Cara mengungkapkan pikiran melalui tulisan

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Menulis merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat dengan keterampilan dasar terpenting pada manusia, yaitu berbahasa. Menurut Tarigan (1986:3), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Hal ini mengandung pengertian bahwa dengan tulisan dapat membantu menjelaskan pikiran-pikiran kita melalui sebuah tulisan tanpa saling bertatap muka.

Keterampilan menulis yang harus dikuasai siswa salah satunya adalah menulis karya sastra yaitu puisi. Puisi dapat didefinisikan sebagai bentuk ekspresi seorang penulis dalam mengungkapkan emosi, imajinasi pemikiran, dan ide dalam susunan bahasa yang indah. Seperti dikemukakan oleh Suryaman (2005:20), puisi merupakan karya emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur dengan memperhatikan pembaca.

Senada dengan pendapat di atas, Pradopo (2002:12) mengemukakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan berirama. Sayuti (1985:12) menambahkan, puisi merupakan hasil kreativitas manusia yang diwujudkan lewat susunan kata yang mempunyai makna.

Pelajaran menulis pantun juga dapat mengikatkan diri kita dalam lingkungan pergaulan. Bahasa pantun yang digunakan menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata.  Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain.

Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaijan kepada orang banyak. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Pada saat berpidato sudah dapat dipastikan bahwa akan terjadi hubungan antara yang berpidato dengan yang diberi pidato. Oleh sebab itu , maka yang berpidato hendaknya mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya,agar tercapai apa yang diharapkannya.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana cara mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi?
1.2.2 Bagaimana cara mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis pantun?
1.2.3 Bagaimana cara mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menyusun teks pidato?

1.3 Tujuan Makalah

1.3.1 Untuk mengetahui bagaiman cara mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi.
1.3.2 Untuk mengetahui Bagaimana cara mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis pantun.
1.3.3 Untuk mengetahuiBagaimana cara mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menyusun teks pidato.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Mengungkapkan Pikiran Dan Perasaan Melalui Kegiatan Menulis Puisi

2.1.1 Menulis
Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa selama proses pembelajaran di sekolah. Melalui kegiatan menulis siswa dapat menuangkan ide-ide atau gagasan baik yang bersifat ilmiah maupun imajinatif. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

Tarigan (2008:22) mengemukakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik itu.
Menulis merupakan suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Menulis itu memiliki tiga aspek utama. Yang pertama, adanya tujuan atau maksud tertentu yang hendak dicapai. Kedua adanya gagasan atau sesuatu yang hendak dikomunikasikan. Ketiga, adanya sistem pemindahan gagasan itu, yaitu berupa sistem bahasa (Semi, 2007:14).
Soebachman (2014:27) mengemukakan bahwa menulis adalah media komunikasi kita dengan orang lain. Sebuah media untuk menyampaikan apa yang kita inginkan, menyebarkan apa yang kita gagaskan, dan mengajak orang lain serta menggiring mereka untuk ikut berpikir dan berkembang.

Soebachman (2014:85) juga mengemukakan bahwa menulis merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi gagasan.

2.1.2 Tujuan Menulis
Tujuan menulis adalah berusaha memikirkan gagasan atau ide yang hendak disampaikan dan dituangkan ke dalam karya tulis. Semi (2007:14) menyatakan Secara umum, tujuan orang menulis adalah sebagai berikut.
1. Untuk Menceritakan Sesuatu Setiap orang mempunyai pengalaman hidup. Pengalaman, pemikiran, imajinasi, perasaan dan intuisi yang dimiliki pribadi itu sebaiknya dikomunikasikan kepada orang lain dalam bentuk tulisan. Menceritakan sesuatu kepada orang lain mempunyai maksud agar orang lain atau pembaca tahu tentang apa yang dialami yang bersangkutan.
2. Untuk Memberikan Petunjuk atau Pengarahan Tujuan memberikan petunjuk atau pengarahan ialah untuk memberikan petunjuk atau pengarahan.
3. Untuk Menjelaskan Sesuatu
Pembaca menjadi paham, pengetahuan akan datang. Menulis tulisan yang tujuannya menjelaskan sesuatu kepada pembaca sehingga pengetahuan pembaca menjadi bertambah, dan pemahaman pembaca tentang topik yang kamu sampaikan itu menjadi lebih baik.

4. Untuk Meyakinkan Menulis untuk meyakinkan orang lain tentang pendapat atau pandangannya mengenai sesuatu.
5. Untuk Merangkum Menulis untuk merangkum sesuatu. Tujuan menulis semacam ini untuk memudahkan pembaca mempelajari isi buku yang panjang dan tebal. Tujuan menulis adalah (the writer’s intention) adalah “responsi” atau jawaban yang diharapkan oleh penulis akan diperolehnya dari pembaca.

Berdasarkan batasan di atas dapat dikatakan bahwa.
1. tulisan yang bertujuan untuk memberitahukan atau mengajar disebut wacana informatif (informative discourse);
2. tulisan yang bertujuan untuk meyakinkan atau mendesak disebut wacana persuasif (persuasive discourse);
3. tulisan yang bertujuan untuk menghibur atau menyenangkan atau yang mengandung tujuan estetik disebut tulisan literer atau wacana kesastraan (literary discourse);
4. tulisan yang mengekspresikan perasaan dan emosi yang kuat atau berapi-api disebut wacana ekspresif (eksfressive discourse).
Tujuan-tujuan yang telah disebutkan tadi sering bertumpang tindih, dan setiap orang mungkin saja menambahkan tujuan-tujuan lain yang belum tercakup dalam daftar tujuan menulis di atas, tetapi dalam kebanyakan tujuan menulis, ada tujuan yang menonjol atau dominan. Tujuan menulis yang dominan inilah yang memberi nama atas keseluruhan tujuan tersebut (D’Angelo, 1980:25). Sehubungan dengan tujuan menulis suatu tulisan, seorang ahli merangkumnya sebagai berikut.
1. Tujuan penugasan (assignment purpose) Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menuliskan sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya siswa yang diberi tugas merangkum buku, sekretaris yang ditugaskan membuat laporan atau notulen rapat).
2. Tujuan altruistik (altruistic purpose) Penulis bertujuan untuk menyenangkan pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan, dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. Seseorang tidak akan dapat menulis secara tepat guna kalau dia percaya, baik secara sadar maupun secara tidak sadar bahwa pembaca atau penikmat karyanya adalah “lawan” atau “musuh”. Tujuan alturuistik adalah kunci keterbacaan sesuatu tulisan.

3. Tujuan persuasif (Persuasive purpose) Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.

4. Tujuan informasional, tujuan penerangan (informational purpose)
Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan /penerangan kepada para pembaca.

5. Tujuan pernyataan diri (self-ekspressive purpose) Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca.

6. Tujuan kreatif (creative purpose)
Tujuan ini erat berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi keinginan kreatif, di sini melebihi pernyataan diri dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik, atau seni yang ideal, dan seni idaman. Tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik dan nilai-nilai kesenian.

7. Tujuan pemecahan masalah (problem-solving purpose) Dalam tulisan seperti ini penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh pembaca Hipple (Tarigan, 2008:25-26).

