Sejarah psikolinuguistik
PENDAHULUAN
Pada awalnya, psikolinguistik bukanlah ilmu mandiri yang dikaji secara khusus. Psikolinguistik merupakan ilmu yang dikaji secara terpisah baik oleh pakar linguistik maupun pakar psikologi. Istilah psikolinguistik sendiri pertama kali digunakan oleh Thomas A. Sebeok dan Charles E. Osgood pada tahun 1954 pada sebuah buku yang berjudul Psycholinguistik : A Survey of Theory and Research Problems. Walaupun sebetulnya, pengkajian ilmunya telah dimulai sejak zaman Sokrates dan Panini. Dua aliran filsafat, yakni empirisme dan rasionalisme turut berkontribusi dalam perkembangan pemikiran para ilmuan di dua ranah ilmu tadi. Filsafat empirisme menganggap bahwa ilmu merupakan objek kajian yang dapat dikenali secara inderawi. Filsafat ini erat kaitannnya dengan psikologi asosiasi. Aliran ini mengkaji objek ilmu dengan menganalisis unsur-unsur pembentuknya sampai sekecil-kecilnya. Aliran filsafat rasionalisme mengkaji bahwa akal sebagai faktor yang harus dikaji agar memahami perilaku manusia. Turunan aliran rasionalisme ini adalah faham nativisme, idealisme, dan mentalisme.
2.1 Psikologi dalam Linguistik
Jauh sebelum psikolinguistik berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu sebenarnya telah banyak dirintis kerja sama dalam bidang linguistik yang memerlukan psikologi dan sebaliknya kerja sama dalam bidang psikologi yang membutuhkan linguistik. Hal itu tampak, misaInya sejak zaman Wilhelm Von Humboldt, seorang ahli linguistik berkebangsaan Jerman yang pada awal abad 19 telah mencoba mengkaji hubungan bahasa dengan pikiran. Von Humboldt memperbandingkan tata bahasa dari bahasa Dasar-dasar Psikolinguistik yang berbeda dan memperbandingkan perilaku bangsa penutur bahasa itu. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa menentukan pandangan masyarakat penuturnya. Pandangan Von Humboldt itu sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme yang menganggap bahasa bukan sebagai satu bahan yang siap untuk dipotongpotong dan diklasifikasikan seperti anggapan aliran empirisme. Tetapi, bahasa itu merupakan satu kegiatan yang mempunyai prinsip sendiri dan bahasa manusia merupakan variasi dari satu tema tertentu.
Pada awal abad 20, Ferdinand de Saussure (1964) seorang ahli linguistik bangsa Swiss telah berusaha menjelaskan apa sebenarnya bahasa itu dan bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Dia memperkenalkan konsep penting yang disebutnya sebagai langue (bahasa), parole (bertutur) dan langage (ucapan). De Saussure menegaskan bahwa objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan parole adalah objek kajian psikologi. Hal itu berarti bahwa apabila kita ingin mengkaji bahasa secara tuntas dan cermat, selayaknya kita menggabungkan kedua disiplin ilmu itu karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada pada bahasa itu bersifat psikologis.
Edward Sapir seorang sarjana Linguistik dan Antropologi Amerika awal abad ke20 telah mengikutsertakan psikologi dalam kajian bahasa. Menurut Sapir, psikologi dapat memberikan dasar yang kuat bagi kajian bahasa. Sapir juga telah mencoba mengkaji hubungan bahasa dengan pikiran. Simpulannya ialah bahasa itu mempengaruhi pikiran manusia. Linguistik menurut Sapir dapat memberikan sumbangan penting bagi psikologi gestalt dan sebaliknya, psikologi gestalt dapat memberikan sumbangan bagi linguistik.
Pada awal abad ke20, Leonard Bloomfield, seorang linguis dari Amerika Serikat dipengaruhi oleh dua buah aliran psikologi yang bertentangan dalam menganalisis bahasa. Pada mulanya, ia sangat dipengaruhi oleh psikologi mentalisme dan kemudian beralih pada psikologi behaviorisme. Karena pengaruh mentalisme, Bloomfield berpendapat bahwa bahasa itu merupakan ekspresi pengalaman yang lahir karena tekanan emosi yang yang sangat kuat. Karena tekanan emosi yang kuat itu, misaInya, munculnya kalimat seruan.
Misalnya:
Aduh, sakit, Bu!
Kebakaran, kebakaran, tolong, tolong!
Copet, copet!
Awas, minggir!
Karena seseorang ingin berkomunikasi, muncullah kalimatkalimat deklaratif. Misalnya:
Ibu sedang sakit hari ini.
Ayah sekarang membantu ibu di dapur.
Banyak karyawan bank yang terkena PHK.
Para buruh sekarang sedang berunjuk rasa.
Karena keinginan berkomunikasi itu bertukar menjadi pemakaian komunikasi yang sebenarnya, maka mucullah kalimat yang berbentuk pertanyaan. Misalnya:
Apakah Ibu sakit?
Siapakah presiden keempat Republik Indonesia?
Mengapa rakyat Indonesia telah berubah menjadi rakyat yang mudah marah?
Apa arti likuidasi?
Tahukah Anda makna lengser keprabon?
Sejak tahun 1925, Bloomfield meninggalkan mentalisme dan mulai menggunakan behaviorisme dan menerapkannya ke dalam teori bahasanya yang sekarang terkenal dengan nama linguistik struktural atau linguistik taksonomi.
Otto Jespersen, seorang ahli linguistik Denmark terkenal telah menganalisis bahasa dari suclut panclang mentalisme dan yang seclikit berbau behaviorisme. Menurut jespersen, bahasa bukanlah sebuah entitas dalam pengertian satu benda seperti seekor anjing atau seekor kuda. Bahasa merupakan satu fungsi manusia sebagai simbol di dalam otak manusia yang melambangkan pikiran atau membangkitkan pikiran. Menurut Jespersen, berkomunikasi harus dilihat dari sudut perilaku (jadi, bersifat behavioris). Bahkan, satu kata pun dapat dibandingkan dengan satu kebiasaan tingkah laku, seperti halnya bila kita mengangkat topi.
Dalam sejarah kajian linguistik ada sejumlah pakar linguistik yang menaruh perhatian besar pada psikologi. Von Humboldt (1767-1835), telah mencoba mengkaji hubungan antara bahasa (linguistik) dengan pemikiran manusia (psikologi). Caranya, dengan membandingkan tata bahasa dari bahasa-bahasa yang berlainan dengan tabiat-tabiat bangsa-bangsa penutur bahasa itu. Tampaknya, Von Humboldt sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme. Dia menganggap bahasa bukanlah bahasa bukanlah sesuatu yang sudah siap untuk dipotong-potong dan diklasifikasikan eperti aliran empirisme. Menurut Von Humboldt bahasa itu merupakan suatu kegiatan yang memiliki prinsip-prinsip sendiri.
