Hakikat Apresiasi Sastra
HAKIKAT APRESIASI PUISI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, salawat beserta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw.
Berkat rahmat Allah swt Yang Maha Kuasa, penyusun dapat menyelesaikan tugas apresiasi puisi tentang hakikat apresiasi puisi dengan lancar. Dalam pembuatan makalah ini, penyusun mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Dr. Muhammad Fuad, M.Hum. dan I Wayan Ardi Sumarta, M.Pd. yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini. Perpustakaan Universitas Lampung yang telah memberikan fasilitas sehingga makalah ini dapat selesai dengan lancar. Kedua orang tua yang telah memberikan bantuan materil maupun doanya, sehingga pembuatan makalah ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu yang membantu pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, dan penyusun pada khususnya. Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penyusun sampaikan terimakasih.
Bandar Lampung, 09 September 2018
Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR 2
BAB I 3
PENDAHULUAN 3
1.1 Latar Belakang 3
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan 4
BAB II 5
PEMBAHASAN 5
2.1 Hakikat Apresiasi 5
2.2 Bekal Apresiator 9
2.3 Tujuan Apresiasi 11
2.4 Manfaat Apresiasi 11
BAB III 13
PENUTUP 13
3.1 Simpulan 13
DAFTAR PUSTAKA 14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur yang tersusun dari unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Puisi dikaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi.
Pengajaran puisi yang menekankan pada apresiasi puisi dengan menerapkan teori-teori puisi sebagai sarana penunjang dalam usaha membina kemampuan apresiasi anak didik, dapat mengantarkan siswa menjadi apresiator yang baik, hingga mampu menggauli nilai-nilai yang terdapat pada puisi.
Menurut S.Effendi dalam Aminuddin (2015:35) apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran, kritis dan kepekaanperasaan yang baik terhadap karya sastra. Kegiatan apresiasi ini dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra, salah satunya dengan cara memahami arti/makna yang terkandung dalam karya sastra tersebut
Menyadari betapa pentingnya manfaat mengapresiasi dan menginterpretasi makna puisi, serta kurang berhasilnya pengajaran sastra dapat menimbulkan beberapa pendapat tentang perlunya diadakan penelitian terhadap pengajaran sastra khususnya pengajaran apresiasi puisi di sekolah.
1.2 Rumusan Masalah
1.1.1 Apa yang dimaksud dengan apresiasi?
1.1.2 Apa yang dimaksud dengan apresiasi puisi?
1.1.3 Apa saja bekal yang harus dimiliki seorang apresiator?
1.1.4 Apa tujuan apresiasi?
1.1.5 Apa manfaat apresiasi?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mendeskripsikan pengertian apresiasi
1.3.2 Untuk mendeskripsikan pengertian apresiasi puisi
1.3.3 Untuk mendeskripsikan bekal yang harus dimiliki seorang apresiator
1.1.1 Untuk mendeskripsikan tujuan apresiasi
1.1.2 Untuk mendeskripsikan manfaat apresiasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Karya Sastra
Karya sastra merupakan pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan, diilhami, dan dirasakan seseorang mengenai segi-segi kehidupan yang menarik minat secara langsung dan kuat, pada hakikatnya suatu pengungkapan kehidupan manusia melalui bentuk bahasa (Hardjana,1985: 10). Karya sastra juga dapat dikatakan sebagai bagian yang penting dari proses sosial dan kebudayaan. Karya sastra juga mengaitkan berbagai masalah kehidupan seperti agama, filsafat, psikologi, sosiologi, etika, hukum, dan politik. Oleh karena itu, karya sastra juga dapat ditelusuri dengan menggunakan pendekatan melalui disiplin-disiplin ilmu yang lain seperti sosiologi,psikologi,sejarah,filsafat,hukum,dan sebagainya.
Karya sastra dikenal dalam dua bentuk, yaitu fiksi dan nonfiksi. Contoh dari karya sastrafiksi adalah prosa, puisi,dan drama,sedangkan contohkarya sastra nonfiksi adalah biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra (Djojosuroto dan Pangkerego, 2000:12).
2.2 Unsusr-Unsur Karya Sastra
Karya sastra dibangun oleh unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. (Nurgiyantoro, 2010:23).