Berdasarkan uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa tujuan menulis adalah untuk menuangkan atau menjelaskan suatu karya imajinasi yang sudah ada dalam ingatan seseorang ataupun ide-ide, informasi, serta jati diri dari seorang penulis, dan dapat dipahami dengan mudah oleh para pembaca pada umumnya dengan bahasa yang lugas dan komunikatif.
2.1.3 Fungsi Menulis
Fungsi utama dari menulis adalah untuk menuangkan gagasan, ide-ide serta perasaannya dalam bentuk sebuah tulisan. Bernard Percy (Soebacham, 2014:16) mengemukakan secara terperinci fungsi menulis adalah sarana untuk meng- ungkapkan diri, yaitu untuk mengungkapkan perasaan hati seperti kegelisahan dan keinginan untuk meluapkan amarah.

Menulis sebagai sarana pemahaman, artinya dengan menulis seseorang bisa mengikat kuat sesuatu ilmu pengetahuan (menancapkan pengetahuan) ke dalam otak. Menulis dapat membantu mengembangkan kepuasan pribadi, rasa kebanggaan, perasaan harga diri artinya dengan menulis dapat perasaan harga diri yang semula rendah dengan menulis dapat meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan, artinya orang yang menulis selalu dituntut untuk terus menerus belajar sehingga pengetahuan menjadi luas.

Menulis dapat meningkatkan keterlibatan secara bersemangat dan bukannya sekedar penerimaan yang pasrah, artinya dengan menulis seseorang akan menjadi peka terhadap apa yang tidak benar di sekitarnya sehingga ia menjadi seseorang yang kreatif. Menulis mampu mengembangkan suatu pemahaman dan kemampuan menggunakan bahasa, artinya dengan menulis seseorang akan selalu berusaha memilih bentuk bahasa yang tepat dan menggunakannya dengan tepat pula.
Aspek Menulis pada pembelajaran bahasa Indonesia berperan penting karena menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dapat menunjang pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam kegiatan menulislah siswa dapat mengungkapkan segala keinginan hati, perasaan, keadaan hati di saat susah dan senang, sindiran, kritikan dan lainnya yang dituangkan dalam sebuah tulisan.

2.1.4 Pengertian puisi

Puisi diartikan sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Puisi remaja adalah ragam sastra yang didalamnya terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, juga biasanya mengungkapkan masalah-masalah remaja dan penilaiannya terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi.

2.1.5 Pengertian Menulis Puisi
Puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Tradisi berpuisi sudah merupakan tradisi kuno dalam masyarakat. Puisi juga memiliki bahasa memiliki bahasa multidimensional, artinya mampu menembus alam pikiran, perasaan, dan imajinasi manusia. Istilah puisi dalam bahasa Yunani poiseis yang berarti penciptaan. Dalam bahasa Inggris kata puisi ini adalah poetry. Thomas Carlye menyatakan bahwa puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musikal, hal yang diungkapkan dalam puisi adalah kebenaran.
(Suliani, 2011:84-85) mengemukakan bahwa puisi adalah buah pikiran, perasaan dan pengalaman penyair yang diekspresikan dengan media bahasa yang khas dan unik.
Waluyo (1987:25) menyatakan bahwa Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Tarigan (1986:4-7) mengutip beberapa pendapat para ahli sastra tentang pengertin puisi sebagai berikut.
1. Ralph Waldo Emerson: puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa sesuatu, untuk menggerakan tubuh yang kasar dan mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkannya ada, karena bukannya irama melainkan argumen yang membuat iramalah yaitu ide atau gagasan yang menjelmakan suatu puisi.
2. John Dryden: puisi adalah nada yang penuh keaslian dan keselarasan.
3. Samuel Johhson: puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya.
4. Watts-Dunton dan Lascelles Abercrombie: puisi adalah ekspresi yang kongkrit dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
5. Lescelles Abercramble: puisi adalah ekspresi dan pengalaman imajinatif yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa, yang mempergunakan setiap rencana yang matang dan bermanfaat.

Menulis puisi adalah suatu keterampilan berbahasa dalam menuangkan ide, gagasan, pikirannya dalam bentuk bahasa tulis dengan memperhatikan keterikatan pada unsur-unsur puisi. Saat seseorang menulis puisi, berarti seseorang tersebut akan menghasilkan suatu karya tulis berupa puisi untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya sehingga dapat membangkitkan imajinasi pembacanya.
Menulis puisi merupakan kegiatan aktif dan produktif. Dikatakan aktif karena dalam menulis puisi seseorang telah melakukan proses berpikir, sedangkan dikatakan produktif karena seseorang dalam menulis puisi akan menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dinikmati oleh orang lain. Dengan menulis puisi seseorang dapat menuangkan ide, gagasan, pengetahuan, Perasaan, dan pengalam- an yang terjadi pada hidupnya ke dalam bahasa tulis.

Menulis puisi perlu ditanamkan kepada siswa sekolah menengah pertama, sehingga mereka memunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik.
Mengapresiasikan sebuah puisi bukan hanya ditujukan untuk penghayatan dan pemahaman puisi, melainkan dapat mempertajam kepekaan perasaan dan penalaran siswa terhadap kemanusian.

2.1.6 Unsur-Unsur Puisi
Sebuah puisi adalah sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur pembangun yang berkaitan dengan unsur-unsur puisi yaitu struktur batin yang terdiri atas tema, amanat, nada, dan rasa. Sedangkan struktur fisik yaitu pencarian ide, pemilihan diksi, pemilihan bunyi (rima), pemanfaatan gaya bahasa, dan sebagainya (Tarigan, 2008:6-8). Sementara itu, dalam menulis puisi berkaitan dengan pencarian ide, pemilihan tema, pemilihan diksi, pemilihan permainan bunyi (rima), pemanfaatan gaya bahasa, dan sebagainya. yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti: pengungkapan tema, rasa, nada, amanat, diksi, rima, dan pengimajian.

Unsur-unsur itu tidak dapat di- pisahkan satu sama lain. Memahami nilai sajak itu lebih dalam, maka perlu diadakan perbedaan unsur-unsur. Oleh karena itu, unsur-unsur puisi tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan. Ini yang dinamai analisa dalam sebuah puisi. Menelusuri unsur-unsur itu akan menemukan kekuatan dan kelemahan sebuah sajak. Adapun unsur-unsur yang membangun puisi sebagai berikut.
1. Tema Waluyo (1987:106-115) Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair atau penulis sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.

Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan, puisinya bertemakan ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belas kasih atau kemanusian, puisinya bertemakan kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk memprotes ketidakadilan, tema puisi adalah protes atau kritik sosial.

Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta atau tema kedudukan hati karena cinta. Tema puisi lugas, objektif, dan khusus. Tema puisi dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh sebab itu, tema bersifat khusus (penyair), tetapi objektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat atau apa adanya).
2. Rasa Rasa atau feeling merupakan “the poet’s attitude toward his subject matter”. Yaitu sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya. Contoh rasa setia-kawan terhadap orang-orang yang dengan gigihnya menumpas kejahilan sekaligus ingin memperjuangkan serta menegakkan keadilan dan kebenaran adalah wajar dalam kehidupan.
3. Nada Nada dalam dunia perpuisian adalah “sikap sang penyair terhadap pembacanya”. Tarigan (2008:17) mengemukakan bahwa nada adalah sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya. Nada yang dikemukakan oleh seorang penyair dalam sesuatu sajak, akan ada sangkut-pautnya atau hubungannya yang erat dengan tema dan rasa yang terkandung pada sajak tersebut.
4. Amanat Puisi merupakan pesan atau kesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui jalan cerita kepada pembaca. Wardoyo (2013:53) mengatakan bahwa amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya.

Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita. Waluyo (1987:130) juga mengemukakan amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan penyairnya.
5. Diksi Tarigan (1986:29-30) mengemukakan bahwa diksi (diction) berarti pilihan kata. Kalau dipandang sepintas lalu maka kata-kata yang dipergunakan dalam puisi pada umumnya sama saja dengan kata-kata yang dipergunakan dalam yykehidupan sehari-hari.

Secara alamiah kata-kata yang dipergunakan dalam puisi dan dalam kehidupan sehari-hari mewakili makna yang sama; bahkan bunyi ucapan pun tidak ada perbedaan. Walaupun demikian kita harus menyadari bahwa penempatan serta penggunaan kata-kata dalam puisi dilakukan secara hati-hati dan teliti serta lebih tepat. Kata-kata yang dipergunakan dalam dunia persajakan tidak seluruhnya bergantung pada makna denotative, tetapi lebih cenderung pada makna konotatif. Konotasi atau nilai kata inilah yang justru lebih banyak memberi efek bagi para penikmatnya. Uraian-uraian ilmiah biasanya lebih mementingkan denotasi. Itulah sebabnya maka sering orang mengatakan bahwa bahasa ilmiah bersifat denotatif, sedangkan bahasa, sastra bersifat konotatif.

Kalau kata-kata aduhai, mega, berarak, teratak, musyafir, lata, beta, awan yang terdapat dalam sajak Amir Hamzah yang berjudul “ Buah Rindu” kita ganti dengan sinonim-sinonimnya wahai, awan, beriring, pondok, pengembara, hina, aku, embun, yang sama denotasinya tetapi berbeda konotasinya, maka akan hilanglah keindahan sajak tersebut, dan efeknya akan berubah sama sekali betapa pentingnya pilihan kata atau diksi bagi suatu puisi. Pilihan kata yang tepat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, nada sesuatu puisi dengan tepat.

Wardoyo (2013:23-24) menyatakan bahwa diksi merupakan dasar untuk membangun setiap puisi. Diksi dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur seberapa jauh seorang penyair memunyai daya cipta yang asli. Dalam mengguna- kan diksi, seorang penyair selalu memperhatikan sebagai berikut: 1) kaitan kata tertentu dengan gagasan dasar yang akan diekspresikan atau dikomunikasikan, 2) wujud kosakatanya, 3) hubungan antarkata dalam membentuk susunan tertentu sebagai sarana retorik sehingga tercitra kiasan-kiasan yang terkait dengan gagasan dan, 4) kemungkinan efeknya bagi pembaca.
6. Majas Majas atau figurative language merupakan bahasa kias atau gaya bahasa (Tarigan, 1986:32). Imajinasi dibutuhkan bagi seorang penyair untuk membuat puisi. Cara lain penyair untuk membangkitkan imajinasinya adalah dengan menggunakan majas.

Waluyo (1987:83) mengemukakan bahwa bahasa figuratif (majas) menyebabkan puisi menjadi pragmatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.

Pradopo (Wardoyo, 2013:25) menyatakan bahasa kiasan yaitu sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan.

Parrine (Waluyo, 1987:83) juga mengemukakan tujuan menciptakan bahasa figuratif dalam puisi diungkapkan sebagai berikut. (1) Agar menghasilkan ke- senangan yang bersifat imajinatif. (2) Agar menghasilkan imajinasi tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca. (3) Agar dapat menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair. (4) agar makna yang hendak di- sampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.
7. Pengimajian Waluyo (1987:78-79) mengemukakan bahwa pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang tepat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Baris atau bait puisi itu seolah mengandung gema suara (imaji auditif), benda yang tampak (imaji visual), atau sesuatu yang dapat kita rasakan, raba atau sentuh (imaji taktif). Konkret apa yang dapat kita hayati secara nyata. Pradopo dalam Wardoyo (2013:33) menyatakan bahwa citraan (pengimajian) adalah gambaran-gambaran angan yang dituangkan ke dalam sajak. Citraan dapat diartikan sebagai gambaran angan yang diekspresikan melalui bahasa hasil dari pengalaman indra manusia. Citraan yang terbangun dalam puisi biasanya meliputi citraan dari hasil penglihatan, pendengaran, perabaan, perasaan, dan penciuman.
2.1.7 Langkah-Langkah Menulis Puisi
Wardoyo (2013:73-76) mengemukakan bahwa langkah-langkah dalam menulis puisi dapat diawali dengan tiga proses, yaitu:
1. Mencari ide adalah sumber tulisan
Seorang penyair harus memiliki ide yang dapat diekspresikan melalui puisi. Ide seseorang dapat bersumber dari pengalaman (fakta empiris), sesuatu yang berkesan atau momentum (fakta individual), dan juga dapat bersumber dari imajinasi (fakta imajinatif). Pencarian atau penggalian ide dapat dilakukan oleh penyair dengan melakukan refleksi perenungan terhadap segala aktifitas yang melibatkan proses penginderaan.

2. Mengendapkan atau Perenungan Ide Mengendapkan atau merenungkan ide adalah ide yang telah ada kemudian dimatangkan agar dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih sempurna dan lebih matang. Proses pengendapan atau perenungan ide hal yang sangat penting untuk dikembangkan dan kita renungkan terkait dengan kata atau diksi yang akan kita gunakan ini merupakan cara dalam menciptakan puisi yang penuh makna, puitik, dan terasa mampu mewakili perasaan kita.
3. Memainkan Kata Tahap memainkan kata adalah proses mencipta dan menulis puisi dengan menuangkan segala ide yang sudah ada dalam diri kita ke dalam bentuk tulisan puisi dengan memilih kata-kata yang digunakan sebagai bahan dalam menulis puisi. Pada pembelajaran menulis puisi peserta didik merasa dihadapkan pada sebuah pekerjaan yang berat, sehingga menimbulkan rasa was-was, bimbang, ragu karena merasa tidak berbakat dalam menulis puisi. Siswa selalu membutuhkan waktu

2.2 Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan Melalui Kegiatan Menulis Pantun

2.2.1 Pengertian Pantun

Pantun adalah jenis puisi lama yang tiap baitnya terdiri atas empak baris serta memiliki sampiran dan isi. Sebelum mengenal apa saja jenis dari pantun, ada baiknya teman-teman memahami dengan baik dulu ciri-ciri dari jenis puisi lama yang satu ini. Tentu saja ini agar kalian dapat dengan mudah mengklasifikasikan sebuah puisi lama itu layak disebut pantun atau tidak. Memahami ciri-ciri pantun juga membuat kalian akan lebih mudah membuat jenis puisi yang satu ini.

(Menurut R.O. Winsted) pantu ialah sebuah pantun tidaklah sebatas gubahan suatu kalimat yang mempunyai rima serta irama, namunialah sebuah rangkaian kata yang indah untuk melukiskan suatu kehangatan cinta, kasih sayang, serta rindu dendam penuturnya.

(Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1016) pantun ialah suatu bentuk puisi Indonesia (melayu), tiap bait (kuplet) terdiri dari sebuah empat baris yang bersanjak (a-b-a-b), pada tiap larik biasanya terdiri atas sebuah empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk suatu tumpuan (sampiran) saja sedangkan pada baris ketiga dan keempat ialah isi; peribahasa sindiran”.



2.2.2 Hakikat Pantun

Pantun merupakan salah satu karya sastra Melayu yang sampai sekarang masih dikembangkan. Kata pantun mempunyai arti ucapan yang teratur, pengarahan yang mendidik. Pantun juga dapat berarti sindiran.