Ferdinand de Saussure (1858-1913). Beliau memperkenalkan tiga istilah tentang bahasa yaitu language (bahasa yang pada umumnya bersifat abstrak) langue (bahasa tertentu yangbbersifat abstrak) dan parole (bahasa sebagai tuturan yang bersifat konkret). Dia menegaskan objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan objek kajian psikologi adalah parole. Hal ini dikatakannya karena dia beranggapan segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis.
Edward sapir (1884-1939). Menurut Sapir, psikologi dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam pengkajian bahasa. Beliau juga mengkaji hubunganb bahasa (linguistik) dengan pemikiran (psikologi). Dari kajian itu beliau berkesimpulan bahwa bahasa, terutama stukturnya, merupakan unsur yang menentukan struktur pemikiran manusia.
Leonard Bloomfield (1887-1949), dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviorisme. Disini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat.
Otto Jespersen tlah menganalisis bahasa menurutt psikologi mentalistik yang juga sedikit berbau behaviorisme, bahasa bukanlah uatu wujud dalam pengertian suatu benda, melainkan uatu fungsi manusia sebagai lambang-lambang di dalam otak yang melambangkan pemikiran atau yang membangkitkan pikiran.
2.2 Lingusitik dalam Psikologi
Dalam sejarah perkembangan psikologi ada sejumlah pakar yang menaruh perhatian pada linguistik. John Dewey (1859-1952), beliau telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak-kanak berdasarkan prinip-prinsip psikologi. Jadi dengan pengkajian kelas kata berdasarakan pemahaman kanak-kanak kita akan dapat menentukan kecenderungan akal (mental) kanak-kanak yang dihubungkan dengan perbedaan linguistik.
Karl Buchler, beliau menyatakan bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi, yang disebut Kungabe adalah tindakan komunikatif yang diwujudkan dalam bentuk verbal. Appel adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan Darstellung penggambaran pokok masalah yang dikomunikasikan. Disini bahasa dipandang sebagai simbol atau lambang. Dalam penggunaan bahasa salah satu dari ketiga fungsi itu mungkin lebih domina namun, dartellung merupakan fungsi yang paling umum.
Wundt (1832-1920). Orang pertama yang mengembangkan secara sistematis toeri mentalistik bahasa. Beliau menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran. Wundt berpendapat bahwa pada mulanya bahasa lahir dalam bentuk gerak-gerik yang dipakai untuk melahirkan peraaan-perasaan yang sangat kuat secara tidak sadar. Lalu terjadilah pertukaran antara komponen-komponen perasaan ini dengan komponen-komponen akal mentalisme.
Watson (1878-1958), menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan lainnya. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perlikau berbahasa yang implisit, yakni terjadi didalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan.
Weiss, mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukan. Weiss juga telah mengemukakan sejumlah masalah yang harus dipecahkan oleh linguistik dan psikologi yang dilihat dari sudut behaviorisme, yaitu sebagai berikut
1) Bahasa merupakan suatu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap suatu stimulus
2) Pada dasarnya perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke dalam organisasi gerak saraf
3) Perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragam-ragamkan kegiatan seorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan
4) Bahasa dapat merupakan stimulus terhadap suatu respons atau sebaliknya
5) Respons bahasa sebagai stimulus pengganti untuk benda dan keadaan yang sebenarnya
2.2 Lingusitik dalam Psikologi
Dalam sejarah perkembangan psikologi ada sejumlah pakar yang menaruh perhatian pada linguistik. John Dewey (1859-1952), beliau telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak-kanak berdasarkan prinip-prinsip psikologi. Jadi dengan pengkajian kelas kata berdasarakan pemahaman kanak-kanak kita akan dapat menentukan kecenderungan akal (mental) kanak-kanak yang dihubungkan dengan perbedaan linguistik.
Karl Buchler, beliau menyatakan bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi, yang disebut Kungabe adalah tindakan komunikatif yang diwujudkan dalam bentuk verbal. Appel adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan Darstellung penggambaran pokok masalah yang dikomunikasikan. Disini bahasa dipandang sebagai simbol atau lambang. Dalam penggunaan bahasa salah satu dari ketiga fungsi itu mungkin lebih domina namun, dartellung merupakan fungsi yang paling umum.
Wundt (1832-1920). Orang pertama yang mengembangkan secara sistematis toeri mentalistik bahasa. Beliau menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran. Wundt berpendapat bahwa pada mulanya bahasa lahir dalam bentuk gerak-gerik yang dipakai untuk melahirkan peraaan-perasaan yang sangat kuat secara tidak sadar. Lalu terjadilah pertukaran antara komponen-komponen perasaan ini dengan komponen-komponen akal mentalisme.
Watson (1878-1958), menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan lainnya. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perlikau berbahasa yang implisit, yakni terjadi didalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan.
Weiss, mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukan. Weiss juga telah mengemukakan sejumlah masalah yang harus dipecahkan oleh linguistik dan psikologi yang dilihat dari sudut behaviorisme, yaitu sebagai berikut
1) Bahasa merupakan suatu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap suatu stimulus
2) Pada dasarnya perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke dalam organisasi gerak saraf
3) Perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragam-ragamkan kegiatan seorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan
4) Bahasa dapat merupakan stimulus terhadap suatu respons atau sebaliknya
5) Respons bahasa sebagai stimulus pengganti untuk benda dan keadaan yang sebenarnya
2.3 Kerja Sama Psikologi dan Linguistik
Kerja sama secara langsung diantar disiplin lingusitik dan psikologi sebenarnya sudah dimulai sejak 1860, yaitu oleh Heyman Steinthal, seorang ahli psikologi yang beralih menjadi ahli lingustik, dan Moritz Lazarus eorang ahli linguitik yang beralih menjadi ahli psikologi. Menurut Steinhal, sebuah ilmu psikologi tidak mungkin dapat hidup tanpa sebuah ilmu bahasa. Juga dikatakannya bahwa satu-satunya jalan untuk masuk kedalam akal manusia adalah melalui hukum-hukum asal bahasa dan bukan melalui pancaindra manusia. Dasar-dasar psikolinguistik menurut beberapa pakar di dalam buku yang disunting oleh Osgood dan Sebeok adalah sebagai berikut :
1) Psikolinguistik adalah suatu teori linguistik berdasarkan bahasa yang di anggap sebagai sebuah sistem elemen yang berhubungan erat.
2) Psikolinguistik adalah satu teori pembelajaran (menurut teori behaviorisme( berdasarkan bahasa yang di anggap sebagai satu sistem tabiat dan kemampuan yang menghubungkan isyarat dengan perilaku.