2.3 Unsur Instrinsik
Menurut Mahayana (2006:244), pendekatan intrinsik pada dasarnya sama dengan analisis struktural. Karya sastra dianggap di dalamnya mempunyai sejumlah elemen atau peralatan yang saling berkaitan dan masing-masing mempunyai fungsinya sendiri. Pendekatan intrinsik mencoba menjelaskan fungsi dan keterkaitan elemen (unsur) atau peralatan itu tanpa menghubungkannya dengan faktor di luar itu, seperti biografi pengarang, latar belakang penciptaan, atau keadaan dan pengaruh karya sastra kepada pembacanya.
Adapun pendekatan objektif menempatkan karya sasrta yang akan diteliti atau dianalisis itu sebagai objeknya. Mengingat karya sastra yang menjadi objeknya mempunyai unsur-unsurnya yang satu dengan lainnya tidak dapat dilepaskan, maka unsur-unsur itulah yang hendak diuraikan pada pendekatan objektif. Masalah subjektivitas peneliti, seperti perasaan suka atau tidak suka terhadap pengarangnya, temanya, atau gaya bahasanya, disisihkan. Lalu apa yang dimaksud dengan unsur-unsur bahasa itu dan bagaimana melihat fungsinya masing-masing? Dalam puisi, larik, bait, diksi, atau majas, citraan, dan sarana retorika lain, dianggap sebagai unsur-unsur pembangunnya. Dalam drama, unsur-unsur itu, antara lain, dialog, latar, tokoh, alur, dan tema. Unsur novel, antara lain, tokoh, alur, latar, tema, sudut pandang, dan pencerita.
Unsur intrinsik menurut Nurgiyantoro (2005 : 23) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur-unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Tokoh dan Penokohan
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminuddin 1987 : 79).
Nurgiyantoro (2005: 176-194), menerangkan bahwa peran tokoh-tokoh cerita dalam sebuah karya fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat dibedakan yakni :
Segi peranan
a) Tokoh Utama adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam cerita pendek yang bersangkutan
b) Tokoh Tambahan adalah yang hanya melengkapi dalam bentuk konflik
2.Segi fungsi penampilan tokoh
a) Tokoh Protogonis adalah tokoh yang memerankan prilaku positif
b) Tokoh Antagonis adalah tokoh yang penyebab terjadinya konflik atau pelaku negatif
Segi perwatakannya
a) Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi atau watak tertentu
b) Tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya.
Segi berkembang atau tidaknya perwatakan
a) Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi
b) Tokoh berkembang adaalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot atau alur yang dikisahkan
Segi kemungkinan pencerminan tokoh cerita
a) Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan
b) Tokoh netral adalah tokoh cerita yang beriksistensi demi ceritaa itu sendiri.
Tokoh dalam cerita selalu memiliki watak-watak tertentu. Menurut Aminuddin (1987 : 80-81), dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menelaahnya lewat (1) Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya (2) Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian, (3) Menunjukkan bagaimana perilakunya, (4) Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri, (5) Memahami bagaimana jalan pikirannya, (6) Melihat bagaimana tokoh lain berbincang tentangnya, (7) Melihat bagaimana tokoh yang lain itu memberikan reaksi terhadapnya, dan (8) Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lainnya.
tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan atas dua, yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibagi atas:
a. Tokoh sentral protagonis
Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.
b. Tokoh sentral antagonos
Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan atas tiga, yaitu:
a. Tokoh andalan
Tokoh andalah adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral. (protagonis atau antagonis).
b. Tokoh tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh bawahan yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa.
c. Tokoh lataran
Tokoh lataran adalah tokoh bawahan yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
Berdasarkan cara menampilkan perwatakannya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tokoh latar/sederhana/pipih
Yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, film animasi).
b. Tokoh bulat/kompleks/bundar
Yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.
2. Penokohan
Yang dimaksud penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan watak citra tokoh. Ada bebarapa metode penyajian watak tokoh, yaitu:
a. Metode analitis/langsung
Yaitu penyajian watak tokoh dengan memaparkan watak tokoh secara langsung.
b. Metode dramatik/tak langsung/ragaan
Yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.
c. Metode kontekstual
Yaitu penyajian watak tokoh melalui gaya bahasa yang dipakai pengarang.
Menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM, ada lima cara penyajian watak tokoh, yaitu:
a. Melalui apa yang dibuatnya, tindakan-tindakannya, terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.
b. Melalui ucapan-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus, dll.
c. Melalui penggambaran fisik tokoh.
d. Melalui pikiran-pikirannya.
e. Melaui penerangan langsung. Tokoh dan latar memang merupakan dua unsur cerita rekaan yang erat berhubungan dan saling mendukung.
2. Plot/Alur
Plot/Alur merupakan unsur cerita fiksi yang penting, bahkan tak sedikit orang yang menanggapinya sebagai yang terpenting diantara berbagai unsur cerita fiksi yang lain.
Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 113) mengemukakan bahwa Plot / Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Penampilan peristiwa demi peristiwa yang hanya mendasarkan diri pada urusan waktu saja belum merupakaan Plot. Agar menjadi sebuah Plot, peristiwa-peristiwa ini haruslah diolah dan disiasati secara kreatif, sehingga hasil pengolahan dan penyiasatannya itu sendiri merupakan suatu yang indah dan menarik, khususnya dalam kaitannya dengan karya fiksi yang bersangkutan secara keseluruhan.
Setiap cerita mempunyai plot yang merupakan satu kesatuan tindak. Menurut Nurgiyantoro (2005 : 153-163) plot dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yang berbeda berdasarkan sudut-sudut tinjauan dan kriteria yaitu :
a) Berdasarkan kriteria urutan waktu
Urutan waktu yang dimaksud adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi yang bersangkutan. Macam-macam plot berdasarkan urutan waktu yaitu.
1. Plot maju atau lurus
2. Plot sorot balik
3. Plot campuran
b) Berdasarkan kriteria jumlah
Dengan kriteria jumlah dimaksudkan sebagai banyaknya plot cerita yang terdapat dalam sebuah karya fiksi. Macam-macam plot berdasarkan kriteria jumlah yaitu :
Plot tunggal
Plot sub-sub plot
c) Berdasarkan kriteria kepadatan
Dengan kepadatan dimaksudkan sebagai padat atau tidaknya pengembangan dan perkembangan cerita kriteria kedapatan yaitu.
1. Plot padat
2. Plot longgar
d) Berdasarkan kriteria isi
Dengan isi dimaksudkan sebagai sesuatu, masalah kecenderungan masalah, yang diungkapkan dalam cerita. Jadi, sebenarnya, ia lebih merupakan isi cerita itu sendiri secara keseluruhan dari pada sekedar urusan plot. Jenis-jenisnya antara lain.
1. Plot peruntungan
2. Plot tokohan
3. Plot pemikiran
Loban dkk (dalam Aminuddin 1987 : 84 – 85) menggambarkan gerak tahapan alur cerita seperti halnya gelombang-gelombang itu berawal dari : (1) ekposisi, (2) komplikasi, atau intrik-intrik awal yang akan berkembang menjadi konflik hingga menjadi konflik, (3) klimaks, (4) relevasi atau penyikatan tabir suatu problema, dan (5) denovement atau penyelesaian yang membahagiakan, yang dibedakan dengan catastrophe, yakni penyelesaian yang menyedihkan ; dan solution yakni penyelesaian yang masih bersifat terbuka karena pembaca sendirilah yang dipersilakan menyelesaikan lewat daya imajinasinya.
Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita rekaan. Urutan peristiwa dapat tersusun berdasarkan tiga hal, yaitu:
a. Berdasarkan urutan waktu terjadinya. Alur dengan susunan peristiwa berdasarkan kronologis kejadian disebut alur linear.
b. Berdasarkan hubungan kausal/ sebab akibat. Alur yang berdasarkan hubungan sebab akibat disebut alur kausal.
c. Berdasarkan tema cerita disebut alur tematik.
Setiap karya sastra tentu saja mempunyai kekhususan dalam rangkaian ceritanya. Namun demikian, ada bebrapa unsur yang ditemukan pada hampir di semua cerita. Unsur-unsur tersebut merupakan pola umum alur cerita. Pola umum alur cerita adalah:
a. Bagian awal
i.
Paparan(exposition)
ii.
Rangsangan(inciting moment)
iii.
Gawatan(rising action)
b. Bagian tengah
i.
Tikaian(conflict)
ii.
Rumitan(complication)
iii.