Zaman dahulu, pantun digunakan sebagai bahasa pengantar atau bahasa pergaulan. Pantun dikenal di berbagai daerah, namun dengan nama yang berbeda. Di Jawa Tengah dikenal dengan parikan, di Toraja dikenal bolingoni, di Jawa Barat dapat ditemukan pantun dalam bentuk nyanyian doger, di Surabaya ludruk, di Banjarmasin tirik dan ahui, gandrung di Banyuwangi, dan di Makassar kelong-kelong. Selain merupakan ungkapan perasaan, pantun dipakai untuk menghibur orang.

2.2.3 Ciri-ciri pantun

Pantun memiliki ciri-ciri tersebut, antara lain:
a. mempunyai bait dan isi,
b. setiap bait terdiri atas baris-baris,
c. jumlah suku kata dalam tiap baris antara delapan sampai dua belas,
d. setiap bait terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi.
e. Bersajak ab ab

2.2.4 Struktur Pantun

a) Setiap Bait terdiri dari empat baris
b) Setiap baris umumnya berisi 8-12 suku kata
c) Dua baris pertama adalah sampiran, dua baris selanjutnya adalah isi
d) Memiliki rima a-b-a-b (akhir baris pertama sama bunyinya dengan baris ketiga, akhir baris kedua sama bunyinya dengan akhir baris keempat) atau a-a-a-a (akhir setiap pantun memiliki bunyi yang sama).
2.2.5 Unsur-Unsur Pantun

a. Unsur intrinsic
Hal – hal yang terdapat dalam sebuah pantun misalnya tokoh, tema, amanat, plot dan setting atau latar tempat. Unsur yang paling memiliki point penting adalah amanat atau pesan yang ingin disampaikan. Dalam sebuah pantun biasanya penciptanya akan menggunakan kalimat yang sembarang, namun memiliki akhiran atau rima yang sama. Berbeda dengan puisi biasa yang memiliki pemilihan kalimat yang lebih indah dan isi dari pesan yang ingin disampaikan bisa saling berkesinambungan.

b. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra adalah latar belakang pengarang, keadaan atau kondisi dari negara atau lingkungan ketika karya sastra tersebut sedang dibuat.

Dalam pantun, tokoh, penokohan, latar, dan alur tidak terlalu berperan penting karena pada dasarnya pantun hanya memiliki 4 baris saja untuk mengungkapkan apa sebenarnya maksud karya sastra tersebut. Jika melihat dari definisi pantun sendiri yang merupakan sebuah puisi lama yang terdiri dari 4 baris yang memiliki rima atau sajak yang sama. 2 baris terakhir dari setiap pantun merupakan isi dari seluruh pantun, untuk itu tanpa perlu menelaah jauh dari awal hingga akhir anda sudah bisa menerka isi dari pantun tersebut melalui 2 baris terakhirnya.

Untuk memahami pantun dan karya sastra bentuk puisi lainnya seperti puisi jenaka, syair atau puisi baru anda bisa membaca referensi melalui berbagai ciptaan dari penyair – penyair lama seperti chairil anwar lewat bukunya berjudul “aku”.

Dengan membaca berbagai referensi dari penyair ternama anda bisa mencoba untuk mengembangkan skill anda dengan menggunakan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dari sebuah karya sastra. Selain itu jika anda ingin menjadi penyair atau penulis pantun anda bisa menggunakan unsur intrinsik dan ekstrinsik pantun untuk melihat apakah karya anda sudah layak serta memenuhi unsur – unsur yang seharusnya ada dalam sebuah karya sastra pada umumnya.

2.2.6 Bentuk dan Jenis Pantun

Pantun yang sering dipakai adalah pantun dua baris dan empat baris. Bentuk pantun bermacam-macam, misalnya: pantun anak-anak, pantun jenaka, pantun suka cita, pantun kiasan, pantun nasehat, pantun duka cita, pantun budi pekerti, pantun agama, dan lain-lain.

Pantun dua baris
Anjing hutan suka melolong (sampiran)
Jangan suka bicara bohong (isi)
Pintu diketuk ada tamu (sampiran)
Rajin membaca bertambah ilmu (isi)

Pantun empat baris
Desa sawah mulai menghijau (sampiran)
Di tengah ada pematang (sampiran)
Apa arti bertindak maju
Kalau tanpa pemikiran matang

Pantun anak
Enak nian buah belimbing
Mencari ke pulau sebrang
Main bola ada pembimbing
Binatang apa berhidung panjang?

Pantun jenaka
Orang mudik bawa barang
Pakai kain jatuh terguling
Kamu senang dilirik orang
Setelah sadar ternyata juling

Indah nian sinar mentari
Purnama datang tak berbelah
Melihat orang malas berlari
Ternyata sandal tinggi sebelah

Pantun sukacita
Gurih nian ikan gurami
Tambah nikmat dengan kacang
Alangkah senang hati kami
Panen raya telah datang

Pantun kiasan
Luas nian samudra raya
Pagi-pagi nelayan melaut
Tak berguna memberi si kaya
Bagai menebar garam di laut

Pantun nasihat
Jalan-jalan ke Semarang
Bawa bandeng tanpa duri
Belajar mulai sekarang
Untuk hidup kemudian hari

Pantun dukacita
Beras miskin disebut raskin
Yang mendapat tak semua
Aku ini anak miskin
Harta benda tak kupunya

Pantun budi pekerti
Siapa yang tak simpatik
Melihat bunga dahlia
Kulit putih berwajah cantik
Sudah ayu berhati mulia

Pantun agama
Minum susu di pagi hari
Tambah nikmat tambah cokelat
Pandai-pandai membawa diri
Siapa tahu kiamat sudah dekat

Pantun berbalas
Pantun berbalas adalah pantun yang dimainkan dua kelompok. Kelompok tersebut dapat dikembangkan menjadi kelompok “pro” dan “kontra” atau kelompok gadis dan kelompok jejaka. Jumlah anggota per kelompok tiga sampai lima orang. Berbalas pantun dipimpin oleh seorang moderator yang bertugas untuk menengahi permainan. Setiap sesi berbalas pantun harus mempunyai tema. Urutan berbalas pantun terdiri atas pembukaan, isi, dan penutup.

2.2.7 Menulis Pantun
Dalam menulis pantun ada dua hal yang perlu kita perhatikan pilihan kata(diksi) dan syarat-syarat pantun. Pilihan kata (diksi) dalam pantun harus diperhatikan dengan cermat untuk menemukan bunyi akhir (rima) yang sesuai dengan syarat-syarat pantun. Hal pertama yang perlu ditentukan adalah isi pantun, bukan sampiran. Sampiran baru ditentukan setelah isi pantun benar-benar sesuai dengan pesan yang hendak disampaikan

2.2.8 Syarat-Syarat Pantun
Dari kedua pantun diatas mungkin anda bisa melihat bahwa ada pola-pola tertentu yang ada dalam pentun tersebut untuk lebih jelasnya perhatikan syarat dan unsur pantunnya.