3) Psikolinguistik adalah satu teori informasi yang menganggap bahasa sebagai sebuah alat untuk menyampaikan suatu benda.
2.4 Psikolinguistik sebagai Disiplin Mandiri
Dalam teorinya, Leshley menyatakan bahwa lahirnya suatu ucapan bukanlah merupakan pertalian serentetan respons yang datangnya dari luar, melainkan merupakan suatu kejadian akal yang serentak dan struktur sintaksis ucapan itu hanyalah secara tidak langsung dihubungkan dengan bentuk urutannya.
Miller mencoba memperkenalkan teori linguistik baru yang dirumuskan oleh Chomsky yaitu teori generatif transformai kepada para pakar psikologi yang belum menyadari adanya perkembangan yang sangat pesat dalam studi bahasa yang telah dicapai oleh lingusitik untuk memupuk jalan kearah kerja sama selanjutnya.
Pada awal perkembangannya, psikolinguistik sangat berbau neobehaviorisme terutama yang mencoba menerangkan bahasa menurut kerangka Stimulus-Respons yang tidak mentalis. Inilah tujuan utama psikolinguistik dewasa ini yang bersifat kognitif, yang mengikuti satu evaluasi dalam pengkajian bahasa.
2.5 Tiga Generasi dalam Psikolingusitik
a. Psikolinguistik Generasi Pertama
Psikolinguistik generasi pertama adalah pikolinguistik dengan para pakar yang menulis artikel dalam kumpulan karangan. Sebeok sebagai dua tokoh linguistik generasi pertama titik pandangnya berkaitan dengan aliran behaviorisme (aliran perilaku) atau lebih tepat lagi dengan aliran neobehaviorisme. Namun, psikolinguistik memang dianalisis oleh Osgood dan Sebeok tetap bergayut dengan proses perilaku dari aliran behaviorisme.
L. Bloomfield yang menerima dan menerapkan terori-teroti perilaku dalam analisis bahasa. Teknik analisis bahasa dan pandangannya tentang hakikat bahasa sama dengan pandangan dan teori psikologi yang berlaku. Aliran behaviorsme dalam psikologi merupakan suatu aliran empiris, pandangan ini juga diterapkan dalam proses pemerolehan bahasa.
b. Psikolinguistik Generasi Kedua
Untuk dapat memahami lebih baik psikolinguistik generasi kedua melalui pernyataan G.S Miller dan Noam Chomky adalah sebagai berikut :
1) Dalam komunikasi verbal, tidak semua ciri-cirin fisiknya jelas dan tidak semua ciri-ciri yang terang dalam ujaran mempunyai representai fisik.
2) Makna sebuah tuturan tidak boleh dikacaukan dengan apa yang ditujukannya. Makna adalah sesuatu yang sangat kompleks yang menyangkut anathubungan simbol-simbol atau lambang-lambang satu respons yang terpenggal-penggal terlalu menyederhanakan kekayaan makana atau makna secara keseluruhan
3) Makna sebuah ujaran bukannalh makna dari kata-kata yang tersusun memahami makna sebuah ujaran berarti memahami apa yang ada dalam otak sipenutur.
4) Struktur sintaksis sebuah kalimat terdiri dari satuan-satuan yang menentukan interaksi antar makna-makna kata yang terdapat dalam kalimat tersebut.
5) Jumlah kalimat dan jumlah makna yang diejawantahkan dengan bahasa terbatas jumlahnya.
6) Harus dibedakan antara penndeksripsian sebuah bahasa dan pendksripsian pemakai bahasa.
7) Adanya komponen biologis yang bear untuk menentukan kemampuan berbahasa
c. Psikolinguistik Generasi Ketiga
Psikolinguistik generasi kedua menyatakan bahwa analisis mereka bahasa telah melampaui batas kalimat. Namun, kenyataannya analisis mereka hanya sampai pada anlisis hubungan antara kalimat dan pada kalimat saja, belum sampai pada wacana. Beberapa konsep yang berhubungan dengan analisis topik-topik telah diintroduksikan, namun tetap tidak ada kelanjutannya.
Subsistem Linguistik
Tataran Rancangan Psikolinguistik
Analisis wacana
Ø Rancangan wacana
Ø Rancangan intonasi
Sintaksis kalimat
Ø Rancangan sintaksis
Kaidah leksikal
Ø Rancangan pemilihan leksikal
Kaidah morfofonemik
Ø Rancangan morfofonemik
Kaidah fonologi
Ø Rancangan fonetik dan mototris
Ciri-ciri psikolinguistik generasi ketiga adalah sebagai berikut :
1) Orientasi mereka kepada psiokologi, tetapi bukan psikologi perilaku.
2) Keterlepasan mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat” dan keterlibatan dalam psikolinguistik yang berdasarkan situasi dan konteks.
3) Adanya satu pergeseran dari analisis mengenai proses ujaran yang abstrak ke satu analisis psikologis mengenai komunikasi dan pemikiran.
Perkembangan disiplin ilmu psikolinguistik telah merangsang Mehler dan Noizet untuk menulis artikel “Vers une Modelle Psycholinguistique du Locuter” (1974) yang dimuat di Textes Pour une Psycholinguistique. Dalam artikel ini dijelaskan bahwa ada tiga generasi perkembangan psikolinguistik.
1) Psikolinguistik Generasi Pertama
Psikolinguistik generasi pertama ini ditandai oleh penulisan artikel “Psycholinguistics : A Survey of Thery and Research Problems” yang disunting oleh C. Osgoods dan Sebeok. Maka kedua tokoh ini dinobatkan sebagai tokoh psikolinguistik generasi pertama. Titik pandang Osgoods dan Sebeok dipengaruhi aliran behaviorisme. Menurut Parera (1996) dalam Abdul Chaer generasi pertama memiliki tiga kelemahan :
a. adanya sifat reaktif dari psikolinguistik tentang bahasa yangmemandang bahwa bahasa bukanlah satu tindakan atau perbuatan manusiawi melainkan dipandang sebagai satu stimulus-respons.
b. psikolinguistik bersifat atomistik. Sifat ini nampak jelas ketika Osgoods mengungkapkan teori pemerolehan bahasa bahwa jumlah pemerolehan bahasa adalah kemampuan untuk membedakan kata atau bentuk yang berbeda, dan kemampuan untuk melakukan generalisasi.
c. bersifat individualis. Teorinya menekankah pada eprilaku berbahasa individu-individu yang terisolasi dari amsyarakat dan komunikasi nyata.
Tokoh lain psikolinguistik generasi pertama ini adalah Bloomfoeld danSkinner.