Klimaks
c. Bagian akhir
i.
Leraian(falling action)
ii.
Selesaian(denouement)
Bagian awal alur
Jika cerita diawali dengan peristiwa pertama dalam urutan waktu terjadinya, dikatakan bahwa cerita itu disusun ab ovo. Sedangkan jika yang mengawali cerita bukan peristiwa pertama dalam urutan waktu kejadian, dikatakan bahwa cerita itu dudun in medias res.
Penyampaian informasi pada pembaca disebut pemaparan atau eksposisi. Jika urutan kronologis kejadian yang disajikan dalam karya sastra disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya, maka dalam cerita tersebut terdapat alih balik/ sorot balik/ flash back. Sorot balik biasanya digunakan untuk menambah tegangan/gawatan yaitu ketidakpastian yang berkepanjangan dan menjadi-jadi. Dalam membuat ketegangan, penulis sering menciptakan regangan, yaitu proses menambah ketegangan emosional, sering pula menciptakan susutan, yaitu proses pengurangan ketegangan. Sarana lain yang dapat digunakan untuk menciptakan ketegangan adalah padahan(foreshadowing), yaitu penggambaran peristiwa yang akan terjadi.
Bagian tengah alur
Tikaian adalah perselisihan yang timbul sebagai akibat adanya dua kekuatan yang bertentangan. Perkembangan dari gejala mula tikaian menuju ke klimaks cerita disebut rumitan. Rumitan mempersiapkan pembaca untuk menerima seluruh dampak dari klimaks. Klimaks adalah puncak konflik antartokoh.
Bagian akhir alur
Bagian sudahan klimaks adalah leraian, yaitu peristiwa yang menunjukkan perkembangan peristiwa ke arah selesaian. Selesaian adalah bagian akhir atau penutup cerita. Dalam membangun peistiwa-peristiwa cerita, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis.
Faktor-faktor penting tersebut adalah.
1. Keboleh jadian (pausibility), yaitu peristiwa-peristiwa kejadian sebaiknya meyakinkan, tidak selalu realistis tetapi meyakinkan. Penyelesaian masalah pada akhir cerita sesungguhnya sudah terkandung atau terbayang pada saat titik klimaks.
2. Kejutan, yaitu peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebak/ dikenali oleh pembaca.
3. Faktor kebetulan, yaitu peristiwa-peristiwa yang tidak terduga terjadi, secara kebetulan terjadi.
Kombinasi dari ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan peristiwa-peristiwa menjadi dinamis. Selain itu, ada hal yang harus dihindari dalam alur, yaitu lanturan atau degresi. Lanturan atau degresi adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dihadapi dalam cerita.
Pada umumnya alur dibedakan menjadi dua, yaitu alur maju dan alur mundur. Yang dimaksud dengan alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian. Sedangkan alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian.
Pembagian seperti itu sebenarnya hanyalah salah satu pembagian alur berdasarkan urutan waktu. Secara lebih lengkap dapat dikatakan bahwa ada tiga macam alur, yaitu alur berdasarkan urutan waktu, alur berdasarkan sebab akibat dan alur berdasarkan tema. Dalam cerita beralur tema setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan, cerita tersebut masih dapat dipahami.
Dalam hubungannya dengan alur, ada beberapa istilah lain yang perlu dipahami.
1. Alur bawahan
Alur bawahan adalah alur cerita yang berada di samping alur cerita utama.
2. Alur linear
Alur linear adalah rangkaian peristiwa dalam cerita yang susul menyusul secara temporal.
3. Alur balik
Alur balik sama halnya dengan alur sorot balik atau
flash back.
4. Alur datar
Alur datar adalah alur yang tidak dapat dirasakan adanya perkembangan cerita dari gawatan, klimaks sampai selesaian.
5. Alur menanjak
Alur menanjak adalah alur yang jalinan peristiwanya semakin lama semakin menanjak atau rumit.
3. Latar / Setting
Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 216) setting atau latar disebut juga sebagai landas tumpu, mengarah pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Unsur latar setting atau dapat dibedakan dalam tiga unsur pokok, yaitu.
(1) Latar tempat adalah menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
(2) Latar waktu adalah latar yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
(3) Latar sosial adalah latar yang menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (Nurgiyantoro, 2005 : 227-233).