Unsur-unsur pantun Syarat – syarat pantun
Jumlah baris pada setiap bait Terdiri atas empat baris
Jumlah suku kata pada setiap baris Terdiri antara 8–12 suku kata
Fungsi baris ke-1 dan ke-2 Sebagai sampiran
Fungsi baris ke-3 dan ke-4 Sebagai isi
Memiliki rima Rima baris ke-1 = rima baris ke-3
Rima baris ke-2 = rima baris ke-4
Sering disebut dengan rumus rima a-b-a-b




2.2.9 Tahap-Tahap Penulisan Pantun

Pantun merupakan salah satu sastar melayu klasik. Penulisannya pun sangat diperhatikan, sama halnya dengan menulis puisi, atau sastra prosa yang lain. Tahap-tahap penulisan puisi sebagai berikut:

1. Penulisan sampiran. Umumnya sampiran adalah dua baris. Perbedaan baris pertama dengan baris kedua, terletak pada rima, bunyi akhir pada kata terakhir yang berbeda. Kata-kata yang dipilih dalam sampiran adalah kata-kata pembuka, pemancing yang untuk bisa digunakan menyampaikan isi. Rima baris pertama, berbeda dengan rima baris kedua.

2. Penulisan isi pantun, sangat mempertahatikan sampiran yang terlebih dahulu dikerjakan. Apabia rima baris pertama pada sampira berbunyi a maka baris isi pertama adalah juga a, demikian dengan sampiran baris kedua rimanya berbunyi i maka isi baris kedua harus berrima i juga.

3. Pada baris isi yang umumnya terdiri dari dua kalimat atau dua baris. Isinya dapat berupa, nasehat, sindiran, suka cita, tebak-tebakan dll.

2.2.10 Langkah-Langkah Menulis Pantun

       Adapun didalam menulis teks pantun dapat dilakukan dengan cara mengikuti langkah-langkah yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Memahami karakteristik pantun
Sebelum penulisan di mulai, pahami dulu karakteristik pantun, yaitu struktur dan kaidahnya. Ini dilakukan karna pantun merupakan karangan yang terikat dengan sejumlah aturan. Perhatikan struktur dan kaidah teks pantun pada pembahasan sebelumnya.

2. Menentukan tema
Menentukan tema berarti menentukan jenis pantun yang akan dibuat. Pilih jenis pantun yang di anggap menarik, seperti misalkan pantun jenaka, pantun nasihat, pantun cinta, pantun agama, pantun teka-teki, pantun pendidikan dan pantun jenis lain sebagainya.

3. Menulis isi
Secara berurut, pantun terdiri atas sampiran dan isi. Namun, agar lebih mudah, sebaiknya terlebih dahulu buatlah dua kalimat yang mengandung isi pantun, yaitu baris ke 3 dan ke 4.
Contoh:
Kita harus rajin belajar
Agar tidak menyesal nanti

4. Menulis sampiran
Langkah berikutnya, melengkapi isi pantun dengan dua kalimat sampiran, yaitu baris ke 1 dan ke 2 dengan memperhatikan persamaanya. Contoh misalnya ditambahkan dengan dua kalimat : jalan-jalan ke batujajar, jangan lupa membawa peti.

Jalan-jalan ke batujajar,
Jangan lupa membawa peti.
Kita haus rajin belajar,
Agar tidak menyesal nanti.





2.3 Mengungkapkan Pikiran Dan Perasaan Melalui Kegiatan Menyusun Teks Pidato

2.3.1 Menulis Teks Pidato
Menulis adalah melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orangorang dapat membaca lambang-lambang tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut (Tarigan 1983:21).

Berikut ini akan dijabarkan mengenai menulis teks pidato meliputi pengertian teks pidato, struktur teks pidato, gaya bahasa teks pidato, jenis pidato, dan langkah-langkah menulis pidato.

2.3.2 Pengertian Teks Pidato
Menurut Arsjad (1988: 53) pidato merupakan suatu hal yang sangat penting baik pada waktu sekarang maupun pada waktu yang akan datang, karena pidato merupakan penyampaian dan penamaan pikiran, informasi, atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai. Pidato sering digunakan dalam acaraacara khusus seperti seminar, penataran, peringatan-peringatan, dan perayaanperayaan tertentu. Seseorang yang memiliki kemampuan berpidato dalam forumforum tersebut akan mendapatkan tempat dihati para pendengarnya.

Dengan demikian, seseorang yang memiliki kemampuan berpidato dengan baik akan mampu meyakinkan pendengarnya untuk menerima dan mematuhi pikiran, informasi, gagasan, atau pesan yang disampaikan.

Pidato mempunyai arti “suatu penyampaian berita secara lisan yang isinya bisa berbagai macam misalnya bisnis, masalah pemerintah, pendidikan (tentang agama, politik, pertanian, keamanan dan sosial)”. Jika penyampaian pidato itu tidak secara lisan maka dinamakan pidato, dan isinya biasanya berupa pemberitahuan (Kusuma 2002:5).

Orang yang berpidato selalu berhubungan dengan orang banyak, yang bisa disampaikan di atas mimbar ataupun tidak di atas mimbar misalnya : rapat, diskusi panel ataupun bisa juga berpidato di suatu perkebunan karena memberikan suatu pengarahan/penerangan/keterangan kepada para petani-petani setempat, atau bisa juga dilakukan di depan mahasiswa (disebut kuliah) semua ini dinamakan dengan pidato. Hal ini harus dilakukan dengan jelas dan gamblang.

Oleh karena itu, berpidato harus ada ilmunya dan ada pengetahuannya. Pidato merupakan pengungkapan pikiran dan perasaan dalam bentuk katakata yang digunakan di depan orang banyak secara lisan. Pidato dapat juga berarti wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak ramai. Pidato adalah menyampaikan buah pikiran dan perasaan seseorang dengan menggunakan bahasa lisan kepada orang banyak atau khalayak ramai (Lisinaputri 2002: 18).

Menurut Hasnun (2005:217), berpidato adalah berbicara dihadapan umum. Namun tidak semua pembicaraan di hadapan umum namanya pidato. Berpidato merupakan bentuk kegiatan berbahasa yang dinyatakan secara lisan dalam situasi tertentu kepada orang tertentu. Tujuan berpidato dapat beragam bergantung dari keadaan, situasi, dan apa yang dikehendaki pembicara. Tujuannya ada yang bersifat instruktif, rekreatif, dan persuasif.

Pidato yang bersifat instruktif isinya memberitahukan hal tertentu kepada pendengar. Tujuan pidato rekleatif adalah menghibur dan menyenangkan pendengar. Tujuan pidato persuasif adala  mendorong pendengar untuk memiliki semangat, kemauan, dan keyakinan sehingga melakukan sesuatu sebagaimana dikehendaki pembicara.

Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal.

2.3.3 Struktur Teks Pidato
Menurut Sahlan (2007:23) menyatakan bahwa “langkah-langkah dalam menyusun kerangka teks pidato yaitu pembukaan, pendahuluan, isi pokok, kesimpulan, harapan, dan penutup”. Menurut Sulanjari (2010:31) menyatakan bahwa “garis garis besar pidato yang baik terdiri dari tiga bagian yaitu pengantar, isi, dan penutup”. Isi teks dalam sebuah pidato harus disusun secara teratur dan berurutan, agar yang disampaikan melalui teks pidato tersebut saling berhubungan.

Struktur teks pidato terdiri atas pendahuluan, isi, dan penutup (Yanuarita:2012). Masing-masing bagian tersebut dijabarkan sebagai berikut.