2) Psikolinguistik Generasi Kedua
Teori-teori generasi pertama ditolak oleh beberapa tokoh seperi NoamChomsky dan George Miller. Menurut Mehler dan Noizet, psikologi generasi kedua telah mengatasi ciri-ciri atomistik psikolinguistik. Psikologi generasi ini berpendapat bahwa dalam proses berbahasa bukanlah butir-butir bahasa yang diperoleh, melaikan kaidah dan sistem kaidahnya. Di sini, orientasi psikologis digantikan oleh orientasi linguistik. Penggabungan antara Miller dan Chomsky meruapakan penggabungan model-model linguistik tata bahasa Chomsky yang relatif berbeda dengan proses-proses psikologi. Malah Mehler dan Noizet mengatakan bahwa psilinguistik generasi kedua anti-psikologi. Tokoh fase ini lebih mengarah pada manifestasi ujaran sebagai bentuk linguistik.
G.S. Miller dan Noam Chomsky menyatakan beberapa hal tentangpsikolinguistik generasi kedua ini dalam artikel “Some Preliminaries toPsycholinguistics” :
a. Dalam komunikasi verbal, tidak semua ciri-ciri fisiknya jelas danterang, dan tidak semua ciri-ciri yang etrang dalam ujaran mempunyairepresentasi fisik.
b. makna sebuah tuturan tidak boleh dikacaukan dengan apa yangditunjukkan. Makna adalah sesuatu yang sangat kompleks yangmenyangkut antar hubungan simbol-simbol atau lambang-lambang.Respons yang terpenggal-penggal terlalu menyederhanakan mankasecara keseluruhan.
c. Struktur sintaksis sebuah kalimat terdiri atas satuan-satuan interaksianatara makna kata yang terdapay dalam kalimat tersebut. Kalimatkalimat itu tersusun secara hierarkis, tetapi belum cukup menjelaskan wujud luar linguistik.
d. Jumlah kalimat dan jumlah makna yang dapat diejawantahkan tidakterbatas jumlahnya. Pengetahuan seseorang akan bahasa harus dikaitkan dengan kemampuan seseorang menyusun bahasa dalam sisitem sintaksis dan semantik.
e. Harus dibedakan antara pendeksripsian bahasa denga pendeskripsianpemakaian bahasa. Seorang ahli psikolinguistik harus merumuskanmodel-model pengejawantahan bahasa yang dapat meliputi pengetahuan kaidah bahasa.
f. Ada komponen biologis yang besar untuk menentukan kemampuanberbahasa. Kemampuan berbahasa ini tidak tergantung apada intelegensi dan besarnya otak, melainkan bergantung pada “manusia”.
3) Psikolinguistik Gegerasi Ketiga
Psikolinguistik generasi kedua menyatakan bahwa analisis merekamengakui bahasa telah melampaui batas kalimat. Namun, padakenyataannya, analisis mereka baru sampai pada tahap kalimat saja, belumpada wacana. Kekurangan analisis pada psikolinguistik generasi keduakemudian diperbaharui oleh psikolinguistik generasi ketiga. G. Werstchdalam bukunya Two Problems for the New Psycholinguistics memberikarakteristik baru ilmu ini sebagai “psikolinguistik baru”. Beberapa ciripsiklonguistik generasi ketiga ini adalah :
a. Orientasi mereka kepada psikologi, tetapi bukan psikologi perilaku.Seperti yang diungkapkan Fresse dan Al Vallon (Prancis) dan psikolog Uni Soviet, telah terjadi proses serempak dari informasi psikologi dan linguistik.
b. Keterlepasan mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat”, dan lebih mengarah pada “psikolnguistik situasi dan konteks”.
c. Adanya pergeseran dari analisis proses ujaran yang abstrak ke satuanalisis psikologis mengenai komunikasi dan pikiran.
Sebetulnya, psikolinguistik di Rusia lebih dahulu berkembang dari pada di negara-negara Barat. Hal ini terjadi karena sejak awal psikolinguistik di Rusia telah memperhitungkan perilaku komunikasi dan perpikiran dalam analisis psikolinguistik.
2.6 Sejarah Lahirnya psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu, yaitu psikoogi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke-20 tatkalan psikolog Jerman Wilhem Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang "ilmiah".
Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap formatif, tahap linguistik, tahap kognitif, dan tahap teori psikolinguistik, realita, dan ilmu kognitif.
a. Tahap Formatif
Pertengahan abad kedua puluh John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas hibridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carrol, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini. Pertemuan itu dilanjutkan pada tahun 1953 di Universitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini. Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.
b. Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, Syntactic Structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap behavioristik B.F. Skinner telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini semakin berkembang karena pandangan Chomsky tentang universal bahasa, khususnya pertanyaan "mengapa anak di manapun juga memperoleh bahasa mereka dengan memakai strategi yang sama".
Kesamaan dalam strategi ini didukung juga oleh berkembangnya ilmu neurolinguistik dan biolinguistik. Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primata lain, baik dalam struktur maupun fungsinya. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Dari segi biologi manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang.
Keterkaitan neurobiologi mendukung pandangan Chomsky yang mengatakan bahsa pertumbuhan bahasa pada manusia terprogram secara genetik. Orang telah banyak melakukan penelitian dan mencoba mengajar binatang untuk berbahasa, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil. Ketidakberhasilan semua penelitian ini membuktikan bahsa pemerolehan bahasa adalah unik untuk manusia.
c. Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. pmerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif. Tatabahasa, misalnaya, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari kognisi manusia karena konstituen dalam suatu ujaran sebenarnya mencerminkan realita psikologi yang ada pada manusia tersebut.
Ujaran bukanlah suatu urutan bunyi yang linear tetapi urutan bunyi yang membentuk unit-unit konstituen yang hierarkis dan masing-masing unit ini adalah realita psikologis. Frasa orang tua itu, misalnya, membentuk suatu kesatuan psikologis yang tidak dapat dipisahkan. Frasa ini dapat diganti dengan hanya satu kata seperti Achmad atau dia.
Pada tahap ini orang juga mulai bicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan di mana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lennerberg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang manusia itu terkait secara genetik dengan pertumbuhan biologisnya.
d. Tahap Teori Psikolinguistik
Pada tahap akhir ini psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri atas psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.
Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki seperti sekarang ini, mustahil manusia dapat berbahasa. Ilmu filsafat juga kembali memegang peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sudah dari jaman purba menjadi perdebatan di antara para filosof, yaitu apa itu pengetahuan dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu milik khusus manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Psikolingusitik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Dardjowidjojo, Sunjono. 2003. Psiko-Linguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor.
Djumransjah. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Malang : Bayumedia Publishing.
Mar’at, Samsuniwiyati. 2005. Psikolingusitik Suatu Pengantar. Bandung : Refika Aditama.