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar meliputi penggambaran letak geografis (termasuk topografi, pemandangan, perlengkapan, ruang), pekerjaan atau kesibukan tokoh, waktu berlakunya kejadian, musim, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh.
Latar dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Latar fisik/material
Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya(dapat dipahami melalui panca indra). Latar fisik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu.
A. Latar netral, adalah latar fisik yang tidak mementingkan kekhususan waktu dan tempat.
B. Latar spiritual, adalah latar fisik yang menimbulkan dugaan atau pemikiran tertentu.
2. Latar sosial, adalah latar yang mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikap, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain.
Ada beberapa funsi latar, antara lain.
1. Memberikan informasi situasi sebagaimana adanya.
2. Memproyeksikan keadaan batin tokoh.
3. Menciptakan suasana tertentu.
4. Menciptakan kontras.
4. Tema
Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiyantoro, 2005:68), tema merupakan gagasan dasar yang merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Sedangkan menurut Aminuddin (1987 : 91), untuk memahami tema, pembaca terlebih dahulu harus memahami unsur-unsur signifikasi yang membangun suatu cerita menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya.
Menurut Aminuddin (1987 : 92). Dalam upaya pemahaman tema, pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah-langkah berikut :
1) Memahami setting dalam prosa yang dibaca.
2) Memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca
3) Memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam prosa fiksi yang dibaca
4) Memahami plot ataau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca
5) Menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan lainnya yang disimpulkan dari satuan –satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita
6) Menentukan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran yang ditampilkan
7) Mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya denan bertolak dari satuan pokok serta sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkan
8) Menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam satu dua kalimat yang diharapkan ide dasar cerita yang dipaparkan yang pengarangnya.
Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Ada beberapa macam tema, ada tema yang disebut didaktis, yaitu tema pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Ada tema yang dinyatakan secara eksplisit. Ada tema yang dinyatakan secara simbolik. Ada tema yang dinyatakan dalam dialog tokoh utamanya. Dalam menentukan tema cerita, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain minat pengarang secara pribadi, selera pembaca, keinginan penerbit atau penguasa.
Kadang-kadang terjadi perbedaan antara gagasan yang dipikirkan oleh pengarang dengan apa yang dipahami oleh pembaca. Gagasan sentral yang ditemukan dalam karya sastra disebut makna muatan, sedangkan makna atau gagasan yang dimaksud oleh pengarang(pada waktu menyusun cerita tersebut) disebut makna niatan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan makna niatan kadang-kadang tidak sama dengan makna muatan, diantaranya.
1.Pengarang kurang pandai menjabarkan tema yang dikehendakinya di dalamnya.
2. Beberapa pembaca berbeda pendapat tentang gagasan dasar suatu karya.
Yang diutamakan adalah bahwa penafsiran itu dapat dipertanggungjawabkan
dengan adanya unsur-unsur di dalam karya sastra yang menunjang tafsiran tersebut. Dalam suatu karya sastra ada tema sentral dan ada pula tema sampingan.
Yang dimaksud dengan tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Sedangkan tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.
Ada tema yang berulang dan dikaitkan dengan tokoh, latar serta unsur-unsur lain dalam cerita. Tema semacam itu disebut tema leitmotif. Leitmotif ini mengantar pembaca pada suatu amanat. Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Dapat pula secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.
5. Gaya
Aminuddin (1987:76) menerangkan bahwa gaya adalah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya lewat media bahasa yang indah dan harmonis meliputi aspek-aspek : (1) pengarang, (2) ekspresi, (3) gaya bahasa. Sebab itulah ada pendapat yang menjelaskan bahwa gaya adalah orangnya atau pengarangnya karena lewat gaya kita dapat mengenal bagaimana sikap dan endapan pengetahuan, pengalaman dan gagasan pengarannya. Gaya erat kaitannya dengan ekspresi karena jika gaya adalah cara dan alat seorang pengarang untuk mewujudkan gagasannya, maka ekspresi adalah proses atau kegiatan perwujuadan itu sendiri. Sebab itulah gaya dapat juga disebut sebagai cara, teknik maupun bentuk pengekspresian suatu gagasan.
gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis.