1) Pendahuluan
Bagian pembukaan/pendahuluan teks pidato berisi:
(1) salam pembuka
(2) ucapan penghormatan, ucapan penghormatan biasanya dimulai dari penghormatan terhadap seseorang yang dianggap paling penting.
(3) Ucapan syukur. Pada bagian pendahuluan ini pembawa pidato berusaha membangkitkan dan mengarahkan perhatian audiensi pada pokok permasalahan yang akan dibicarakan. Pada bagian pendahuluan perlu juga sedikit menggambarkan isi dari pidato yang dibawakan. Pembukaan pidato merupakan bagian penting dan mamainkan peranan bagi pembawa pidato karena bagian ini dapat memberikan kesan pertama bagi para audiensi. Beberapa cara yang dapat digunakan pembawa pidato untuk membuka pidatonya yaitu dengan memperkenalkan diri, membuka pidato dengan humor, membuka pidato dengan pendahuluan secara umum.
2) Isi
Inti dari pidato sedapat mungkin ringkas dan mudah dipahami. Usahakan jangan menyimpang dari tema. pokok pembicaraan dikemukakan sedemikian ruapa sehinga tampak jelas kaitannya dengan kepentingan para audiensi. Pada bagian isi, pokok pembahasan ditampilkan dengan terlebih dahulu mengemukakan latar belakang permasalahannya.

3) Penutup
Penutup pidato yang baik akan menimbulkan rasa simpati dari pendengar. Penutup pidato dapat diisi dengan:
(1) pun yansimpulan pendek dari uraian sebelumnya,
(2) permintaan maaf kepada hadarin atas kekhilafan dan kesalahan yang mungkin terjadi, baik disengaja maug tidak disengaja.
(3) Salam penutup. Setelah pidato berlangsung, sasaran memahami, mengerti pesan, dan akhirnya mengubah sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan komunikasi. Ini adalah bagian akhir sebuah pidato yang merupakan kesimpulan dari keseluruhan uraian sebelumnya.

Lebih lanjut Tarigan dkk, (2004 : 78). Menjelaskan naskah pidato biasanya dibuat dengan susunan sebagai berikut.
1) Pembukaan
2) Pendahuluan
3) Isi Pokok
4) Kesimpulan
5) Harapan
6) Penutup

Untuk lebih jelaskan dapat disimak uraikan berikut ini.
1) Pembukaan
Pidato biasanya diawali dengan kata pembuka, misalnya
“Assalamu’alaikum Warohmatullaahi Wa Barakaatuh” “Salam sejahtera selalu”, “Merdeka” dan sebagainnya, sesuai dengan topic pidato. Untuk acara-acara yang bersifat keagamaan biasanya didahului oleh pembacaan beberapa ayat suci.

2) Pendahuluan
Pendahuluan berupa ucapan terima kasih yang disampaikan kepada para undangan atas waktu, kesempatan yang telah diberikan, dan juga sedikit penjelasan mengenai pokok masalah yang akan diuraikan dalam pidato.

3) Isi Pokok
Isi pokok merupakan uraian yang menjeaskan secara rinci, semua meteri dan persoalan yang di bahas dalam pidato. Urutan harus diatur dan jelas mulai dari awal sampai akhir pidato.

4) Kesimpulan
Dalam naskah pidato faktor kesimpulan ini sangat penting, karena dengan menyimpulkan segala scsuatu yang telah dibicarakan, ditambah dengan penjelasan dan anturan, para pembaca/pendengar dapat menghayati maksud dan tujuan semua yang dibicarakan oleh si pembicara, karena yang terakhir dibicarakan biasanya lebih mudah dan lebih lama diingat.

5) Harapan
Harapan merupakan sebagian dari kesimpulan, tetapi biasanya merupakan suatu dorongan agar hadirin menaruh minat dan memberikan Lesan terhadap pembicraannya, misalnya,
“ … dengan tuntutan serta perkembanga; jaman yang sangat maju, serta dalam era globalisasi hendaknya orang tua selalu memperhatikan kegiatan yang dilakukan putra-putranya, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Agar jangan...,”

6) Penutup
Setiap naskah pidato biasanya diakhiri dengan penutup. Ini merupakan ucapan terima kasih atas kesediaan hadirin untuk memperhatikan isi pidato disertai salam penutup kepada hadirin.
Misalnya,
“Sebagai akhir kata kami ucapkan terima kasih … “
“Assalamu’alaikum Warohmatullaahi Wa Barakaatuh”
Tarigan dkk, (2004: 7. 11), memberikan contoh naskah pidato dalam rangka menyambut tamu dalam pesta prkawinan. Contoh ini disajikan secara utuh agar dapat dimengerti mengenai teks pidato yang baik dan sesuai dengan kaidah-kaidah maupun teknik penulisan.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bipak-bapak, Ibu-ibu, Saudara serta hadirin yang kami hormati!

Dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah, pada hari ini kami sekelurga telah dapat melangsungkan upacara tiadisional sederhana atas berlangsungnya perkawinan anak kami Endang Pergiwati dengan Joko Kuncoroningrat.

Sungguh kami sekeluarga merasa berbahagia sekali atas kehadiran Bapak. ibu, serta Saudara sekalian yang telah berkenan meluangkan waktu untuk ikut memcriahkan pesta perkawinan anak kami tersebut. Semoga amal baik para Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian dapat diterima oleh Allah.

Demikian sepatah dua patah kata yang dapat kami sampaikan pada kesempurnaan ini, bila ada kekurangan pada kami, kami mohon maaf yang sebesar-bcsarnya.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan melihat contoh naskah pidato di atas, bahwa dalarn menyusun naskah pidato diperlukan penguasaan kosakata yang’ memadai, dengan penguasaan kosakata yang memadai dan kemampuan menulis yang baik akan menghasilkan naskah pidato yang baik pula. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah penyusunan naskah pidato.

Tarigan dkk., (2004: 8.31), langkah-langkah tersebut sebagai berikut. a) mengumpulkan bahan, b) membuat rangka pidato. c) menguraikan isi naskah pidato sccara terperinci.

2.3.4 Gaya Bahasa Teks Pidato

Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah  style. Kata style diturunkan darikata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin (Keraf 1984: 112).

Gaya bahasa digunakan oleh setiap penulis, seperti halnya dalam menulis pidato. Gaya bahasa digunakan oleh pengarang atau pembicara secara sadar sebagai teknik dan alat untuk mencapai tujuan dan juga sebagai perwujudan dari keterampilan berbahasa secara khusus. Gaya adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (Keraf, 2004:113).

Ahmadi (1990:169) gaya bahasa merupakan ekspresi yang paling personal. Personal artinya adalah bersifat perseorangan. Dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang digunakan, yaitu:
1. gaya bahasa berdasarkan pilihan kata,
2. gaya bahasa berdasarkan pilihan nada yang terkandung dalam wacana,
3. gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, dan
4. gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna (Keraf, 2004:118—120).

Pola gaya bahasa dalam pidato merupakan salah satu hal yang turut menentukan keberhasilan dari pidato. Pola gaya bahasa yang tepat dan sesuai akan mampu menarik perhatian dan memengaruhi pikiran pendengar. Keraf (2004:113—115) pola gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsure yakni kejujuran, sopan santun, dan menarik. Peningkatan pola gaya bahasa akan turut memperkaya kosakata pemakainya (Tarigan, 1986:5).