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa.
Pada awalnya, psikolinguistik bukanlah ilmu mandiri yang dikaji secara khusus. Psikolinguistik merupakan ilmu yang dikaji secara terpisah baik oleh pakar linguistik maupun pakar psikologi. Istilah psikolinguistik sendiri pertama kali digunakan oleh Thomas A. Sebeok dan Charles E. Osgood pada tahun 1954 pada sebuah buku yang berjudul Psycholinguistik : A Survey of Theory and Research Problems. Walaupun sebetulnya, pengkajian ilmunya telah dimulai sejak zaman Sokrates dan Panini. Dua aliran filsafat, yakni empirisme dan rasionalisme turut berkontribusi dalam perkembangan pemikiran para ilmuan di dua ranah ilmu tadi. Filsafat empirisme menganggap bahwa ilmu merupakan objek kajian yang dapat dikenali secara inderawi. Filsafat ini erat kaitannnya dengan psikologi asosiasi. Aliran ini mengkaji objek ilmu dengan menganalisis unsur-unsur pembentuknya sampai sekecil-kecilnya. Aliran filsafat rasionalisme mengkaji bahwa akal sebagai faktor yang harus dikaji agar memahami perilaku manusia. Turunan aliran rasionalisme ini adalah faham nativisme, idealisme, dan mentalisme.
2.1 Psikologi dalam Linguistik
Jauh sebelum psikolinguistik berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu sebenarnya telah banyak dirintis kerja sama dalam bidang linguistik yang memerlukan psikologi dan sebaliknya kerja sama dalam bidang psikologi yang membutuhkan linguistik. Hal itu tampak, misaInya sejak zaman Wilhelm Von Humboldt, seorang ahli linguistik berkebangsaan Jerman yang pada awal abad 19 telah mencoba mengkaji hubungan bahasa dengan pikiran. Von Humboldt memperbandingkan tata bahasa dari bahasa Dasar-dasar Psikolinguistik yang berbeda dan memperbandingkan perilaku bangsa penutur bahasa itu. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa menentukan pandangan masyarakat penuturnya. Pandangan Von Humboldt itu sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme yang menganggap bahasa bukan sebagai satu bahan yang siap untuk dipotongpotong dan diklasifikasikan seperti anggapan aliran empirisme. Tetapi, bahasa itu merupakan satu kegiatan yang mempunyai prinsip sendiri dan bahasa manusia merupakan variasi dari satu tema tertentu.
Pada awal abad 20, Ferdinand de Saussure (1964) seorang ahli linguistik bangsa Swiss telah berusaha menjelaskan apa sebenarnya bahasa itu dan bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Dia memperkenalkan konsep penting yang disebutnya sebagai langue (bahasa), parole (bertutur) dan langage (ucapan). De Saussure menegaskan bahwa objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan parole adalah objek kajian psikologi. Hal itu berarti bahwa apabila kita ingin mengkaji bahasa secara tuntas dan cermat, selayaknya kita menggabungkan kedua disiplin ilmu itu karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada pada bahasa itu bersifat psikologis.
Edward Sapir seorang sarjana Linguistik dan Antropologi Amerika awal abad ke20 telah mengikutsertakan psikologi dalam kajian bahasa. Menurut Sapir, psikologi dapat memberikan dasar yang kuat bagi kajian bahasa. Sapir juga telah mencoba mengkaji hubungan bahasa dengan pikiran. Simpulannya ialah bahasa itu mempengaruhi pikiran manusia. Linguistik menurut Sapir dapat memberikan sumbangan penting bagi psikologi gestalt dan sebaliknya, psikologi gestalt dapat memberikan sumbangan bagi linguistik.
Pada awal abad ke20, Leonard Bloomfield, seorang linguis dari Amerika Serikat dipengaruhi oleh dua buah aliran psikologi yang bertentangan dalam menganalisis bahasa. Pada mulanya, ia sangat dipengaruhi oleh psikologi mentalisme dan kemudian beralih pada psikologi behaviorisme. Karena pengaruh mentalisme, Bloomfield berpendapat bahwa bahasa itu merupakan ekspresi pengalaman yang lahir karena tekanan emosi yang yang sangat kuat. Karena tekanan emosi yang kuat itu, misaInya, munculnya kalimat seruan.
Misalnya:
Aduh, sakit, Bu!
Kebakaran, kebakaran, tolong, tolong!
Copet, copet!
Awas, minggir!
Karena seseorang ingin berkomunikasi, muncullah kalimatkalimat deklaratif. Misalnya:
Ibu sedang sakit hari ini.
Ayah sekarang membantu ibu di dapur.
Banyak karyawan bank yang terkena PHK.
Para buruh sekarang sedang berunjuk rasa.
Karena keinginan berkomunikasi itu bertukar menjadi pemakaian komunikasi yang sebenarnya, maka mucullah kalimat yang berbentuk pertanyaan. Misalnya:
Apakah Ibu sakit?
Siapakah presiden keempat Republik Indonesia?
Mengapa rakyat Indonesia telah berubah menjadi rakyat yang mudah marah?
Apa arti likuidasi?
Tahukah Anda makna lengser keprabon?
Sejak tahun 1925, Bloomfield meninggalkan mentalisme dan mulai menggunakan behaviorisme dan menerapkannya ke dalam teori bahasanya yang sekarang terkenal dengan nama linguistik struktural atau linguistik taksonomi.
Otto Jespersen, seorang ahli linguistik Denmark terkenal telah menganalisis bahasa dari suclut panclang mentalisme dan yang seclikit berbau behaviorisme. Menurut jespersen, bahasa bukanlah sebuah entitas dalam pengertian satu benda seperti seekor anjing atau seekor kuda. Bahasa merupakan satu fungsi manusia sebagai simbol di dalam otak manusia yang melambangkan pikiran atau membangkitkan pikiran. Menurut Jespersen, berkomunikasi harus dilihat dari sudut perilaku (jadi, bersifat behavioris). Bahkan, satu kata pun dapat dibandingkan dengan satu kebiasaan tingkah laku, seperti halnya bila kita mengangkat topi.
Dalam sejarah kajian linguistik ada sejumlah pakar linguistik yang menaruh perhatian besar pada psikologi. Von Humboldt (1767-1835), telah mencoba mengkaji hubungan antara bahasa (linguistik) dengan pemikiran manusia (psikologi). Caranya, dengan membandingkan tata bahasa dari bahasa-bahasa yang berlainan dengan tabiat-tabiat bangsa-bangsa penutur bahasa itu. Tampaknya, Von Humboldt sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme. Dia menganggap bahasa bukanlah bahasa bukanlah sesuatu yang sudah siap untuk dipotong-potong dan diklasifikasikan eperti aliran empirisme. Menurut Von Humboldt bahasa itu merupakan suatu kegiatan yang memiliki prinsip-prinsip sendiri.