Jenis-jenis majas, diantaranya.
a. Majas perbandingan
1. Alegori
Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2. Alusio
Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3. Simile
Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti, layaknya, bagaikan,dll.
4. Metafora
Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti, layaknya, bagaikan, dll.
5.
Antropomorfisme
Metafora yang menggunakan kata atau bentuk yang lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6. Sinestesia
Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan melalui ungkapan rasa indra lainnya.
7. Antonomasia
Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8. Aptronim
Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9. Metonimia
Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merk, ciri khas atau atribut.
10. Hipokorisme
Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11. Litotes
Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12. Hiperbola
Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13. Personifikasi
Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
14. Depersonifikasi
Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15. Pars pro toto
Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan sebagian objek.
16. Totum pro parte
Pengungkapan seluruh bagian objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17. Eufimisme
Pangungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18. Disfemisme
Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagai mana adanya.
19. Fabel
Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20. Parabel
Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21. Perifrase
Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22. Eponim
Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23. Simbolik
Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
24. Asosiasi
Perbandingan terhadap dua hal yang berbeda namun dinyatakan sama.
b. Majas sindiran
1. Ironi
Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari kenyataan tersebut.
2. Sarkasme
Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme
Ungkapan yang bersifat cemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia(lebih kasar dari ironi).
4. Satire
Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5. Innuendo
Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
c. Majas penegasan
1. Apofasis
Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme
Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang diperlukan.
3. Repetisi
Perulangan kata frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima
Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5. Aliterasi
Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme
Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase atau klausa yang sejajar.
7. Tautologi
Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
8. Sigmatisme
Pengulangan bunyi “s” untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis
Menggunakan perulangan yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10. Klimaks
Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks
Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/penting menurun kepada hal yang lebih sederhana/kurang penting.
12. Inversi
Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
13. Retoris
Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
14. Elipsis
Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio
Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat
kemudian disebutkan maksud yang sesunggunya.
16. Polisindenton
Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17. Asindenton
Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi
Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
19. Eksklamasio
Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
20. Enumerasio
Ungkapan penegasan berupa penguraian berupa bagian demi bagian suatu keseluruhan.
21. Preterito
Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22. Alonim
Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi
Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24. Silepsis
Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
25. Zeugma
Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis sehingga menjadi kalimat yang rancu.
d. Majas pertentangan
1. Paradoks
Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron
Paradoks dalam satu frase.
3. Antitetis
Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus
Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme
Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian antara peristiwa dengan waktunya.
6. Sudut Pandang (Point Of View)
Menurut Booth (dalam Nurgiyantoro, 2005:249) sudut pandang (point of view) merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca. Sedangkan menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005:248) Point of view adalah cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
Sudut pandang adalah cara atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya sastra (Abrams, 1981 : 142). Terdapat beberapa jenis sudat pandang.
1) Pengarang sebagai tokoh cerita
Pengarang bercerita tentang keseluruhan kejadian atau peristiwa terutama yang menyangkut diri tokoh. Tokoh utama sebagai pemapar cerita pada umumnya mempunyai kesempatan yang luas untuk menguraikan dan menjelaskan tentang dirinya, perasaannya dan pikirannya.
2) Pengarang sebagai tokoh sampingan
Orang yang bercerita dalam hal ini adalah seorang tokoh sampingan yang mencerikan peristiwa yang bertalian, terutama dengan tokoh utama cerita. Sesekali peristiwa itu juga menyangkut tentang dirinya sebagai pencerita.
3) Pengarang sebagai orang ketiga (pengamat)
Pengarang sebagai orang ketiga yang berada di luar cerita bertindak sebagai pengamat sekaligus sebagai narator yang menjelaskan peristiwa yang bersangkutan serta suasana perasaan dan pikiran para pelaku cerita.
4) Pengarang sebagai pemain dan narator
Pemain yang bertindak sebagai pelaku utama cerita dan sekaligus sebagai narator yang menceritakan tentang orang lain di samping tentang dirinya, biasanya keluar masuk cerita, suatu ketika ia terlibat dalam cerita, tetapi ketika yang lain, ia bertindak sebagai pengamat yang berada di luar cerita.
Benniso Gray membedakan Pencerita menjadi pencerita orang pertama dan pencerita orang ketiga. Yang dimaksud dengan sudut pandang orang pertama(akuan) adalah cara bercerita dimana tokoh pencerita terlibat langsung mengalami peristiwa-peristiwa dalam cerita. Ini disebut gaya sudut pandang akuan.