Ahmadi (1990:171) gaya bahasa digunakan oleh pengarang atau pembicara secara sadar sebagai teknik dan alat untuk mencapai tujuan dan juga sebagai perwujudan dari keterampilan berbahasa secara khusus. Pidato yang efektif memerlukan perhatian khusus dalam pembentukan kalimat.
Berikut ini beberapa pedomannya.
1) Pilih kalimat pendek
2) Pilih kalimat langsung, misalnya lebih baik mengatakan
Kita tidak usah menerima rancangan …  saya tunjukkan kepada Anda tiga alasan daripada
Saya ingin memberitahu Anda mengenai tiga alasan mengapa kita tidak perlu menerima rancangan …
3) Pilih kalimat aktif, lebih baik mengatakan
Manajemen menyetujui proposal itu daripada Proposalnya disetujui oleh manajemen
4) Gunakan kalimat yang positif, lebih baik mengatakan
kami menolak proposal itu daripada kami tidak menerima proposal itu
5) Variasi jenis dan panjang kalimat. Kalimat harus pendek, langsung, aktif, dan positif memang benar, namun terlalu banyak kalimat yang jenis dan panjangnya sama akan terasa membosankan.

2.3.5 Jenis Teks Pidato
Berdasarkan ada tidaknya persiapan dalam pidato, Rachmat (1999: 17-18) membagi jenis pidato menjadi empat macam, yaitu pidato impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore. Tokoh lain menyebut empat bentuk ini bukan sebagai jenis pidato, tetapi merupakan metode pidato.

1) Pidato Impromtu
Pidato impromptu adalah pidato yang disampaikan tanpa adanya persiapan dari orang yang akan berpidato. Misalnya, ketika Anda datang ke suatu pesta, kemudian Anda diminta untuk menyampaikan pidato, maka pidato yang Anda sampaikan tanpa adanya persiapan terlebih dahulu tersebut dinamakan pidato impromtu. Bagi mereka yang sudah terbiasa berpidato, pidato impromtu ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah
(1) impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena    pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya,
(2)  gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup, dan
(3)  impromtu memungkinkan Anda terus berpikir.

Pidato impromptu memiliki beberapa kelemahan, terutama bagi pembicara atau orang yang belum terbiasa berpidato. Kelemahan-kelemahan impromptu tersebut antara lain adalah
(1) impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah karena dasar pengetahuan yang tidak memadai,
(2) impromptu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar,
(3) gagasan yang disampaikan bias “acak-acakan” dan ngawur,
(4) karena tiadanya persiapan, kemungkinan “demam panggung” besar sekali.

Menurut Jalaludin Rachmat (1999: 17) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dijadikan pegangan ketika pidato impromtu harus dilakukan.
Hal-hal tersebut antara lain adalah:
1. Pikirkan lebih dahulu teknik permulaan pidato yang baik. Misalnya: cerita, hubungan dengan pidato sebelumnya, bandingan, ilustrasi, dan sebagainya.
2. Tentukan sistem organisasi pesan. Misalnya: susunan kronologis, teknik pemecahan masalah, kerangka sosial ekonomi-politik, hubungan teori dan praktik.
3. Pikirkan teknik menutup pidato yang mengesankan. Kesukaran menutup pidato biasanya merepotkan pembicara impromtu.

2) Pidato Manuskrip
Pidato jenis manuskrip ini juga sering disebut pidato dengan naskah. Orang yang berpidato mmembacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Pidato jenis manuskrip ini diperlukan oleh tokoh nasional dan para ilmuwan dalam melaporkan hasil penelitian yang dilakukannya. Mereka harus berbicara atau berpidato dengan hati-hati, karena kesalahan pemakaian kata atau kalimat akibatnya bisa lebih luas dan berakibat negatif.

Keuntungan pidato manuskrip antara lain adalah
(1) kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang,
(2) pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali,
(3) Kefasihan bicara dapat dicapai, karena kata-kata sudah disiapkan,
(4) hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari,
(5) manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.

Akan tetapi kalau dilihat dari proses komunikasi, kerugian pidato manuskrip
             ini akan lebih berat, di antaranya adalah
(1) komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka,
(2) pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku,
(3) umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan,
(4) pembuatannya lebih lama daripada sekedar menyiapkan garis-garis besarnya saja.

Agar dapat menghindari berbagai kelemahan dari pidato manuskrip ini,
maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Susunlah lebih dahulu garis-garis besarnya dan siapkan bahan-bahannya.
2. Tulislah manuskrip seolah-olah Anda berbicara. Gunakan gaya percakapan yang lebih informal dan langsung.
3. Baca naskah itu berkali-kali sambil membayangkan pendengar.
4. Siapkan manuskrip dengan ketikan besar, tiga spasi dan batas pinggir yang luas.

3) Pidato Memoriter
Pidato jenis ini juga sering disebut sebagai pidato hafalan. Pembicara atau orang yang akan berpidato menulis semua pesan yang akan disampaikan dalam sebuah naskah kemudian dihafalkan dan disampaikan kepada audiens kata-demi kata secara hafalan.

 Pidato memoriter ini sering menjadi tidak dapat berjalan dengan baik apabila pembicara lupa bagian yang akan disampaikan, dan dalam pidato ini hubungan antara pembicara dengan pendengar juga kurang baik. Kekurangan pidato jenis ini antara lain adalah: tidak terjalin saling hubungan antara pesan dengan pendengar kurang langsung, memerlukan banyak waktu dalam persiapan, kurang spontan, dan perhatian beralih dari kata-kata kepada usaha mengingat-ingat.

4) Pidato Ekstemporer
Pidato ekstemporer ini adalah jenis pidato yang paling baik dan paling banyak digunakan oleh juru pidato yang telah mahir. Dalam pidato jenis ini, pembicara hanya menyiapkan garis besar (out-line) saja. Dalam penyampaiannya, pembicara tidak mengingat kata demi kata tetapi pembicara bebas menyampaikan ide-idenya dengan rambu-rambu garis besar permasalahan yang telah disusun.

Komunikasi yang terjadi antara pembicara dengan audiensnya dapat berlangsung dengan lebih baik. Pembicara dapat secara langsung merespon apa yang terjadi di hadapannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Bagi pembicara yang belum mahir berpidato, pidato jenis ekstempore ini memiliki beberapa kelemahan.

Kelemahan tersebut di antaranya adalah: persiapan kurang baik bila dibuat terburu-buru, pemilihan bahasa yang jelek, kefasihan yang terhambat karena kekurangan memilih kata dengan segera, kemungkinan menyimpang dari garis besar pidato (out-line), tentu saja tidak dapat dijadikan bahan penerbitan. Akan tetapi, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi dengan banyak melakukan latihan berpidato. Dari berbagai jenis pidato yang diuraikan di atas, penelitian ini akan focus membahas mengenai pidato memoriter. Pidato memoriter yang ditulis menggunakan metode peta pikiran diharapkan dapat memudahkan dalam pembuatan teks.