Ferdinand de Saussure (1858-1913). Beliau memperkenalkan tiga istilah tentang bahasa yaitu language (bahasa yang pada umumnya bersifat abstrak) langue (bahasa tertentu yangbbersifat abstrak) dan parole (bahasa sebagai tuturan yang bersifat konkret). Dia menegaskan objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan objek kajian psikologi adalah parole. Hal ini dikatakannya karena dia beranggapan segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis.
Edward sapir (1884-1939). Menurut Sapir, psikologi dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam pengkajian bahasa. Beliau juga mengkaji hubunganb bahasa (linguistik) dengan pemikiran (psikologi). Dari kajian itu beliau berkesimpulan bahwa bahasa, terutama stukturnya, merupakan unsur yang menentukan struktur pemikiran manusia.
Leonard Bloomfield (1887-1949), dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviorisme. Disini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat.
Otto Jespersen tlah menganalisis bahasa menurutt psikologi mentalistik yang juga sedikit berbau behaviorisme, bahasa bukanlah uatu wujud dalam pengertian suatu benda, melainkan uatu fungsi manusia sebagai lambang-lambang di dalam otak yang melambangkan pemikiran atau yang membangkitkan pikiran.
2.2 Lingusitik dalam Psikologi
Dalam sejarah perkembangan psikologi ada sejumlah pakar yang menaruh perhatian pada linguistik. John Dewey (1859-1952), beliau telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak-kanak berdasarkan prinip-prinsip psikologi. Jadi dengan pengkajian kelas kata berdasarakan pemahaman kanak-kanak kita akan dapat menentukan kecenderungan akal (mental) kanak-kanak yang dihubungkan dengan perbedaan linguistik.
Karl Buchler, beliau menyatakan bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi, yang disebut Kungabe adalah tindakan komunikatif yang diwujudkan dalam bentuk verbal. Appel adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan Darstellung penggambaran pokok masalah yang dikomunikasikan. Disini bahasa dipandang sebagai simbol atau lambang. Dalam penggunaan bahasa salah satu dari ketiga fungsi itu mungkin lebih domina namun, dartellung merupakan fungsi yang paling umum.
Wundt (1832-1920). Orang pertama yang mengembangkan secara sistematis toeri mentalistik bahasa. Beliau menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran. Wundt berpendapat bahwa pada mulanya bahasa lahir dalam bentuk gerak-gerik yang dipakai untuk melahirkan peraaan-perasaan yang sangat kuat secara tidak sadar. Lalu terjadilah pertukaran antara komponen-komponen perasaan ini dengan komponen-komponen akal mentalisme.
Watson (1878-1958), menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan lainnya. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perlikau berbahasa yang implisit, yakni terjadi didalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan.
Weiss, mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukan. Weiss juga telah mengemukakan sejumlah masalah yang harus dipecahkan oleh linguistik dan psikologi yang dilihat dari sudut behaviorisme, yaitu sebagai berikut
1) Bahasa merupakan suatu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap suatu stimulus
2) Pada dasarnya perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke dalam organisasi gerak saraf
3) Perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragam-ragamkan kegiatan seorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan
4) Bahasa dapat merupakan stimulus terhadap suatu respons atau sebaliknya
5) Respons bahasa sebagai stimulus pengganti untuk benda dan keadaan yang sebenarnya
2.2 Lingusitik dalam Psikologi
Dalam sejarah perkembangan psikologi ada sejumlah pakar yang menaruh perhatian pada linguistik. John Dewey (1859-1952), beliau telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak-kanak berdasarkan prinip-prinsip psikologi. Jadi dengan pengkajian kelas kata berdasarakan pemahaman kanak-kanak kita akan dapat menentukan kecenderungan akal (mental) kanak-kanak yang dihubungkan dengan perbedaan linguistik.
Karl Buchler, beliau menyatakan bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi, yang disebut Kungabe adalah tindakan komunikatif yang diwujudkan dalam bentuk verbal. Appel adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan Darstellung penggambaran pokok masalah yang dikomunikasikan. Disini bahasa dipandang sebagai simbol atau lambang. Dalam penggunaan bahasa salah satu dari ketiga fungsi itu mungkin lebih domina namun, dartellung merupakan fungsi yang paling umum.
Wundt (1832-1920). Orang pertama yang mengembangkan secara sistematis toeri mentalistik bahasa. Beliau menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran. Wundt berpendapat bahwa pada mulanya bahasa lahir dalam bentuk gerak-gerik yang dipakai untuk melahirkan peraaan-perasaan yang sangat kuat secara tidak sadar. Lalu terjadilah pertukaran antara komponen-komponen perasaan ini dengan komponen-komponen akal mentalisme.
Watson (1878-1958), menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan lainnya. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perlikau berbahasa yang implisit, yakni terjadi didalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan.
Weiss, mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukan. Weiss juga telah mengemukakan sejumlah masalah yang harus dipecahkan oleh linguistik dan psikologi yang dilihat dari sudut behaviorisme, yaitu sebagai berikut
1) Bahasa merupakan suatu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap suatu stimulus
2) Pada dasarnya perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke dalam organisasi gerak saraf
3) Perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragam-ragamkan kegiatan seorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan
4) Bahasa dapat merupakan stimulus terhadap suatu respons atau sebaliknya
5) Respons bahasa sebagai stimulus pengganti untuk benda dan keadaan yang sebenarnya
2.3 Kerja Sama Psikologi dan Linguistik
Kerja sama secara langsung diantar disiplin lingusitik dan psikologi sebenarnya sudah dimulai sejak 1860, yaitu oleh Heyman Steinthal, seorang ahli psikologi yang beralih menjadi ahli lingustik, dan Moritz Lazarus eorang ahli linguitik yang beralih menjadi ahli psikologi. Menurut Steinhal, sebuah ilmu psikologi tidak mungkin dapat hidup tanpa sebuah ilmu bahasa. Juga dikatakannya bahwa satu-satunya jalan untuk masuk kedalam akal manusia adalah melalui hukum-hukum asal bahasa dan bukan melalui pancaindra manusia. Dasar-dasar psikolinguistik menurut beberapa pakar di dalam buku yang disunting oleh Osgood dan Sebeok adalah sebagai berikut :
1) Psikolinguistik adalah suatu teori linguistik berdasarkan bahasa yang di anggap sebagai sebuah sistem elemen yang berhubungan erat.
2) Psikolinguistik adalah satu teori pembelajaran (menurut teori behaviorisme( berdasarkan bahasa yang di anggap sebagai satu sistem tabiat dan kemampuan yang menghubungkan isyarat dengan perilaku.
