kalimat dan sebutan kalimat. (Chaer, 2009:4-6).
Komentar
Posting Komentar