2.3.6 Langkah-langkah Menulis Teks Pidato
Penyusunan teks pidato hendaknya kata-kata yang digunakan harus jelas, tepat, dan menarik. Hindari kata-kata klise, hati-hati dalam penggunaan kata-kata pungut, hindari vulgarisme dan kata-kata yang tidak sopan. Menurut Keraf (1970:317), agar tidak menyimpang dari apa yang akan dibicarakan, maka akan lebih baik jika kita mengikuti langkah-langkah menulis teks pidato sebagai berikut:

1) Menentukan Maksud
Setiap tulisan selalu menentukan topik tertentu yang disampaikan kepada khalayak, dan mengharapkan suatu reaksi tertentu dari pembaca atau pendengar. Suatu uraian yang disajikan secara lisan harus pula menetapkan suatu topik yang jelas beserta tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan uraian di atas, dalam menulis harus terlebih dahulu menentukan maksud dan menetapkan topik.
2. Menganalisis Pendengar dan Situasi
Ada beberapa topik yang dapat dipakai untuk menganalisis pendengar yang akan dihadapi. Pembicara umumnya telah diberitahu pendengar mana yang akan hadir dalam pertemuan tersebut. Sebab itu sebelum ia menganalisis pendengar berdasarkan beberapa topik khusus, ia harus mulai dengan data-data umum. Data-data umum yang dapat dipakai untuk menganalisis para hadir adalah: jumlah, kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan, dan keanggotaan politik atau sosial. Berdasarkan uraian di atas, sebelum kita menulis teks pidato terlebih dahulu menganalisis pendengar dan situasi terlebih dahulu.
3. Memilih dan Menyempitkan Topik
Memilih dan menyempitkan topik adalah setiap tulisan terlebih dahulu seseorang memilih dan menyempitkan topik yang akan ditulis, yang ingin disampaikan kepada para hadirin, dan mengharapkan suatu reaksi tertentu daripada pembaca dan pendengar. Untuk memilih topik yang baik harus memperhatikan beberapa aspek berikut:
1) Topik yang dipilih hendaknya sudah diketahui, kemungkinan untuk memperoleh lebih banyak keterangan atau informasi.

2) Persoalan yang dibawakan hendaknya menarik perhatian pembicara sendiri. Bila persoalan tidak menarik perhatiannya, maka persiapannya merupakan hal yang sangat menjengkelkan, sehingga selalu timbul bahaya bahwa pada suatu waktu pembicara meninggalkan begitu saja topik tersebut, atau tidak menyiapkan secara mendalam.

3) Persoalan yang dibicarakan hendaknya menarik pula perhatian pendengar. Bila persoalan tersebut sungguh-sungguh menarik perhatian pendengar, maka pembicara tidak akan bersusah payah menjaga agar pendengar-pendengarnya selalu mengarahkan perhatiannya kepada pembicaraannya. Suatu topik dapat menarik perhatian pendengar karena topik itu mengenai persoalan para pendengar sendiri, merupakan suatu jalan keluar dari suatu persoalan yang tengah dihadapi, merupakan persoalan yang tengah ramai dibicarakan dalam masyarakat, atau persoalan yang jarang terjadi dan persoalan yang dibawakan mengandung konflik pendapat.

4) Mengumpulkan Bahan Setelah memilih dan menyempitkan topik selanjutnya yaitu mengumpulkan bahan. Seperti sudah dikemukakan di atas, penyusunan bahan-bahan dilakukan melalui tiga tahap yaitu mengumpulkan bahan, membuat kerangka karangan, dan menguraikan secara mendetail. Mengumpulkan bahan maksudnya sebelum menulis terlebih dahulu kita persiapkan materi terlebih dahulu sebagai bahan untuk menjadi sebuah tulisan.

5) Membuat kerangka uraian Sebelum menulis, alangkah baiknya membuat kerangka uraian terlebih dahulu supaya tersusun dan hasilnya bisa tercapai. Untuk memanfaatkan aspek psikologis tersebut pembicara dapat mempergunakan teknik berikut untuk menyusun materinya:
(1) Pertama, dalam bagian pengantar uraiannya, ia menyampaikan suatu orientasi mengenai apa yang akan diuraikannya, serta bagaimana usaha untuk menjelaskan tiap bagian itu. Bila pendengar telah mendapatkan gambaran dan kesan yang baik mengenai urutan penyajiannya beserta kepentingan materi pembicaraanya, maka mereka akan lebih siap untuk mengikuti uraian itu dengan cermat dan penuh perhatian.

(2) Setelah memasuki uraian, pembicara harus menonjolkan bagian-bagian yang penting. Tiap bagian yang ditonjolkan itu kemudian diikuti dengan penjelasan, ilustrasi, atau keterangan-keterangan yang sifatnya kurangpenting, tetapi karena sudah ada motivasi, maka setiap pendengar ingin mengetahui perinciannya itu. Demikian dilakukan berulang kali dengan topiktopik penting berikutnya.

(3) Pada akhir uraian, sekali lagi pembicara menyampaikan ikhtisar seluruh uraiannya tadi, agar hadirin dapat memperoleh gambaran secara bulat sekali lagi mengenai seluruh masalah yang baru saja selesai dibicarakan itu.

4. Menguraikan secara mendetail Setelah membuat kerangka uraian, tahap selanjutnya yaitu menguraikan dari kerangka tersebut secara mendetail menjadi sebuah tulisan.

5. Mempublikasikan teks pidato dalam bentuk tulis ataupun secara lisan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah menulis teks pidato yang juga disesuaikan dengan tahapan menulis yaitu sebagai berikut:
1. Menentukan topik teks pidato.
2. Mengidentifikasi pendengar atau pembaca teks pidato.
3. Menentukan tujuan pidato
4. Membuat kerangka pidato
5. Mengembangkan ide pokok.
6. Menyunting teks pidato




















BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan

Menulis merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat dengan keterampilan dasar terpenting pada manusia, yaitu berbahasa. Menurut Tarigan (1986:3), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

 Menulis puisi merupakan kegiatan aktif dan produktif. Dikatakan aktif karena dalam menulis puisi seseorang telah melakukan proses berpikir, sedangkan dikatakan produktif karena seseorang dalam menulis puisi akan menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dinikmati oleh orang lain. Menurut Arsjad (1988: 53) pidato merupakan suatu hal yang sangat penting baik pada waktu sekarang maupun pada waktu yang akan datang, karena pidato merupakan penyampaian dan penamaan pikiran, informasi, atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai.

Pantun merupakan salah satu karya sastra Melayu yang sampai sekarang masih dikembangkan. Kata pantun mempunyai arti ucapan yang teratur, pengarahan yang mendidik. Pantun juga dapat berarti sindiran.

3.2 saran

Dalam penyusunan makalah ini, kami selaku penyusun tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di pahami. Untuk itu kami mohon kritik dan sarannya untuk masukan kami sebagai pembelajaran di waktu yang akan datang.




























DAFTAR PUSTAKA


Abdul Rani, Supratman. 2006. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

Akhadiah, Sabarti., dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Akhadiah, Sabarti. 1993. Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Arsjad, Maidar G, dan U.S, Mukti. 1998. Pembinaan Kemampuan Berbicaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Depdikbud. 2010. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif Disempurnakan. Jakarta: Yrama Widya.

Djago tarigan 1997. Kependidikan,keterampilan berbahasa jakarta departemen pendidikan dan kebudayaan universitas terbuka.

Effendy, M. Ruslan. 1983. Selayang Pandang Kesusastraan Indonesia. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Hamzah, Amir. 1996. Esai dan Prosa. Jakarta: Dian Rakyat.

Jalaludin Rakhmat, 2001. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja

Sanusi, A. Effendi. 2013. Penilaian Pengajaran Bahasa dan Sastra. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Semi, Atar M. 1996. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung : Angkasa.

Semi, M. Atar. 2007. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa.

Soebachman, Agustina. 2014. 4 Hari Mahir Menulis Artikel, Cerpen, Novel,Skripsi. Yogyakarta: Syura Media Utama.

Surana. 2001. Pengantar Sastra Indonesia. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Suroto. 1989. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Universitas Lampung. 2011. Format Penulisan Karya Ilmiah. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Wardoyo, Sigit Mangun. 2013. Teknik Menulis Puisi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis linguistik tradisional

Analisis kebutuhan buku teks