3) Psikolinguistik adalah satu teori informasi yang menganggap bahasa sebagai sebuah alat untuk menyampaikan suatu benda.
2.4 Psikolinguistik sebagai Disiplin Mandiri
Dalam teorinya, Leshley menyatakan bahwa lahirnya suatu ucapan bukanlah merupakan pertalian serentetan respons yang datangnya dari luar, melainkan merupakan suatu kejadian akal yang serentak dan struktur sintaksis ucapan itu hanyalah secara tidak langsung dihubungkan dengan bentuk urutannya.
Miller mencoba memperkenalkan teori linguistik baru yang dirumuskan oleh Chomsky yaitu teori generatif transformai kepada para pakar psikologi yang belum menyadari adanya perkembangan yang sangat pesat dalam studi bahasa yang telah dicapai oleh lingusitik untuk memupuk jalan kearah kerja sama selanjutnya.
Pada awal perkembangannya, psikolinguistik sangat berbau neobehaviorisme terutama yang mencoba menerangkan bahasa menurut kerangka Stimulus-Respons yang tidak mentalis. Inilah tujuan utama psikolinguistik dewasa ini yang bersifat kognitif, yang mengikuti satu evaluasi dalam pengkajian bahasa.
2.5 Tiga Generasi dalam Psikolingusitik
a. Psikolinguistik Generasi Pertama
Psikolinguistik generasi pertama adalah pikolinguistik dengan para pakar yang menulis artikel dalam kumpulan karangan. Sebeok sebagai dua tokoh linguistik generasi pertama titik pandangnya berkaitan dengan aliran behaviorisme (aliran perilaku) atau lebih tepat lagi dengan aliran neobehaviorisme. Namun, psikolinguistik memang dianalisis oleh Osgood dan Sebeok tetap bergayut dengan proses perilaku dari aliran behaviorisme.
L. Bloomfield yang menerima dan menerapkan terori-teroti perilaku dalam analisis bahasa. Teknik analisis bahasa dan pandangannya tentang hakikat bahasa sama dengan pandangan dan teori psikologi yang berlaku. Aliran behaviorsme dalam psikologi merupakan suatu aliran empiris, pandangan ini juga diterapkan dalam proses pemerolehan bahasa.
b. Psikolinguistik Generasi Kedua
Untuk dapat memahami lebih baik psikolinguistik generasi kedua melalui pernyataan G.S Miller dan Noam Chomky adalah sebagai berikut :
1) Dalam komunikasi verbal, tidak semua ciri-cirin fisiknya jelas dan tidak semua ciri-ciri yang terang dalam ujaran mempunyai representai fisik.
2) Makna sebuah tuturan tidak boleh dikacaukan dengan apa yang ditujukannya. Makna adalah sesuatu yang sangat kompleks yang menyangkut anathubungan simbol-simbol atau lambang-lambang satu respons yang terpenggal-penggal terlalu menyederhanakan kekayaan makana atau makna secara keseluruhan
3) Makna sebuah ujaran bukannalh makna dari kata-kata yang tersusun memahami makna sebuah ujaran berarti memahami apa yang ada dalam otak sipenutur.
4) Struktur sintaksis sebuah kalimat terdiri dari satuan-satuan yang menentukan interaksi antar makna-makna kata yang terdapat dalam kalimat tersebut.
5) Jumlah kalimat dan jumlah makna yang diejawantahkan dengan bahasa terbatas jumlahnya.
6) Harus dibedakan antara penndeksripsian sebuah bahasa dan pendksripsian pemakai bahasa.
7) Adanya komponen biologis yang bear untuk menentukan kemampuan berbahasa
c. Psikolinguistik Generasi Ketiga
Psikolinguistik generasi kedua menyatakan bahwa analisis mereka bahasa telah melampaui batas kalimat. Namun, kenyataannya analisis mereka hanya sampai pada anlisis hubungan antara kalimat dan pada kalimat saja, belum sampai pada wacana. Beberapa konsep yang berhubungan dengan analisis topik-topik telah diintroduksikan, namun tetap tidak ada kelanjutannya.
Subsistem Linguistik
Tataran Rancangan Psikolinguistik
Analisis wacana
Ø Rancangan wacana
Ø Rancangan intonasi
Sintaksis kalimat
Ø Rancangan sintaksis
Kaidah leksikal
Ø Rancangan pemilihan leksikal
Kaidah morfofonemik
Ø Rancangan morfofonemik
Kaidah fonologi
Ø Rancangan fonetik dan mototris
Ciri-ciri psikolinguistik generasi ketiga adalah sebagai berikut :
1) Orientasi mereka kepada psiokologi, tetapi bukan psikologi perilaku.
2) Keterlepasan mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat” dan keterlibatan dalam psikolinguistik yang berdasarkan situasi dan konteks.
3) Adanya satu pergeseran dari analisis mengenai proses ujaran yang abstrak ke satu analisis psikologis mengenai komunikasi dan pemikiran.
Perkembangan disiplin ilmu psikolinguistik telah merangsang Mehler dan Noizet untuk menulis artikel “Vers une Modelle Psycholinguistique du Locuter” (1974) yang dimuat di Textes Pour une Psycholinguistique. Dalam artikel ini dijelaskan bahwa ada tiga generasi perkembangan psikolinguistik.
1) Psikolinguistik Generasi Pertama
Psikolinguistik generasi pertama ini ditandai oleh penulisan artikel “Psycholinguistics : A Survey of Thery and Research Problems” yang disunting oleh C. Osgoods dan Sebeok. Maka kedua tokoh ini dinobatkan sebagai tokoh psikolinguistik generasi pertama. Titik pandang Osgoods dan Sebeok dipengaruhi aliran behaviorisme. Menurut Parera (1996) dalam Abdul Chaer generasi pertama memiliki tiga kelemahan :
a. adanya sifat reaktif dari psikolinguistik tentang bahasa yangmemandang bahwa bahasa bukanlah satu tindakan atau perbuatan manusiawi melainkan dipandang sebagai satu stimulus-respons.
b. psikolinguistik bersifat atomistik. Sifat ini nampak jelas ketika Osgoods mengungkapkan teori pemerolehan bahasa bahwa jumlah pemerolehan bahasa adalah kemampuan untuk membedakan kata atau bentuk yang berbeda, dan kemampuan untuk melakukan generalisasi.
c. bersifat individualis. Teorinya menekankah pada eprilaku berbahasa individu-individu yang terisolasi dari amsyarakat dan komunikasi nyata.
Tokoh lain psikolinguistik generasi pertama ini adalah Bloomfoeld danSkinner.