Gaya sudut pandang akuan dibagi atas dua, yaitu.
1. Sudut pandang akuan sertaan, yaitu pencerita akuan menjadi tokoh sentral dalam tokoh itu.
2. Sudut pandang akuan tak sertaan, yaitu pencerita akuan tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
Pencerita orang ketiga(diaan) adalah sudut pandang bercerita dimana tokoh pencerita tidak terjun langsung atau terlibat dalam cerita. Sudut pandang orang ketiga(diaan) dibagi atas.
1. Sudut pandang diaan serba tahu, yaitu pencerita yang tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Tokoh ini bebas bercerita dan bahkan memberi komentar dan penilaian terhadap tokoh cerita.
2. Sudut pandang diaan terbata, yaitu pencerita yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya. Jadi, seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang diamatinya saja.
Kadang-kadang seseorang sulit membedakan antara pengarang dan tokoh pencerita. Pada prinsipnya tokoh pencerita merupakan individu hasil karya pengarang yang mengemban misi membawakan sebuah cerita. Ia bukanlah pengarang itu sendiri.
Jakop Sumardjo membagi point of view menjadi empat macam, yaitu.
1. Sudut pandang yang berkuasa (omnicient point of view ), pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. Ia tahu segalanya.
2. Sudut pandang penglihatan obyektif(objective point of view ), pengarang serba tahu tetapi tidak memberi komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi pandangan mata, apa yang seolah dilihat oleh pengarang.
1. Sudut pandang orang pertama, pengarang sebagai pelaku cerita.
2. Sudut pandang peninjau, pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita.
Menurut Harry Shaw, sudut pandang dalam kesusastraan adalah.
1. Sudut pandang fisik, yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam mendekati materi cerita.
2. Sudut pandang mental, yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah atau peristiwa yang diceritakannya.
3. Sudut pandang pribadi, yaitu sudut pandang yang menyangkut hubungan atau keterlibatan pribadi pengarang dalam pokok masalah yang diceritakan. Sudut pandang pribadi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu.
1. Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh sentral.
2. Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan.
3. Pengarang menggunakan sudut pandang impersonal (di luar cerita).
7. Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat utama harus merujuk pada tema. Pesan moral lainnya dapat ditemukan tersebar dalam cerita.
2.4 Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik menurut Nurgiyantoro (2005 : 23) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun atau sistem organisme karya sastra atau dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walaupun demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan.
Unsur-unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur kehidupan yang membangun karya sastra dari luar, seperti agama, politik, budaya dan sebagainya.
Wellek dan Werren (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 24) mengatakan bahwa unsur ekstrinsik terdiri dari sejumlah unsur antara lain :
Biografi Pengarang, Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup dapat mempengaruhi karya tulisnya dengan kata lain pengarang juga akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya.
Psikologi,Psikologi baik yang berupa psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifinya), psikologi pembaca, maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya dapat mempengaruhi sebuah karya fiksi.
Keadaan Lingkungan Pengarang, Keadaan lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik dan sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra.
Pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain dapat mempengaruhi terhadap karya sastra.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Secara etimologis, apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciaton, kata itu berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk itu berasal dari kata verjato appreciate yang berarti menghargai, menilai, mengerti. Aminudin (1987:34) mengemukakan bahwa apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.
Menurut Aminuddin dalam buku Moh Najid. Bekal seorang apresiator tidak akan terlepas dari bekal pengetahuan,bekal pengalaman dan kesiapan diri. Untuk memberikan sebuah bentuk pangapresiasian dalam sebuah karya sastra tentu kita tidak boleh melakukannya dengan sembarangan karena itu kita sebagai apresiator harus memiliki dasar dalam berargumen dan dasar itu tentu adalah sebuah pengetahuan.
Rahmanto pembelajaran sastra setidaknya membatu siswa dalam empat aspek, yakni membantu meningkatkan keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan karakter atau watak, sebab karya sastra memiliki fungsi sebagai media akhlak/ etika/moral, estetika (kepekaan terhadap seni dan keindahan) dan didaktika (pendidikan).
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru.
Aminuddin, 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Damono, Sapardi Djoko. 2014. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Komentar
Posting Komentar