2) Psikolinguistik Generasi Kedua
Teori-teori generasi pertama ditolak oleh beberapa tokoh seperi NoamChomsky dan George Miller. Menurut Mehler dan Noizet, psikologi generasi kedua telah mengatasi ciri-ciri atomistik psikolinguistik. Psikologi generasi ini berpendapat bahwa dalam proses berbahasa bukanlah butir-butir bahasa yang diperoleh, melaikan kaidah dan sistem kaidahnya. Di sini, orientasi psikologis digantikan oleh orientasi linguistik. Penggabungan antara Miller dan Chomsky meruapakan penggabungan model-model linguistik tata bahasa Chomsky yang relatif berbeda dengan proses-proses psikologi. Malah Mehler dan Noizet mengatakan bahwa psilinguistik generasi kedua anti-psikologi. Tokoh fase ini lebih mengarah pada manifestasi ujaran sebagai bentuk linguistik.
G.S. Miller dan Noam Chomsky menyatakan beberapa hal tentangpsikolinguistik generasi kedua ini dalam artikel “Some Preliminaries toPsycholinguistics” :
a. Dalam komunikasi verbal, tidak semua ciri-ciri fisiknya jelas danterang, dan tidak semua ciri-ciri yang etrang dalam ujaran mempunyairepresentasi fisik.
b. makna sebuah tuturan tidak boleh dikacaukan dengan apa yangditunjukkan. Makna adalah sesuatu yang sangat kompleks yangmenyangkut antar hubungan simbol-simbol atau lambang-lambang.Respons yang terpenggal-penggal terlalu menyederhanakan mankasecara keseluruhan.
c. Struktur sintaksis sebuah kalimat terdiri atas satuan-satuan interaksianatara makna kata yang terdapay dalam kalimat tersebut. Kalimatkalimat itu tersusun secara hierarkis, tetapi belum cukup menjelaskan wujud luar linguistik.
d. Jumlah kalimat dan jumlah makna yang dapat diejawantahkan tidakterbatas jumlahnya. Pengetahuan seseorang akan bahasa harus dikaitkan dengan kemampuan seseorang menyusun bahasa dalam sisitem sintaksis dan semantik.
e. Harus dibedakan antara pendeksripsian bahasa denga pendeskripsianpemakaian bahasa. Seorang ahli psikolinguistik harus merumuskanmodel-model pengejawantahan bahasa yang dapat meliputi pengetahuan kaidah bahasa.
f. Ada komponen biologis yang besar untuk menentukan kemampuanberbahasa. Kemampuan berbahasa ini tidak tergantung apada intelegensi dan besarnya otak, melainkan bergantung pada “manusia”.
3) Psikolinguistik Gegerasi Ketiga
Psikolinguistik generasi kedua menyatakan bahwa analisis merekamengakui bahasa telah melampaui batas kalimat. Namun, padakenyataannya, analisis mereka baru sampai pada tahap kalimat saja, belumpada wacana. Kekurangan analisis pada psikolinguistik generasi keduakemudian diperbaharui oleh psikolinguistik generasi ketiga. G. Werstchdalam bukunya Two Problems for the New Psycholinguistics memberikarakteristik baru ilmu ini sebagai “psikolinguistik baru”. Beberapa ciripsiklonguistik generasi ketiga ini adalah :
a. Orientasi mereka kepada psikologi, tetapi bukan psikologi perilaku.Seperti yang diungkapkan Fresse dan Al Vallon (Prancis) dan psikolog Uni Soviet, telah terjadi proses serempak dari informasi psikologi dan linguistik.
b. Keterlepasan mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat”, dan lebih mengarah pada “psikolnguistik situasi dan konteks”.
c. Adanya pergeseran dari analisis proses ujaran yang abstrak ke satuanalisis psikologis mengenai komunikasi dan pikiran.
Sebetulnya, psikolinguistik di Rusia lebih dahulu berkembang dari pada di negara-negara Barat. Hal ini terjadi karena sejak awal psikolinguistik di Rusia telah memperhitungkan perilaku komunikasi dan perpikiran dalam analisis psikolinguistik.
2.6 Sejarah Lahirnya psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu, yaitu psikoogi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke-20 tatkalan psikolog Jerman Wilhem Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang "ilmiah".
Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap formatif, tahap linguistik, tahap kognitif, dan tahap teori psikolinguistik, realita, dan ilmu kognitif.
a. Tahap Formatif
Pertengahan abad kedua puluh John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas hibridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carrol, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini. Pertemuan itu dilanjutkan pada tahun 1953 di Universitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini. Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.
b. Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, Syntactic Structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap behavioristik B.F. Skinner telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini semakin berkembang karena pandangan Chomsky tentang universal bahasa, khususnya pertanyaan "mengapa anak di manapun juga memperoleh bahasa mereka dengan memakai strategi yang sama".
Kesamaan dalam strategi ini didukung juga oleh berkembangnya ilmu neurolinguistik dan biolinguistik. Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primata lain, baik dalam struktur maupun fungsinya. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Dari segi biologi manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang.
Keterkaitan neurobiologi mendukung pandangan Chomsky yang mengatakan bahsa pertumbuhan bahasa pada manusia terprogram secara genetik. Orang telah banyak melakukan penelitian dan mencoba mengajar binatang untuk berbahasa, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil. Ketidakberhasilan semua penelitian ini membuktikan bahsa pemerolehan bahasa adalah unik untuk manusia.
c. Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. pmerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif. Tatabahasa, misalnaya, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari kognisi manusia karena konstituen dalam suatu ujaran sebenarnya mencerminkan realita psikologi yang ada pada manusia tersebut.
Ujaran bukanlah suatu urutan bunyi yang linear tetapi urutan bunyi yang membentuk unit-unit konstituen yang hierarkis dan masing-masing unit ini adalah realita psikologis. Frasa orang tua itu, misalnya, membentuk suatu kesatuan psikologis yang tidak dapat dipisahkan. Frasa ini dapat diganti dengan hanya satu kata seperti Achmad atau dia.
Pada tahap ini orang juga mulai bicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan di mana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lennerberg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang manusia itu terkait secara genetik dengan pertumbuhan biologisnya.
d. Tahap Teori Psikolinguistik
Pada tahap akhir ini psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri atas psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.
Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki seperti sekarang ini, mustahil manusia dapat berbahasa. Ilmu filsafat juga kembali memegang peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sudah dari jaman purba menjadi perdebatan di antara para filosof, yaitu apa itu pengetahuan dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu milik khusus manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Psikolingusitik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Dardjowidjojo, Sunjono. 2003. Psiko-Linguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor.
Djumransjah. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Malang : Bayumedia Publishing.
Mar’at, Samsuniwiyati. 2005. Psikolingusitik Suatu Pengantar. Bandung : Refika Aditama.
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa.
Komentar
Posting Komentar